Opini

Kerja Senyap Komandan Aktivis

Sufmi Dasco Ahmad. (Foto: istimewa)

Penulis: Habiburokhman, (Anggota Dewan Penasehat Partai Gerindra)

Akuratnews.com - Masih soal dua pertemuan penting rekonsiliasi, yakni Pertemuan Prabowo - Jokowi di MRT dan pertemuan Prabowo - Megawati di Teuku Umar. Hal yang menarik untuk dikupas adalah fakta bahwa inisiator dua pertemuan tersebut ternyata bukan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap senior dalam politik melainkan justru dua orang yang selama ini kurang begitu disorot, mereka adalah Budi Gunawan dari kubu pemerintah dan Sufmi Dasco Ahmad dari kubu Prabowo.

Bang Hersubeno Arief sudah membahas sosok Budi Gunawan, kini kita bahas sosok Sufmi Dasco Ahmad atau yang akrab dipanggil Dasco.

Sebagai Waketum Gerindra dan sekaligus Ketua MKD DPR memang kapasitas Dasco tak perlu diragukan lagi. Di internal Gerindra dia dijuluki “ komadan”, itu karena beliau dianggap sebagai pimpinan para aktivis yang bergabung dengan Gerindra. Dasco sudah ikut Prabowo lewat organisasi silat Satria Muda Indonesia (SMI) sejak tahun 1990 dia juga ikut membidani lahirnya Gerindra karena itulah dia dipercaya oleh Prabowo sebagai jembatannya.

Di DPR dia luwes berinteraksi lintas partai dan memiliki jaringan politik yang luas sebut saja aktivis mulai Haris Moeti, Agus Jabo PRD , Ricky Tamba aktivis PII, HMI, GMNI, Zeng Wei Jian (Ken Ken) dari Hikmahbudhi hingga tokoh berpengaruh seperti LBP maupun Hendro Priyono cukup akrab dengannya. Namun Dasco memiliki “kekurangan” yaitu tidak suka dengan publikasi. Lima tahun menjabat di DPR, seluruh stasiun TV frustasi mengundangnya untuk hadir di acara talk show, karena hampir tidak pernah dia melayani permintaan tersebut, benar-benar gak doyan tampil.

Siapa nyana kekurangan Dasco yang tidak suka publikasi tersebut justru menjadi faktor penentu keberhasilan mewujudkan pertemuan rekonsiliasi. Selain menemukan isu yang menjadi titik temu dua kubu yang berseteru, tantangan terbesar merancang pertemuan rekonsiliasi adalah menghalau intrik dari pihak yang berkepentingan ingin terlihat berperan atau bahkan pihak yang ingin menggagalkan. Oleh karena itu kerja-kerja perumuan rekonsiliasi harus dilaksankan dalam senyap.

Pengalaman di masa lalu menunjukkan jika terlalu banyak publikasi justru rencana pertemuan rekoinsiliasi selalu gagal.

The right man, on the right place at the right time, Dasco memang sosok yang benar-benar pas untuk menjadi inisiator pertemuan rekonsiliasi. Tanpa publikasi sama sekali berbagai persiapan pertemuan rekonsiliasi digarap hingga matang. Tanpa harus menggadaikan idealisme perjuangan, dia cakap berkomunikasi dengan pihak pemerintah.

Hasil awal cukup menggembirakan, tokoh-tokoh ulama dan aktivis pendukung 02 yang sempat ditangkap atau sudah mendapat panggilan dari kepolisian satu persatu berhasil diselamatkan. Ratusan pendukung 02 yang tertanggap menjelang dan pasca aksi 21-22 Mei dibebaskan dengan jaminan dari Dasco. Rekonsiliasi memang terus berproses, tetapi paling tidak kedua belah pihak telah sepakat untuk sama sama mengedepankan kepentingan bangsa dan hal tersebut cukup signifikan mengurangi ketegangan.(*)

Penulis:

Baca Juga