Komnas PA Sambut Gembira Penolakan Praperadilan JE

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, saat memberikan keterangan, usai sidang Praperadilan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (24/1/22)

AKURATNEWS - Hasil sidang Putusan permohonan Praperadilan yang dilayangkan oleh JE (pemohon) terhadap Kapolda Jatim (termohon), atas penetapan tersangka dalam kasus dugaan pencabulan pada beberapa siswi di sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), disambut gembira oleh Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

Raut wajah pria yang akrab disapa Bang Arist ini terlihat bahagia usai mendengar putusan penolakan praperadilan yang dibacakan oleh Hakim Tunggal, Martin Ginting, di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya.

BACA JUGA : Kuasa Hukum JE Sebut Penolakan Praperadilan Bukan Karena Penetapan Tersangka 

Dalam keterangannya, Arist mengatakan apa yang menjadi keputusan hakim pada hari ini, merupakan hadiah bagi seluruh anak-anak Indonesia.

“Putusan hari ini merupakan hadiah bagi anak-anak Indonesia. Mereka tidak perlu lagi takut untuk melaporkan predator anak ke Polisi,” katanya usai sidang, Senin (24/1/22).

“Kami berharap agar kedepannya hakim selalu menolak preperadilan para pelaku pelecehan seksual kepada anak,” imbuhnya.

Perlu diketahui, Dalam sidang praperadilan itu, Hakim tunggal, Martin Ginting mengungkapkan, penolakan permohonan tersebut dipertimbangkan berdasarkan keterangan saksi-saksi yang diajukan baik dari pihak pemohon maupun pihak Polda Jatim (termohon), serta fakta persidangan. Maka Ia pun memutuskan bahwa permohonan dari pihak JE ditolak sepenuhnya.

"Mengadili, menyatakan permohonan praperadilan tidak dapat diterima. Kemudian, pemohon diminta mengganti biaya perkara persidangan," ujar Martin di Ruang Cakra PN Surabaya, Senin (24/1/2022).

Pada amar putusannya, Martin juga menyatakan praperadilan ini seharusnya melibatkan pihak Kejaksaan Tinggi Jatim. Pasalnya, pihak Kejati yang bertanggung jawab atas prapentututan dan kelengkapan alat bukti kasus. Dalam hal ini, perkara dugaan pemerkosaan oleh JE terhadap siswi-siswinya masih dikembalikan oleh jaksa ke penyidik Polda Jatim karena bukti yang kurang lengkap.

"Pengadilan berpendapat, pihak Kejati harus dilibatkan dalam perkara ini untuk menjelaskan perkara ini," terang Hakim asal Sumatera Utara tersebut.

"Kejati Jatim mengembalikan perkara 2 kali karena belum terpenuhinya alat bukti. Penyidikan terhadap tersangka termohon tidak disertai bukti yang cukup," kata Ginting mengutip dalil yang diajukan oleh pihak JE.

Penulis:

Baca Juga