Harga Batu Bara Anjlok

Laba Bersih PT Bukit Asam Tergerus 12,7%

Ilustrasi tambang Batubara

Jakarta, Akuratnews.com - Emiten batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat penurunan laba bersih kuartal I-2019 sebesar 12,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dari Rp1,45 triliun menjadi Rp1,14 triliun. Sementara EBITDA perseroan tahun ini tercatat mencapai Rp1,73 triliun.

"Laba memang lebih rendah dari 2018, ini merupakan refleksi dari penurunan harga jual karena menurunnya harga indeks batu bara di pasar," ujar Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/04/2019).

Sepanjang triwulan I-2019, pendapatan usaha perseroan mencapai Rp5,43 triliun, terdiri atas penjualan batu bara domestik sebesar 46%, penjualan batu bara ekspor sebesar 50%, dan aktivitas lainnya 4% yang terdiri dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, dan jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

"Pendapatan usaha ini dipengaruhi oleh harga jual rata-rata batu bara yang turun sebesar 13% menjadi Rp772.044/ton dari Rp887.883 pada triwulan awal tahun lalu," katanya.

Lebih lanjut, Arviyan menjelaskan faktor penurunan pendapatan usaha tersebut berasal dari pelemahan harga batubara Newcastle sebesar 7%. Selain itu, pelemahan harga batu bara hermal Indonesia (maonesian coal index/ICI) GAR 5000 sebesar 24% dibandingkan harga rata-rata triwulan awal 2018, penuh di triwulan awal 2018.

"Serta aturan pemerintah terkait harga jual Domestic Market Obligation yang belum diimplementasikan secara penuh di TW I 2018," ucapnya.

Sementara itu, aset perseroan hingga 31 Maret 2019 tercatat mencapai Rp24,83 triliun dengan komposisi terbesar pada aset tetap 27% dan kas setara sebesar 25%. Kas setara yang dimiliki Bukit Asam saat ini sebesar Rp6,26 triliun relatif sama dibanding 31 Desember 2018 yang sebesar Rp6,3 triliun.

Kemudian, total liabilitas perseroan kuartal I-2019 sebesar Rp 7,72 triliun yang 58% di antaranya merupakan liabilitas jangka pendek. Total liabilitas tersebut turun dibandingkan liabilitas per 31 Desember 2018. Hal ini disebabkan oleh penurunan utang jangka pendek perusahaan.

"Kondisi ini menyebabkan cash ratio atau cash and equivalent terhadap liabilitas jangka pendek perseroan meningkat jadi 286%. Likuiditas perseroan kuat dan mampu memenuhi liabilitas jangka pendek tepat waktu," katanya.

Sebagai informasi, produksi batu bara pada kuartal I-2019 ini tercatat mencapai 5,7 juta ton naik 8% dibanding pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,28 juta ton.

Untuk angkutan batu bara mencapai 5,84 juta ton meningkat 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 5,43 juta ton dan mendorong peningkatan penjualan jadi 6,65 juta ton atau naik 5,6% dari periode tahun lalu 6,3 juta ton.

"Pencapaian kinerja operasional ini tidal lepas dari upaya kami dalam mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara seperti India, Korea Selatan, Sri Lanka dan Hong Kong di tengah pembatasan impor yang dilakukan China selaku pasar ekspor terbesar. Serta didukung oleh keberhasilan dari strategi optimasi penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market," tuturnya.

Penulis: Alamsyah
Editor: Redaksi

Baca Juga