Ketua Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto: Lockdown Pilihan Pahit

Jumlah korban jiwa akibat virus Corona di Indonesia terus meningkat. Kini, tingkat kematian COVID-19 di Indonesia dua kali lipat ketimbang tingkat kematian rata-rata dunia. Kondisi ini harus dihentikan.

Jakarta, Akuratnews.com - Berdasarkan data yang diumumkan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, Kamis (18/3/2020), jumlah total positif COVID-19 di Indonesia adalah 309 kasus. Jumlah kematian kasus positif COVID-19 mencapai 25 orang.

Semakin bertambahnya jumlah masyarakat Indonesia yang meninggal dunia akibat pandemi virus Corona ini, membuat sejumlah pihak meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk menghentikan penyebaran COVID-19 yang semakin masif tersebut.

Menurut Ketua Presidium Persatuan Pergerakan Andrianto, seharusnya Pandemi corona ini harus dimaknai sebagai bencana nasional dan jangan dipahami sebagai penyakit atau virus semata, karena dampak turunannya menyentuh semua aspek.

"Utamanya aspek ekonomi. Biangnya terjadi di negeri China yang notabane kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia." ujar Andrianto kepada Akuratnews, Kamis (19/3/2020).

Menurut Andrianto, Indonesia masih berketergantungan terhadap China yang memiliki banyak pelabuhan terbesar dan menjadi negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Sehingga ketika wabah corona menghantam, pemerintah bingung dibuatnya.

"8 dari 10 pelabuhan terbesar di dunia ada di China. Belum lagi ketergantungan kita sama China. Semua mata memandang China negara yang jadi beyond kita. Sehingga wajar kita jadi serba gagap menghadapinya." pungkas Andrianto.

Masih menurut Andrianto, pemerintah cendrung telat dan tidak komprehensif dalam penanganan COVID-19. Seharusnya Wapres Ma'ruf Amin juga turun tangan mengatasi pandemi ini.

"Sehingga kita jadi negeri teratas yang prosentasi kematian tertinggi. Ini tidak cukup ditangani sekelas Kepala BNPB. Mestinya Wapres jug turun tangan karena beliau bisa melakukan koordinasi antar departemen dan juga daerah." lanjut Andrianto.

Andrianto berkeyakinan, jika penanganan COVID-19 masih seperti ini, saat puncaknya nanti sekitar sebulan ke depan, akan menjadi malapetaka besar.

"Never too late. Segera dahulukan nyawa rakyat ketimbang kepentingan Ekonomi mesti dari negeri patron China. Lockdwon lah pilihan pahit. Seperti jamu pahit di awal tapi tuntas di akhir." tutup Andrianto.

Penulis: Alamsyah

Baca Juga