Catatan Perjalanan Denny JA

Kota Suci Awal Islam, Mekkah Atau Petra?

Akuratnews.com - Mekkah atau Petra? Dimana sebenarnya awal kelahiran Islam? Benarkah data sejarah, yang dikuatkan oleh temuan arkeologi, menyimpulkan awal kelahiran Islam sebenarnya di Petra?

Teknologi tinggi seperti satelit dan GPS membawa efek yang lebih besar dibandingkan yang kita duga. Ia tak hanya menjadi fasilitas masa kini dan masa depan memudahkan kita membuat peta dan menjadi pedoman arah. Ia juga dapat menemukan masa silam yang mengejutkan.

Sebuah studi salah satunya menggunakan satelit dan GPS membantu menemukan dan memetakan sekitar 63 mesjid yang berdiri di era 250 tahun pertama Islam (622- 877). Lokasi mesjid menyebar mulai dari Saudi Arabia hingga ke Cina. Aneka mesjid itu memencar mulai dari Jordania, Irak, Yaman, Suriah, Mesir hingga India.

Seratus tahun pertama berdirinya Islam, aneka mesjid itu, mempunya arah kiblat yang sama. Ketika mesjid itu dipetakan, ia mengarah ke satu kota. Dan kota itu ternyata bukan Mekkah, bukan Jerusalem. Kota itu adalah Petra di Jordania!

Namun mesjid yang dibangun setelah seratus tahun pertama berdirinya Islam, jauh lebih banyak kiblatnya ke Mekkah. Terjadi perubahan kiblat setelah seratus tahun Islam menyebar: dari Petra ke Mekkah.

Temuan itu, ditambah bukti arkeologis dan dokumen sejarah lainnya, melahirkan sebuah hipotesis, bahkan klaim. Bahwa awal kelahiran Islam itu bukan di Mekkah tapi di Petra.

Sekelompok scholar dan akademisi berada di belakang gerakan itu. Naman gerakannya: Revisionist School of Islamic Studies. Gerakan ini mulai menjamur sejak tahun 1970an. Berbeda dengan sebelumnya, gerakan ini lebih banyak meneliti awal kelahiran Islam dengan menggunakan bukti di luar kitab suci.

Khusus untuk isu Petra sebagai awal kelahiran Islam, bukan Mekkah, tokoh yang sangat menonjol adalah Dan Gibson. Ia melakukan riset sepanjang tiga puluh tahun. Hasil riset itu sudah ia abadikan dalam tiga buku: The Nabatians (2004), Quranic Geography (2011), dan Early Islamic Qiblas (2017).

Dan Gibson juga sudah membuat film dokumenter berjudul The Sacred City (2017). Ia juga membuat enam seri video untuk menjawab kritik. Aneka video tersebut bisa kita tonton di Youtube.

Ada empat argumen yang diberikan Dan Gibson. Aneka argumen itu berlandaskan bukti dokumen sejarah dan temuan arkeologis bawah awal kelahiran Islam di Petra, bukan Mekkah.

Yang paling baru adalah data arah kiblat mesjid di aneka wilayah dunia yang berdiri seratus tahun pertama datangnya Islam. Semua kiblat mesjid itu mengarah ke Petra, bukan Mekkah.

Juga dokumen dari biografi paling awal soal Nabi Muhammad yang ditulis Ibnu Hisyam. Termasuk juga beberapa sumber dari Hadiz Imam Bukhari. Dokumen itu menjelaskan bagaimana suasana tempat Nabi Muhammad lahir.

Dijelaskan di sana, tempat kelahiran Muhammad tersedia lembah, air yang mengalir, dan berbagai tumbuhan dan buah-buahan. Studi arkeologi dan kadar tanah dilakukan di Mekkah. Tak ada jejak di Mekkah yang tandus, yang bisa menumbukan tanaman dan buah. Itu berbeda dengan Petra yang subur.

Hingga abad ke-8, nama Mekkah tak dikenal. Ia tak ada dalam peta zaman itu. Ia juga tidak masuk dalam lintasan karavan. Kondisi itu tak sesuai dengan gambaran tempat kelahiran Nabi Muhammad yang digambarkan sebagai tempat perdagangan. Sementara Petra memang salah satu pusat perdagangan di era itu.

Tempat kelahiran Nabi Muhammad pula digambarkan menjadi ziarah aneka penduduk. Sebelum kedatangan Islam, begitu banyak berhala. Tak tak ditemukan bukti arkeologi bahwa Mekkah di era itu pernah menjadi tempat ziarah. Sementara di Petra, bukti ziarah dan aneka berhala ditemukan.

