Suara Komponen Bangsa

Komnas HAM Didesak Nyatakan Tragedi Kemanusiaan 21-22 Mei Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Aksi 21-22 Mei 2019. (Foto Net/Ilsutrasi).

Jakarta, Akuratnews.com - 10 Tokoh Aktivis yang tergabung dalam Suara Komponen Bangsa mendesak Komnas HAM RI untuk menyatakan tragedi kemanusiaan 21-22 Mei 2019 yang menewaskan sedikitnya 8 orang dengan ratusan lainnya luka-luka itu sebagai peristiwa 'Kejahatan Kemanusiaan'.

10 Tokoh Aktivis itu adalah Ubedilah Badrun, Edysa Girsang, Bungas T. Fernando Duling, Leonard Eko Wahyu, Henry Basel, Lutfi Nasution, Lili Erawati, Akbar Firdaus, R. dr. Indra P dan Jaya Safitri.

Dalam keterangan pers-nya,  Suara Komponen Bangsa mendesak Komisi Nasional Hak Asasi manusia (Komnas HAM), pihak-pihak terkait untuk segera menuntaskan tragedi kemanusiaan yang terjadi selama aksi 21-22 Mei 2019.

Dalam aksi itu, selain penggunaan peluru tajam dan aksi kekerasan yang diduga dilakukan aparat maupun aksi kekerasan lainnya, juga terdapat permasalahan seperti dugaan adanya puluhan orang hilang, meninggal dunia atau ditangkap tanpa diketahui pihak keluarga. Maka dengan kesimpangsiuran yang hingga kini belum terungkap, Suara Komponen Bangsa mendesak permasalahan ini segera dituntaskan.

"Sehubungan dengan keprihatinan kami dari Suara Komponen Bangsa terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Jakarta pada 21-22 Mei 2019 yang lalu, kami Suara Komponen Bangsa menyampaikan beberapa hal penting kepada Komnas HAM RI," Ujar Suara Komponen Bangsa dalam rilis yang diterima redaksi Akuratnews.com, Rabu (19/6/2019).

Beberapa poin yang disampaikan Suara Komponen Bangsa kepada Komnas HAM RI adalah, sebagai berikut :

1. Mengutuk keras peristiwa 21-22 Mei 2019 yang menelan korban jiwa bahkan diantaranya anak-anak di bawah umur.

2. Mengapresiasi Komnas HAM RI yang sudah melakukan tahapan awal untuk mengungkap peristiwa tragedi kemanusiaan pada tanggal 21-22 Mei 2019 di Jakarta.

3. Meminta Komnas HAM RI untuk secara serius menuntaskan pengungkapan kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 tersebut secara detail dan terbuka, termasuk mengungkap kesalahan prosedur operasional kepolisian dan mengungkap siapa sesungguhnya aktor dibalik tragedi kemanusiaan tersebut.

4. Meminta kepada Komnas HAM RI untuk melakukan pendampingan keluarga korban yang tertembak peluru tajam karena ada semacam tekanan psikologis dari pihak aparat keamanan yang dialami keluarga korban untuk tidak banyak bicara didepan umum, dst.

5. Mendesak kepada Komnas HAM untuk menyatakan bahwa peristiwa 21-22 Mei 2019 adalah Kejahatan Kemanusiaan.

6. Mendorong kepada seluruh komponen bangsa untuk berperan aktif dalam memberikan informasi dan data korban jiwa, material maupun imaterial dari kejahatan kemanusiaan tersebut.

Penulis: Hugeng Widodo
Editor: Redaksi

Baca Juga