Kota Depok Diklaim Belum Pantas Raih KLA Nindya

Warga Depok yang anaknya kesulitan bisa bersekolah saat ingin temui Wali Kota Depok Mohammad Idris di Balai Kota Depok
Warga Depok yang anaknya kesulitan bisa bersekolah saat ingin temui Wali Kota Depok Mohammad Idris di Balai Kota Depok

AKURATNEWS.COM- Predikat Kota Layak Anak (KLA) ke-4 yang disematkan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia untuk Kota Depok justru mendapat klaim  sebaliknya dari sejumlah warganya.

Penghargaan dianggap masih belum pantas disandang Kota Depok lantaran masih ada anak yang hingga kini alami kesulitan beesekolah.

"Saya rasa belum layak karena masih terdapat bahkan justru banyak anak-anak kurang mampu kesulitan bisa bersekolah", kata warga Tugu, Cimanggis Depok, Masaron, Sabtu, (31/7)

Menurut Masaron, harusnya yang utama bisa bersekolah itu dari golongan anak yang tidak mampu. Bukan justru dari anak yang orangtua tergolong mampu.

Dia menuturkan, hingga sekarang nasib anaknya untuk bisa bersekolah masih belum jelas meski telah menempuh sejumlah cara agar sang buah hatinya bisa bersekolah.

"Saya sudah coba mendaftarkan sekolah anak saya melalui online di SMA baik melalui SKTM, jalur zonasi namun tidak diterima. Sedang, hanya ada satu sekolah SMA Negeri di wilayah Kecamatan saya", ujar Masaron.

Ungkapan senada, warga Depok lainya Nurma mengatakan jika penghargaan KLA masih tidak layak diraih Kota Depok lantaran masih ada anak yang kesulitan bersekolah.

"Sepengetahuan saya masih ada tiga anak yang juga masih belum bisa bersekolah. Mungkin di luar sana masih banyak lagi", kata warga Baktijaya, Sukmajaya Depok.

Nurma merasa sangat prihatin atas kesulitan yang dialami anaknya untuk bisa bersekolah. "Sangat prihatin sekali ini terjadi pada anak saya sendiri", tutur Nurma.

Dia mengaku sampai sekarang masih alami kesulitan untuk anaknya bisa bersekolah di SMA meski sudah berupaya ikuti jalur PPDB.

"Anak saya di PPDB sudah mengikuti semua jalur. Baik jalur afirmasi dan jalur Zonasi. Padahal, kami juga memiliki kartu KIS, PBI APBD", akunya.

Karena kami tidak termasuk data DTKS, lanjut Nurma, jalur afirmasi mengikuti jalur afirmasi prestasi nilai dan terpental. Begitu juga jalur zonasi.

Sementara, masih kata Nurma, untuk masuk SMA swasta dirinya tidak sanggup karena faktor biaya. "Suami hanya sebagai tukang ojek. Lalu kami harus bagaimana. Sedangkan anak saya pingin sekali bisa bersekolah Di SMA Negeri" keluhnya.

Terpisah, koordinator anak terancam tak bersekolah, Roy Pangharapan berikan penilaian sama.

Menurutnya, dalam konteks pembelaan anak tingkat SMA, Pemkot Depok kurang layak mendapatkan penghargaan tersebut.

"Sejauh ini kami menerima laporan sebanyak 30 anak yang kesulitan bersekolah untuk jenjang SMP dan SMA. Hingga kini masih ada empat anak yang nasibnya masih belum jelas apakah bisa bersekolah", terang Roy.

Dirinya mengaku jika sebelumnya bersama para orangtua siswa pernah ingin bertemu dan beraudenai dengan Wali Kota Depok meski yang didapat adalah penolakan.

"Saat itu kami hanya ditemui ajudan pak Wali Kota yang meminta kami untuk bertemu Kadisdik Depok"; pukas Roy.

Sebelumnya, usai meraih penghargaan KLA kategori Nindya, Wali Kota Depok Mohammad Idris mengatakan Kota Depok ke depan dapat terus berkembang sebagai Kota KLA baik pada sisi program, perhatian kepada anak, maupun dukungan infrastruktur untuk anak.

"Infrastruktur yang mendukung kegiatan anak-anak akan terus kita tingkatkan termasuk mereka yang disabilitas,” kata Idris kepada wartawan Kamis, (27/7) lalu.

Untuk diketahui, Kota Depok menyandangkan KLA sebanyak tiga kali, sejak tahun 2017, 2018 dan 2019. Dengan begitu, Kota Depok sejauh ini masih tercatat sebagai salah satu kota dengan penghargaan KLA sebanyak empat kali tanpa jeda.

Penulis:

Baca Juga