Skandal Korupsi Rp46 Miliar

KPK Periksa 2 Adik Ipar Nurhadi

Gedung KPK. (Foto istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung (MA). Dua orang saksi yang diperiksa antara lain adik ipar mantan Sekretaris MA, Nurhadi yaitu Rahmat Santoso dan Subhannur Rachman.

“Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HS (Hiendra Soenjoto), Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal)," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri melalui pesan singkat Rabu (4/3/2020).

Dalam pemeriksaan kali ini keduanya dalam posisi sebagai advokat. Saksi lain yang dipanggil adalah Thong Lena, seorang karyawan swasta.

Sebelumnya, KPK menggeledah kantor firma hukum milik Rahmat di Surabaya Rahmat Selasa, 25 Februari 2020. Lalu, keesokan harinya KPK melanjutkan penggeledahan rumah tinggal Subhan di Surabaya pada Rabu, 26 Februari 2020.

Dari dua lokasi itu, KPK belum menemukan keberadaan Nurhadi yang hingga saat ini masih buron. Namun, penyidik KPK menyita sejumlah dokumen terkait perkara di lokasi penggeledahan.

Sebelumnya, juga KPK sempat memanggil istri dan anak Nurhadi. Istri Nurhadi Tin Zuraida dipanggil sebagai saksi dan dalam kapasitas sebagai staf ahli Menteri PAN RB. Sementara itu, anak Nurhadi, Rizqi Aulia Rahmi diperiksa sebagai saksi dalam kapasitas sebagai pihak swasta.

“Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HS (Hoendra Soenjoto),” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, melalui pesan singkatnya, Senin, 24 Februari 2020.

Sebelumnya, tim juga mendeteksi keberadaan Nurhadi di kediaman mertuanya di Tulungagung, Jawa Timur. Namun, ia tidak tertangkap. Penyidik pun langsung menggeledah kediaman ibu mertua Nurhadi.

Status daftar pencaharian orang atau DPO ditetapkan KPK terhadap Nurhadi. Menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono serta Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal, Hiendra Soenjoto juga masuk DPO KPK karena sudah tiga kali mangkir saat dipanggil sebagai tersangka.

Ketiganya merupakan tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di Mahkamah Agung. Terkait kasus itu, Nurhadi lewat Rezky diduga menerima suap dan gratifikasi sebesar mencapai Rp46 miliar.

Penulis: Fajar

Baca Juga