Sidang Kesimpulan Perkara PKPU

Kuasa Hukum: Tidak Ada Bukti PT. Indotruck Utama Serahkan Alat Berat Ke Pemohon PKPU

Majelis Hakim saat memeriksa berkas dan dokumen Para Pemohon dan Termohon PKPU dalam sidang Kesimpulan perkara gugatan permohonan PKPU Sementara terhadap pT. Indotruck Utama di Pengadilan Niaga PN Jakarta Pusat. Senin 29 April 2019. (Foto Huge/Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Sidang Kesimpulan perkara permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) antara Arwan dan Alfin selaku Pemohon PKPU I dan II, melawan PT. Indotruck Utama selaku pihak Termohon, kembali digelar di Pengadilan Niaga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (29/4/2019).

Kepada wartawan, Tim Kuasa Hukum Arwan dan Alfin dari Greg Seran and Partners, Theodorus Agustinus Koy SH menjelaskan atas bukti-bukti yang diajukan oleh PT. Indotruck Utama sebagai Termohon PKPU, maka, menurut dia, para Pemohon PKPU berkesimpulan:

Pertama, tidak satupun bukti dari PT. Indotruck Utama yang secara tegas dan jelas menerangkan prihal penyerahan Barang dari PT. Indotruck Utama kepada Arwan dan Alfin.

Kedua, PT. Indotruck Utama sama sekali tidak menolak ataupun membantah perihal telah terjadi pembayaran secara berkala hingga LUNAS terkait pembelian alat berat 1 unit Crawler Excavator Volvo EC210D milik Arwan, dan 1 unit Crawler Excavator Volvo EC3SOD milik Alfin.

In case' pelunasan dimaksud diakui oleh bukti-bukti maupun kesaksian Saksi yang dihadirkan oleh Termohon PKPU dan atas barang tersebut telah dikirim namun tidak sampai ketangan Para Pemohon PKPU dengan demikian tak terbantahkan bahwa pembelian alat berat oleh Para Pemohon PKPU atas alat berat tersebut sudah lunas.

Ketiga, terkait setelah pelunasan maka wajar sesuai perjanjian antara pihak Arwan dan Alfin dengan PT. Indotruck Utama, Unit alat berat tersebut harus segera diserahterimakan oleh PT. Indotruck Utama kepada Arwan dan Alfin.

Keempat, Terkait dokumen formil yang melekat pada 2 unit alat tersebut, bukti bukti yang diajukan oleh Termohon PKPU sama sekali tidak menjelaskan tentang dokumen resmi yang seharusnya melekat pada alat berat yang dibeli oleh Para Pemohon PKPU.

"Bahwa dengan tidak adanya dokumen yang melekat pada dua alat berat tersebut, maka bukti-bukti yang dipaparkan tersebut justru tidak menerangkan tentang siapa pemilik dua unit alat berat itu," UJar Theodorus Agustinus Koy dalam keterangan resmi yang dikutip wartawan seusai sidang, di Jakarta, Senin (29/4/2019).

"Status kepemilikan ini penting karena secara yuridis formil dokumen formillah yang bisa menjadi acuan bagi si pemilik dalam hal melakukan klaim hukum apabila diperlukan. Dengan tidak adanya status hukum yang melekat secara formil pada dua unit alat berat dimaksud yakni 1 unit Crawler Excavator Volvo EC2lOD yang telah dibayar lunas oleh Pemohon PKPU I sesuai bukti kwitansi lunas yang diterbitkan Termohonn PKPU dan 1 unit Crawler Excavator Volvo EC350D yang telah dibayar lunas oleh Pemohon PKPU II sesuai bukti kwitansi lunas yang diterbitkan Termohon PKPU menjadi 'benda tidak bertuan'." terang Theo.

Menurut Dia, In case, dua unit alat berat tersebut tetap masih berada dalam penguasaan PT. Indotruck Utama selaku Pihak Penjual (Termohon PKPU) sehingga tetap menjadi tanggung jawab pihak PT. Indotruck Utama.

