Korban Kerusuhan Aksi 22 Mei di Bawaslu Mencapai Tiga Orang Tewas

Jakarta, Akuratnews.com - Korban kerusuhan aksi unjuk rasa di Bawaslu mencapai tiga orang tewas, 187 orang luka-luka dirawat di tiga rumah sakit.

Hingga Rabu (22/5/2019) pukul 19.25 WIB, sebanyak 146 korban aksi unjuk rasa dirawat di RS Tarakan Jakarta, dua di antaranya tewas.

Mobil ambulans yang membawa korban aksi unjuk rasa di Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin kembali berdatangan ke Rumah Sakit Tarakan, Jakarta.

Tiga ambulans tiba dengan membawa korban kerusuhan yang terjadi pada Rabu (22/5/2019) malam.

Pantauan Akuratnews.com, ambulans tiba di RSUD Tarakan pada pukul 18.48 WIB. "Sesak nafas kena gas air mata," ujar Deri salah satu petugas ACT saat datang di RSUD Tarakan, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Terlihat ada tiga ambulans dari Palang Merah Indonesia, Pertamina, dan ACT. Korban langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Tarakan.

Para korban pun diturunkan dari ranjang ambulans tampak dalam kondisi sadar saat dibawa ke UGD. Hanya saja terlihat raut kesakitan di wajah mereka.

Menurut data RS Tarakan hingga pukul 19.25 WIB, terdapat 146 korban yang datang. Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan jumlah korban meninggal yakni dua orang.

Sementara itu Direktur Medic dan Keperawatan RSCM, dr. Sumaryono angkat bicara mengenai korban akibat kericuhan aksi massa di Gedung Bawaslu, Rabu (22/5) pagi.

"Hingga sore ini, korban yang datang ke RSCM ada sepuluh orang sejak sore kemarin," terang Sumaryono dalam konferensi persnya di RSCM, Jakarta Timur, Rabu (22/5).

Dijelaskannya, dari sepuluh orang tersebut, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan. Rentang usia mereka antara 17-54 tahun.

Menurut Sumaryono, enam orang telah diperbolehkan pulang. Sementara tiga orang masih dalam perawatan, dan satu orang meninggal dunia.

"Ada lima orang yang berasal dari Jakarta, sisanya dari daerah. Cikarang, Garut, dan Malang," ungkap dia.

Sumaryono menuturkan, semua data hasil pemeriksaan sudah diberikan kepada pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta. Dikatakannya, untuk urusan sistem penangan urusan ini semuanya satu pintu.

Oleh sebab itu, pihak RSCM enggan memberikan penjelasannya secara detail. Sumaryono hanya menegaskan, korban berada dalam penanganan RSCM dilatarbelakngi karen kasus medical dan trauma.

Maksudnya, untuk korban kasus medical, mereka tidak ada hubungannya dengan kasus kekerasan. Semuanya murni karena kesehatan.

"Bisa saja hanya kelelahan, atau memang sedang kambuh ketika aksi massa," ungkap dia.

Korban kasus medical, lanjutnya berjumlah dua orang. Sementara delapan orang lainnya disebabkan karena adanya trauma.

Trauma yang dimaksudkan oleh Sumaryono misalnya adanya kekerasan terjadi seperti terpukul benda tumpul, benturan, terjatuh karena saling dorong, dan sebagainya.

"Itu delapan orang, salah satunya yang meninggal dunia," kata dia.

Namun, ditegaskannya, korban meninggal itu merupakan korban yang sebelumnya berada di RS Budi Kemuliaan dan meninggal di tempat itu.

Korban meninggal tersebut bernama Farhan Syahfero. Farhan merupakan korban meninggal ketika kerusuhan terjadi di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Ya jadi kasus yang meninggal dibawa kesini itu untuk tata laksana atau pemeriksaan jenazah," papar dia.

Pemeriksaan jenazah tersebut telah dilakukan, namun dirinya masih belum bisa menjabarkan hasil karena pihaknya masih pelu berkoordinasi dengan dinkes dan pihak kepolisian.

Jika koordinasi telah dilakukan, maka semuanya akan selesai. Salah satu visum yang ada.

Sebelumnya, Direktur pelayanan medis RS Budi Kemuliaan, Muhammad Rifki mengatakan, terdapat 32 korban demonstrasi yang dirawat di sana.

Dari jumlah tersebut, satu korban meninggal atas nama Farhat Syafero asal Grogol kota Depok, Jawa Barat. 25 orang sudah dipulangkan, sementara sisanya masih dirawat. Korban meninggal, lanjut Rifki, akan diperiksa lebih lanjut di RSCM.

Penulis: Eko

Baca Juga