Konsultasi Publik BPOM Seakan Tertutup, Mengapa?

AKURATNEWS - Walaupun bersifat konsultasi publik, namun pertemuan yang digagas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait rancangan peraturan BPOM tentang perubahan kedua atas peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang label pangan olahan, dilakukan secara tertutup.

Menjadi pertanyaan besar, hal ini dibuktikan seperti tidak nyamannya pemangku kepentingan tersebut saat bertemu dengan para awak media saat menggelar pertemuan di Hotel Sahid Sudirman, Jakarta pada Senin, 29 November 2021.

"Acara ini tidak mengundang media, kalau kami dari rundown panitianya tidak ada doorstop juga, kalau bapak-bapak mau doorstop sendiri silahkan" ungkap salah seorang panitia pelaksana kepada wartawan.

Bahkan, saat terlihat Deputi III BPOM, Rita Endang keluar dengan menggunakan Kemeja lengan panjang Ungu, Celana panjang Hitam dan Tas Coklat yang didampingi salah seorang staffnya, awak media mencoba meminta keterangan dari yang bersangkutan mengenai acara tersebut. Namun justru bukan jawaban klarifikasi acara yang diterima.

"Saya lapar mau makan siang dulu" jawab Rita singkat sambil melewati wartawan.

Kemudian saat selesai makan siang, Rita masih enggan dan terkesan menghindar dari awak media saat keluar dari ruang makan dengan didampingi sejumlah security dan staffnya.

"Ibu masih ada agenda lain pak" ucap salah seorang staff sambil memasuki lift dan bergegas turun.

Rencana pelabelan pangan olahan yang seakan mendiskreditkan satu produk, tentu saja membuat banyak pihak bertanya-tanya, bagaimana kebijakan ini bisa direalisasikan nantinya.

Sejumlah pakar sejatinya telah mencoba memberikan masukkanagar pelabelan kemasan air minum dalam kemasan (AMDK) itu tidak hanya diberlakukan kepada satu produk pangan saja, tapi untuk semua produk pangan.

“BPOM harus fair juga terkait pelabelan itu, karena makanan dan minuman kan tidak cuma galon. Ini ada aturannya BPOM-nya yang menyebutkan bahwa jaminan keamanan pangan itu dilakukan pada semua produk pangan,” terang pakar Kimia IPB, Ahmad Zainal dalam sebuah kesempatan saat dihubungi.

Menurut Zainal, pelabelan itu secara scientific sebenarnya tidak perlu dilakukan karena sudah ada jaminan dari BPOM dan Kemenperin bahwa produk-produk air kemasan galon aman untuk digunakan. Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan BPOM sudah terbukti bahwa migrasi BPA dalam galon itu masih dalam batas aman atau jauh di bawah ambang batas aman yang sudah ditetapkan BPOM.

Sejumlah kalangan menilai, jika pembahasan yang dilakukan oleh BPOM dengan mengusung tema konsultasi publik, namun bersifat tertutup, akan menjadi bola panas saat keputusan ini diketuk palu.

Hingga berita ini diturunkan, keterangan terkait konsultasi publik belum ada informasi terperinci apa sebenarnya yang dibahas dalam pertemuan konsultasi publik kali ini.

Penulis:

Baca Juga