Kondusifitas Tanah Abang Diuji

Lokasi lahan yang disengketakan, yang saat ini diketahui sebagai lahan PT KAI, yang telah dilarang untuk dilakukan aktifitas. Namun, dari spanduk yang terpasang, ada rencana aktifitas perdagangan yang akan dilakukan di lahan tersebut. (Foto redaksi)

Jakarta, Akuratnews.com – Siapa tak kenal Tanah Abang ? Suatu tempat di sudut Jakarta yang terkenal hingga ke ranah mancanegara. Saat Tanah Abang sedang relaksasi mengubah wajah central bisnis pertekstilan di Jakarta, yang selama ini dikenal dengan aksi-aksi premanisme, menjadi wilayah yang kondusif, kini Tanah Abang kembali diuji dengan aksi-aksi yang mengarah pada premanisme. Salah satu lahan yang dahulu pernah digunakan sebagai Pasar Tasik, kini ada upaya-upaya yang dinilai sepihak melakukan aktifitas di lahan tersebut.

Aliansi Masyarakat Tanah Abang (AMTA) merasa aksi tersebut akan menimbulkan gesekkan yang mengarah kepada tindakan-tindakan anarkis di lahan yang diketahui dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia sebagai perusahaan plat merah. Kepada media, Perwakilan AMTA Wahyudi menceritakan, bongkaran eks Pasar Tasik sekarang tanah itu sudah dikosongkan, karena PT KAI tidak menginginkan ada aktifitas di sana. Namun, seiring berjalannya waktu, ada penguasaan lahan yang mengatasnamakan ahli waris, padahal orang tersebut sudah di BAP, di Polsek dengan alasan tidak menurunkan orang-orang yang ada di sana (Lokasi Bongakaran-red).

“Berjalannya waktu masuk lagi dengan mengatasnamakan orang yang sama. Jadi aktivitas mereka menimbulkan keresahan di masyarakat sendiri. Jadi sampai saat inipun  PT KAI belum ada tindakan padahal sudah ada penngerusakan dan penyerobotan lahan. Waktu penyerobotan pertama memang sudah ditemui oleh pihak PT KAI dan sudah diinformasikan tidak boleh ada aktivitas di sana,” terang Wahyudi, Senin (20/7).

“Terkait BAP, pihak kepolisian menunggu laporan dari pihak PT KAI sebagai pemilik lahan,” tambahnya.

AMTA menilai, sebagai pemilik (PT KAI) seharusnya lebih tegas dengan aturan yang ditetapkan. Saat Pasar Tasik dibubarkan di lahan tersebut dengan alasan tidak boleh aktifitas, sekarang justru ada pihak luar yang ingin melakukan aktifitas di lahan tersebut, bahkan diketahui dengan cara-cara premanisme.

“Jadi warga setempat tidak menghendaki premanisme di Tanah Abang. Karena Tanah Abang sudah kondusif dan warga di Tanah Abang tidak mau lagi ada preman-preman apapun, apalagi menyangkut lahan. Jadi mungkin ini juga bisa menimbulkan gesekkan-gesekkan baru dan menimbulkan keresahan baru karena Tanah Abang sendiri sangat sensitive. Kami tidak menginginkan ada orang luar yang mengacau tanah abang yang sudah mulai kondusif,” terang Wahyudi.

“Dari tingkat kriminalitas Tanah Abang sudah sangat menurun. Ini malah ada pihak luar yang menginginkan lahan tersebut. Sepihak, tanpa ada koordinasi dengan pihak PT KAI. Kami dari Aliansi Masyarakat Tanah Abang sendiri mengalah waktu itu, karena kami tidak menginginkan adanya keributan, sehingga kami pindah, dengan catatan tidak ada aktivitas di sana,” tegasnya.

Lahan PT KAI yang diklaim Tanah ahli waris, menurut informasi yang didapat merupakan peninggalan dari Ahli Waris Datuk Marajo. Pihak PT KAI pun sudah membuka ruang kepada pihak yang mengakui untuk menunjukkan bukti-bukti yang kuat di pengadilan. Lahan Bongkarang sendiri berada di Jalan Jembatan Tinggi, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Hingga berita ini diturunkan, ketegangan memang tidak terlalu terlihat di wilayah ini. Namun siapa yang dapat memastikan, chaos akibat lahan bongkaran ini akan terjadi sewaktu-waktu. AMTA berharap, PT KAI dapat segera mengeluarkan maklumatnya, terkait dengan aktifitas lahan yang informasinya akan digunakan sebagai Pasar Senin Kamis, yang sebelumnya dikatakan tidak diperbolehkan ada aktifitas apapun di lahan Bongkaran milik PT KAI. Dalam hal ini AMTA telah melakukan berbagai koordinasi melalui surat baik kepada pihak PT KAI, Pemprov DKI, hingga Kepolisian setempat.

Penulis:
Editor:Redaksi

Baca Juga