Krisis Ekonomi 2020 Terberat Ketimbang Sebelumnya

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Sunarso.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Sunarso.

Jakarta, Akuratnews.com - Hanya sedikit bankir yang mau jujur atau berani bicara blak-blakan. Kecuali, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Sunarso. Dalam konferensi virtual di Jakarta, Rabu (26/8/2020), Sunarso bilang, krisis yang terjadi saat ini, adalah yang terberat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di mana, Indonesia telah melalui beberapa fase krisis, yakni 1998, 2008, dan 2013. "Kalau yang sudah segenerasi saya mungkin sudah merasakan empat kali krisis, dan tidak ada yang seberat yang hari ini dihadapi,” kata Sunarso enteng.

Sunarso bercerita, Tahun 1998, merupakan krisis moneter (krismon) yang dipicu gejolak nilai tukar. Mulai dari Korea Selatan merembet ke Thailand, kemudian ke Malaysia hingga akhirnya mampir ke Indonesia.

Di Indonesia sendiri yang dikatakan krisis moneter (krismon), kemudian berubah menjadi krisis ekonomi, hingga sosial dan politik serta dikatakan sebagai krisis multidimensional. Kala itu, diceritakan Sunarso, nilai tukar mata uang Garuda terhadap US$, terjun bebas hingga minus 540%. Kondisi ini memukul industri perbankan, di mana rasio kecukupan moda atau Capita Adequacy Ratio (CAR) anjlok hingga minus 15,7%. Sedangkan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) melonjak hingga 48,6%. Padahal NPL tak boleh lebih dari 5%. "Tetapi yang paling kena hantam adalah korporasi yang akarnya tidak kuat,” imbuhnya.

Kemudian, pada 2008 krisis yang melanda disebabkan oleh kegagalan korporasi besar di Amerika Serikat dan terimbas ke nilai mata uang lalu merembet pada suku bunga dan inflasi. Namun, yang paling terkena dampaknya segmen korporasi dimana saat itu risiko perbankan justru membaik dengan posisi NPL 3,2% dan CAR 16,8%.

Terjadinya krisis pada 2013 pun dipicu oleh kegagalan eksternal yakni salah satu negara di Eropa. Kegagalan tersebut berasal dari kegagalan bayar utang oleh negara yang terhantam adalah nilai tukar, suku bunga, dan inflasi. Kala itu, CAR perbankan masih tergolong baik yakni 18,2%, sementara NPL terjaga di kisaran 1,77%. “Dari semua ini lagi-lagi yang kena adalah korporasi,” imbuhnya.

Namun, krisis yang terjadi tahun ini berbeda dari yang sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang belum ditemukan obat ini membatasi bahkan menghentikan aktivitas masyarakat. Sehingga, membuat ekonomi terkontraksi. “Bagi kami di BRI, ini krisis paling berat karena nasabahnya 80 persen UMKM. Krisis sebelumnya transmisi ke UMKM lama dan jauh, berbeda dari yang sekarang,” ucapnya.

Sunarso menyampaikan, saat krisis sebelumnya depresiasi nilau tukar tidak berdampak pada UMKM scara langsung. Namun, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat krisis akibat Covid-19 ini langsung memukul kegiatan ekonomi pelaku usaha kecil, seperti pedagang. Sebaliknya, pemulihan ekonominya juga diyakini lebih cepat setelah adanya pelonggaran kebijakan PSBB. “Begitu PSBB dibuka, banyak orang yang lewat, ya dia jualan lagi, ya dia hidup lagi,” imbuh pria murah senyum ini.

Penulis: Redaksi

Baca Juga