Pasar Uang

Khawatir Perang Dagang Baru, Dolar Melemah

Akuratnews.com - Dalam perdagangan mata uang, Dolar AS mengalami koreksi setelah risalah pertemuan FOMC diungkapkan. Sebagaimana diperkirakan sebelumnya, bahwa pertemuan pejabat Bank Sentral AS tersebut kembali menegaskan sikap lunak mereka yang tidak akan menaikkan suku bunga kembali di tahun ini. Selain itu suku bunga juga tetap dipertahankan sebagaimana saat ini sebesar 2,25 – 2,5%. Indeks dolar AS, turun 0,11% menjadi 96,515.

Sinyalemen adanya goyangan ekonomi global telah menimbulkan kecemasan di antara para anggota Federal Reserve. Risalah dari rapat kebijakan bank sentral AS terbaru itu juga menunjukkan para pembuat kebijakan menyatakan kesediaan mereka untuk menjaga suku bunga lebih rendah dalam waktu yang lebih lama.

Melemahnya Dolar AS tidak disia-siakan sejumlah mata uang besar lawan-lawannya. Euro yang sempat jatuh diawal perdagangan, setelah risalah pertemuan Bank Sentral Eropa juga dibicarakan oleh Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi. Dikatakan bahwa Bank Sentral Eropa menitik beratkan risiko yang dihadapi ekonomi zona euro. Oleh sebab itu, Draghi menyatakan perlunya memperkuat perekonomian regional dengan kemungkinan stimulus lebih lanjut untuk mencegah kawasan tergelincir ke dalam resesi.

Euro kembali bangkit setelah risalah dari pertemuan di bulan Maret oleh Komisi Pasar Bebas Federal (FOMC) menunjukkan mayoritas pembuat kebijakan memperkirakan bank sentral akan tetap mengambil nada jeda selama sisa tahun ini. Upaya pemulihan EURUSD masih memiliki kans untuk berlanjut namun dengan syarat harus dapat menembus dengan kuat zona resistensi 1.1285-1.1300 yang sejak Selasa terus menahannya.

Penguatam Euro atas Dolar AS memberikan inspirasi pergerakan GBPUSD. Pasangan mata ung ini naik 0,40% ke $ 1,3113. Tersiar kabar PM. Inggris Theresa May mengisyaratkan bersedia menerima tawaran potensial UE untuk penundaan Brexit yang lebih lama. Di sisi lain rilis data manufaktur Inggris yang mengalami kenaikan turut mendukung penguatan Poundsterling.

Aussie sendiri naik ke level tertinggi sejak akhir Februari di 0,7175 yang tengah berjuang untuk kenaikan yang lebih tinggi karena Dolar AS telah mengambil keuntungan dari risalah FOMC. Hal ini terasa mulai membebani pasangan AUDUSD. Sementara rilis data Australia yang menunjukkan bahwa Tingkat Keyakinan Konsumen Westpac di bulan April meningkat menjadi 1,9% dari -4,8% di bulan Maret. Data ini membantu Aussie menemukan permintaannya kembali.

Yen Jepang mempertahankan sebagian besar kenaikannya ditengah sikap kehati-hatian investor dalam merespon ketegangan baru perdagangan global disaat IMF menurunkan prospek ekonomi globalnya. Sentimen yang lebih luas di pasar tetap tenang walaupun ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa menambah potensi konflik global. Pasar masih menantikan hasil negosiasi China-AS. Dolar tidak berubah di 111,17 yen, memangkas sedikit kerugian sebelumnya, jatuh dari 111,82 yen pada akhir pekan lalu.(HQM)

Penulis: Lukman Haqeem

Baca Juga