Sementara terkait Serah Terima unit kepada Pihak ketiga secara tidak sah, Theodorus menerangkan, bahwa bukti yang menerangkan Perpindahan benda dari Termohon PKPU kepada Para Pemohon PKPU melalui orang ketiga (saksi Soleh dan Saksi Bayu) merupakan perbuatan hukum yang cacat formil alias tidak sah.

Kenapa cacat hukum? Menurut Theodorus ada tiga hal pentng yang menjadi kesimpulan bagi para Arwan dan Alfin selaku Pemohon PKPU I dan PKPU II, yakni, tidak ada dokumen pendukung yang bisa menerangkan pihak ketiga tersebut bertindak untuk dan atas nama Para Pemohon PKPU; Tidak ada dokumen Formil yang melekat pada Benda atau 2 (dua) unit excavator tersebut; dan Tidak adanya dokumen serah terima yang sah tersebut merupakan bukti nyata bahwa Pihak Termohon PKPU telah melakukan kecerobohan dan kelalaian yang berakibat Para Pemohon PKPU menderita kerugian.

"Bahwa akibat dari kecerobohan Termohon maka semua kejadian selanjutnya di kapal hingga ke Nabire sesuai klaim pembuktian menjadi 'Tidak Perlu Dipertimbangkan Lagi', Karena pihak Termohon PKPU Tidak secara Sah dan Meyakinkan membuktikan diri telah menyerahkan Unit tersebut kepada pihak Pemohon PKPU selaku Pembeli, (tetapi) justru menyerahkan kepada pihak ketiga." Terang dia.

"Sehingga jika ditarik kesimpulan secara hukum formil, "Milik siapakah dua unit Excavator tersebut, maka jawabnya adalah milik PT. Indotruck Utama, in case belum menjadi milik Para Pemohon PKPU selaku Pembeli." Tandas Theodorus Agustinus Koy..

Diberitakan sebelumnya, Perseteruan antara Arwan Koty selaku Pemohon PKPU I dan Alfin selaku Pemohon PKPU II melawan PT. Indotruck Utama, bermula dari Arwan dan Alvin; keduanya adalah Ayah dan Anak yang masing-masing membeli dua alat berat (Excavator) dari PT. Indotruck Utama untuk membuka usaha tambang di Nabire-Papua.

Transaksi jual beli antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 unit Excavator Volvo EC 210D seharga Rp1,265 miliar.

Sementara transaksi jual beli antara Alfin dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 Unit Crawler Excavator EC350D seharga Rp2,960 miliar.

Transaksi itu terjadi pada tahun 2017. Saat itu, baik Arwan maupun Alfin telah membayar pelunasan pembelian Excavator sesuai dengan harga yang diberikan oleh PT. Indotruck Utama, termasuk membayar biaya pengiriman kedua alat berat itu ke Nabire-Papua. Namun, setelah pembayaran telah dilakukan, kedua alat berat itu tak kunjung diserahterimakan kepada Arwan dan Alfin.

"Tidak ada bukti (dari pihak PT. Indotruck Utama) yang dapat menerangkan secara jelas telah diserahterimakan kedua alat berat itu kepada kedua orang pembeli ini," terang Tim Kuasa Hukum Arwan Koty dan Alfin dari Greg Seran And Partners yang diwakili oleh Wilibrodus Ardi Mau saat konferensi pers di Jakarta Utara, Kamis malam (25/4/2019).

"Intinya tidak ada serah terima barang ke klien kami," Tegas Wili. Oleh karena itulah, Arwan dan Alfin mengajukan gugatan permohonan PKPU Sementara terhadap PT. Indotruck Utama. PT. Indotruck Utama sendiri diketahui merupakan anak dari perusahaan raksasa PT. Indomobil.

Sebelum berita ini dirilis, wartawan mencoba mengkonfirmasi Pengacara atau perwakilan dari PT. Indotruck Utama, namun sayangnya seusai sidang, Kedua perwakilan dari PT. Indotruck Utama bergegas angkat kaki dan tak bisa dikonfirmasi.

Penulis:

Baca Juga