Kurangi Spesifikasi, Kontraktor dan Mandor proyek SDN Gentong jadi Tersangka

Surabaya, Akuratnews.com - Setelah melakukan penyelidikan, Polda Jatim tetapkan dua orang sebagai tersangka, ambruknya SDN Gentong Pasuruan yang menewaskan 2 orang dan menciderai 11 orang lainya.

Keduanya orang yang diangap paling bertanggung jawab atas ambruknya SDN Gentong, di kota Pasuruan yakni, Sutaji (Kontraktor) dan Didit (mandor), mereka dianggap lalai dalam melaksanakan pekerjaan proyek.

Direktur Direktorat Reserse umum (Dirditreskrimum) Polda Jatim, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan menerangkan, keduanya sengaja mengurangi kwalitas dan bahan material saat melakukan renovasi gedung sekolah.

"Mereka adalah pelaksana pekerjaan dari SDN Gentong tahun 2012, yang menurut hasil uji laboratorium forensik ada ketidaktaatan atau ketidaklaziman pembangunan sebuah kontruksi gedung," papar Gidion Arif dalam  keterangan pers di depan gedung Ditreskrimum Polda Jatim, Senin (11/11/2019).

Perwira dengan tiga melati di pundaknya ini menjelaskan bentuk pengurangan spesifikasi yang dilakukan kedua tersangka adalah kolong besi bangunan ruang kelas yang mestinya menggunakan besi berukuran diameter 12 mm. Namun, tersangka memakai besi yang hanya berdiameter 8 mm.

"Kolom besi tersebut seharusnya menggunakan besi berdiameter 12 mm, namun tersangka mengurangi dan menggunakan besi 8 mm. Istilahnya ini pakai beai banci," tambah Gidion.

Tak hanya itu, jumlah besi yang dipakai juga dikurangi menjadi tiga batang. Yang semestinya empat batang disetiap kolongnya, "Maka kekuatan konstruksinya ya sudah dipastikan akan roboh, tinggal menunggu waktu," tandasnya.

Penyidik juga mendapati bahwa pasir yang dipakai berkualitas rendah. Dalam spesifikasi bangunan, kontraktor seharusnya memakai pasir Lumajang, "Pasir yang bagus itu pasir Lumajang, daya ikatnya itu cukup bagus. Ini pasirnya pasir biasa," lanjut Gidion. .

Perlu diketahui bahwa pada Selasa (5/11/2019), sekitar pukul 08.30 WIB. Gedung Sekolah Dasar Gentong kota Pasuran ambruk. Adapun yang ambruk berada di bagian depan terdiri dari empat kelas, yakni kelas 2 A dan B, serta kelas 5 A dan B.

Sebanyak 13 orang menjadi korban, dua diantaranya meninggal dunia, yakni siswi berinisial IA (8) warga Gentong, Kota Pasuruan, serta seorang guru pengganti, bernama Silvana Asri (19), sisanya mengalami luka berat dan ringan.

Penulis: Moris Mangke
Editor:Redaksi

Baca Juga