Gerakan Pita Kuning

KMN dan Komnas HAM Sepakat Usut Tuntas Korban Tewas 21-22 Mei

'Gerakan Pita Kuning' Kolaborasi Milenial Nusantara (KMN) saat berdialog bersama Komnas HAM dan tokoh-tokoh HAM. (Foto: Dok. Akuratnews.com).

Jakarta, Akuratnews.com - Peristiwa kelamnya politik dalam aksi 21-22 Mei yang menewaskan sedikitnya 10 orang hingga saat ini masih belum terungkap. Terkait dengan hal itu, 'Gerakan Pita Kuning' Kolaborasi Milenial Nusantara (KMN) terus mendorong pengusutan tuntas atas peristiwa tersebut dengan berdialog langsung bersama Tokoh-tokoh HAM.

Beberapa tokoh HAM yang berdialog langsung dengan Gerakan Pita Kuning Kolaborasi Milenial Nusantara, diantaranya Marzuki Darusman dan Makarim Wibisono, didampingi oleh Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik bersama dengan Komisioner lainnya seperti Amiruddin dan Beka Ulung Hapsara.

Dialog misteri wafatnya 10 orang dalam Aksi Kedaulatan Rakyat 21-23 Mei, berlangsung di Kantor Komnas HAM.

"Kehadiran kami untuk melakukan dialog sangat diapresiasi oleh Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dan Tokoh HAM Marzuki Darusman. Disebutkan oleh keduanya, dialog hari ini dapat memperkuat dukungan kepada Komnas HAM untuk melakukan investigasi hingga tuntas, apalagi dukungan muncul dari kalangan milenial. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang masih memiliki nurani untuk menyuarakannya." Kata Wenry Anshory Putra, Inisiator "Gerakan Pita Kuning" Kolaborasi Milenial Nusantara (KMN) dalam keterangan pers yang diterima Akuratnews.com, Jumat malam, (12/7/2019).

Menurut Wenry, dihadapan para tokoh HAM tersebut, pihaknya mendorong agar tim independen Komnas HAM yang juga melibatkan tokoh HAM Marzuki Darusman dan Makarim Wibisono, benar-benar mampu melakukan investigasi yang maksimal terkait dugaan pelanggaran HAM yang terjadi.

"Apalagi dalam dialog tersebut Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyebut bahwa Komnas HAM adalah pihak yang pertama kali menyebut adanya peluru tajam. Menurutnya ada 8 orang yang wafat terkena peluru tajam, namun dari delapan orang yang wafat tersebut hanya 2 yang ditemukan peluru tajamnya, dan 1 orang karena kekerasan." Ungkap Wenry.

Selain itu, kata Wenry, tidak boleh ada diskriminasi dalam memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan, karena 10 orang yang wafat adalah warga negara Indonesia.

"Dalam dialog tersebut kami juga bersama-sama sepaham, bahwa para korban yang wafat tersebut jangan menggunakan terminologi sebagai perusuh. Bahkan, Marzuki Darusman menyebut 10 orang yang wafat "bukan tidak berwajah", maka harus ada penyelidikan lebih lanjut." Tutur Wenry.

Menurut dia, dalam kesempatan itu pihaknya mengingatkan kembali bahwa tujuan Negara Republik Indonesia yang tercantum di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke-4 adalah Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

"Kita tidak boleh melupakan sila kedua Pancasila 'Kemanusiaan yang adil dan beradab' dan sila kelima Pancasila 'Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, karena Pancasila adalah dasar negara dan pedoman kehidupan berbangsa bernegara." Tandasnya.**

Penulis:

Baca Juga