Lalu mengapa akhirnya Petra ditinggalkan dan kiblat pindah ke Mekkah? Masih menurut Dan Gibson, terjadi bencana alam dan perang sesama Muslim. Petra hancur. Kiblat pun dipindahkan ke Mekkah.

Benarkah temuan dan klaim Dan Gibson di atas? Akan berubahkah keyakinan mayoritas Umat Muslim soal Mekkah sebagai awal kelahiran Islam?

Hal yang biasa dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan, terjadi pembalikkan kesimpulan. Penemuan baru membatalkan kesimpulan lama. Tapi penemuan baru juga dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda, yang tak harus menumbangkan kesimpulan lama.

Kita sudah sampai di era kebebasan akademis. Tak ada yang bisa melarang riset dan kesimpulan apapun. Tak ada lagi wilayah suci yang terlarang bagi masuknya dunia riset.

Kita sudah pula sampai di era Google dan Youtube. Temuan apapun bahkan yang sangat kontroversial secepat kilat bisa menyebar melalui google atau youtube. Para peminat dimanapun segera memiliki akses untuk membaca.

Akankah temuan itu mengubah keyakinan mayoritas umat Islam bahwa Mekkkah, bukan Petra, yang menjadi awal kelahiran Islam?”

Jawab saya: Tidak! Nehi! Mungkin ia hanya mempengaruhi sekelompok kecil saja yang memang skeptis.

Agama itu lompatan iman yang menyeluruh. Bagi penganut agama yang yakin, bahkan fakta sejarah yang salah tidaklah mengganggu.

Marilah kita ambil contoh yang sederhana, yang sudah hidup lama di ruang publik. Agama kristen menyakini Yesus (Nabi Isa) disalib. Agama Islam meyakini, yang disalib itu bukan Nabi Isa, tapi sosok yang disamarkan seperti Nabi Isa.

Secara faktual berdasarkan sejarah, mustahil dua keyakinan itu benar. Pastilah hanya satu yang benar- benar terjadi: Nabi Isa disalib atau Nabi Isa tidak disalib. Tak mungkin dua duanya benar: Nabi Isa disalib sekaligus Nabi Isa tidak disalib.

Tapi toh kedua agama itu tetap hidup. Ia diyakini lebih dari seribu tahun. Ia dipeluk oleh lebih dari satu milyar manusia. Data sejarah yang salah tidak mengganggu keyakinan.

Hal yang sama untuk kasus Nabi Ibrahim. Siapa anak yang rencana akan dikorbankan Nabi Ibrahim? Agama kristen meyakini, itu anaknya bernama Ishak. Agama Islam meyakini, itu anaknya bernama Ismail.

Sekali lagi, secara faktual berdasarkan sejarah, pasti ada yang salah. Hanya satu kemungkinan anak yang akan dikorbankan: Ishak atau Ismail. Mustahil satu anak itu adalah Ishak yang juga Ismail.

Tapi toh dua agama ini, Kristen dan Islam, tetap hidup, tetap memberikan keyakinan dan keharuan kepada pemeluknya. Itu sama sekali tak diganggu oleh kenyataan bawa data sejarah yang diyakininya salah.

Saya sudah empat kali mengunjungi Mekkah, melaksanakan Umroh, di tahun 1997, 2005, 2009 dan 2012. Setiap kali di tanah suci, saya pastilah menatap Kabah dan melakukan tawaf. Berjalan dan berlari kecil dari Safa ke Marwah, bulak - balik (ibadah Sai). Pernah pula saya menaik ke Gua Hira.

Di tahun 2012, sengaja saya pergi sendiri saja. Saat itu saya sudah membaca temuan dan kesimpulan para scholar dan akademisi soal awal kelahiran Islam. Saya ingin tahu seberapa informasi baru itu mengganggu sifat khusyuk dari ibadah saya.

Temuan ini saya bawa di kepala: bahwa bukan Mekkah itu yang awalnya menjadi kiblat. Tapi bangunan yang ada di di Petra. Bahwa bukan Safa dan Marwah di Mekkah itu yang awalnya tempat ritual. Tapi lokasi yang ada di Petra. Bukan Gua Hira itu tempat Nabi Muhammad menyepi. Tapi Gua yang ada di Petra.

Ternyata temuan itu tak mengganggu keharuan saya. Mungkin karena saya sudah memisahkan antara pengalaman spiritual dan penemuan ilmiah.

Acapkali menatap kabah, atau belari kecil antara Safa dan Marwah, atau ketika menatap gua hira, ketika hati berzikir: LA ILAHA ILLALLAH, air mata menetes. Rasa hening bertahta. Suasa hati itu sama seperti dulu, seperti sebelum saya membaca temuan The Revisionist School of Islamic Studies.

Penulis: Denny JA
Editor: Redaksi

Baca Juga