Opini

Ketika Survei Litbang Kompas Mengalihkan Angsa Hitam

Denny JA

Opini, Akuratnews.com - Di sela- sela hari akhir masa kampanye 2019, ketika LSI Denny JA menyiapkan publikasi final soal partai politik, saya menerima esai Bambang Setiawan. Jika tak salah pengetahuan saya, Bambang Setiawan ikut bertanggung jawab atas sahih tidaknya survei Kompas yang kontroversial itu.

Ini adalah respon atas respon atas respon atas respon. Empat kali respon. Pertama, saya merespon tulisan Kompas melalui dua esai yang menyatakan Kompas salah menyimpulkan. Ini sepenuhnya respon dengan kaca mata statistik.

Lalu Bambang Setiawan merespon kembali menunjukkan kesimpulannya tak salah. Saya balas dengan respon ketiga, tetap menunjukkan kesalahan Kompas. Kali itu yang saya gunakan kaca mata filsafat ilmu.

Kini Bambang Setiawan kembali merespon atas respon atas respon atas respon saya. Judulnya: Dimanakah LSI Denny JA Menyembunyikan Tiga Angsa Hitamnya. Dari judulnya, jelas ia merespon esai saya sebelumnya: Bantahan Kompas, Filsafat Ilmu, dan Kisah Angsa Hitam.

Ketika membaca respon Bambang Setiawan, saya justru teringat tulisan soal topic shifting dalam Issuepedia.

Topic shifting itu satu strategi dalam komunikasi untuk menggeser atau mengalihkan topik bahasan. Mereka yang ahli dapat melakukannya secara halus. Publik awam tak merasa sebenarnya yang dibahas sudah berbeda.

Ini dilakukan dengan berbagai motiv. Kemungkinan pertama, pihak yang mengalihkan topik, merasakan bahasan awal tak bisa lagi dibela. Tak ada lagi argumen meyakinkan yang bisa ia pakai untuk menutupi kelemahan. Jika ia tak bereaksi, hanya diam saja, terlalu mudah publik melihat pihaknya memang salah.

Pilihan lebih baik, pihak ini tetap merespon tapi menggeser topik bahasan. Itu bisa dilakukan dengan cara sederhana. Daripada bertahan atas karyanya, lebih baik menyerang karya lawan diskusi.

Jika strategi ini berhasil, situasi dapat berubah. Pihak yang tadinya menyerang akan terdesak bertahan atas karyanya sendiri, dan tak lagi fokus menyerangnya.

Namun ini strategi buruk jika tujuannya adalah perdebatan akademik untuk mencari kebenaran. Strategi topic shifting ini lebih untuk kesan “siapa yang menang,” yang biasanya dilakukan bukan untuk tujuan akademik.

Yang dilakukan Bambang Setiawan dengan esai balasannya persis seperti yang dibahas di atas. Ia secara halus mengubah topik bahasan.”

Topik semula dalam perdebatan adalah kesalahan Kompas dalam menarik kesimpulan. Ia tak lagi melakukan pembelaan atas kritik itu. Tapi ia menggeser topik menjadi survei LSI Denny JA. Padahal topik semula soal survei Litbang Kompas.

Untuk menyegarkan ingatan, saya ulang dalam garis besar pokok bahasan review saya atas survei litbang Kompas.

Di bulan Maret 2019, Kompas membuat heboh dengan kesimpulan di halaman pertama. Dukungan Jokowi menurun. Jarak kemenangan Jokowi menyempit. Tak tanggung- tanggung, dukungan Jokowi disimpulakan di bawah angka psikologis 50 persen.

Segera survei Kompas menjadi percakapan luas. Jika pertahana Jokowi di bawah 50 persen, dan sedang merosot pula, ini pertanda Jokowi akan dikalahkan.

Saya tak menyalahkan Kompas yang tak peduli dengan efek politik surveinya. Saya hanya menunjukkan murni dari sisi keilmuan. Dengan data Kompas sendiri, dan melalui tertib berpikir statistik, Kompas salah membuat kesimpulan.

Mengapa salah? Karena dengan perhitungan margin of error, bisa jadi dengan data itu bisa dibaca sebaliknya. Dukungan Jokowi justru menaik! Dan selisih kemenangan Jokowi justru melebar!

Bambang Setiawan pun merespon. Ia tak menafikkan memang ada kemungkinan data Kompas dibaca seperti yang saya baca. Tapi kesimpulan saya itu hanya satu dari 16 kombinasi. Kesimpulan saya itu probabilitasnya hanya 1/16 atau kurang dari 7 persen.

Sementara 15/16 dari kombinasi menunjukkan hal yang lain. Secara probabilitas, sah Kompas menyimpulkan selisih kemenangan Jokowi merosot. Probabilitasnya lebih dari 90 persen.

Di sini lah hal ihwal munculnya kosa kata angsa hitam. Bagaimana kriteria ilmiah yang sah untuk menyatakan sebuah kesimpulan itu salah. Bagaimana membuat klaim yang ilmiah untuk menyatakan sebuah kesimpulan itu keliru?

Pada taraf ini, percakapan bukan lagi area statistik. Ia sudah masuk ke area filsafat ilmu.

Saya pun mengutip kisah angsa hitam dari Karl Popper. Ujar Karl Popper, tak peduli walau di dunia kita temukan hanya dua atau tiga angsa, dan semua berwarna putih, menyatakan angsa itu putih benar belaka. Ia benar sejauh belum ditemukan bukti sebaliknya, angsa berwarna lain.

Tapi tak peduli walau ditemukan satu milyar angsa putih, sekali ditemukan satu saja angsa hitam, pernyataan angsa itu putih salah. Kasus satu angsa hitam saja, yang secara probabilitas hanya 1 per satu milyar, hanya 0,0000001 persen, sudah sah secara ilmiah mengklaim pernyataan angsa itu putih adalah pernyataan yang salah!

Hal yang sama dengan Kompas. Probabiliti kesimpulan Kompas bahwa sebenarnya dukungan Jokowi menaik hanya 1/16. Probabiliti Jarak kemenangan Jokowi melebar hanya 1/16.

Tapi itu lah angsa hitamnya. Itulah bukti kesimpulan dukungan jokowi merosot itu kesimpulan yang salah. Itulah observasi yang membantah kesimpulan selisih kemenangan Jokowi menyempit itu kesimpulan yang salah.

Kesimpulan itu sendiri akan dikenang sebagai sebuah komedi dalam Pilpres 2019. Euforia politik yang timbul karena kesimpulan Kompas (Pertahana merosot di bawah 50 persen) ternyata semata berasal dari salah baca data.

Sungguh saya berharap Bambang Setiawan, jika hendak melanjutkan polemik, tunjukkan dimana salahnya kritik saya di atas.

Yang terjadi, Bambang Setiawan justru membawa topik yang berbeda. Ia mengalihkan isu. Kini angsa hitam ia alihkan kepada survei LSI Denny JA. Ia pun membahas survei LSI Denny JA.

Anak gaul dapat merespon: Common Bro, itu topik yang berbeda.

Demikianlah kiriman angsa hitam dari Bambang Setiawan sudah saya terima. Karena topiknya berbeda, angsa hitamnya saya lepas saja di langit bebas.

Penulis: Denny JA

Baca Juga