Lantaran Bertemu dengan Jokowi, Prabowo Dinilai Berkhianat

Jakarta, Akuratnews.com - Wakil Ketua Umum DPP Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Ustadz Asep Syaripudin mengaku sangat kecewa dengan Prabowo Subianto lantaran memilih bertemu dengan Joko Widodo usai Pilpres 2019.

“Bagi kita ulama para aktivis islam. Sekiranya Jokowi dianggap pemenang dan Prabowo mau tetap berjuang ya jadi oposisi saja jangan bangun komunikasi dengan rezim. Kalau sekarang bangun komunikasi dan ada kesepakatan sekian itu, bagi kami bukan pada tempatnya,” kata Asep saat diskusi publik di Gedung Joeang 1945, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019).

Bahkan sikap Prabowo tersebut dinilai Asep sebagai bentuk penghianatan terhadap umat Islam yang mendukungnya.

“Kalau ditanya Prabowo berhianat atau tidak, Prabowo berkhianat,” tegasnya.

Selain itu, Ketua Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat (API Jabar) tersebut memberikan penjelasan mengapa saat Pilpres 2019 lalu para ulama dan aktivis 212 memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto.

“Kenapa ulama sampai buat Ijtima Ulama, karena ada harapan besar, kita tahu bagaimana background Gerindra dan Prabowo. Harapan kita bahwa kita pandang rezim sekarang anti terhadap nilai-nilai Islam dan menjadi jongos asing dan aseng. Makanya umat mendukung dan bikin posko bukan persoalan cost politic semata,” paparnya.

Setelah Ijtima Ulama I terbentuk itu, para Ulama dan aktivis 212 menyepakati bahwa Prabowo Subianto sebagai Capres karena persoalan presidential threshold. Hanya saja ada syarat yang disampaikan dalam Ijtima Ulama I itu bahwa dukungan akan diberikan asalkan Prabowo menggandeng ulama yakni Ustadz Abdul Somad atau Habib Salim Segaf Aljufri.

“Ulama juga memperjuangkan aspirasi umat. Makanya Ijtima Ulama I ditetapkan Prabowo Capres dengan harapan cawapresnya ulama, akhirnya kita pilih Habib Salim,” terang Asep.

Dan lagi-lagi kekuatan politik berkehendak dan para partai koalisi sepakatnya malah memilik Sandiaga Salahuddin Uno dibandingkan memilih ulama. Dengan demikian, ulama dan para aktivis 212 kembali menggelar Ijtima Ulama II dengan kesepakatan tertentu kepada para partai koalisi termasuk kepada Prabowo Subianto. Dan kesepakatan itu tertuang dalan pakta integritas.

“Tapi koalisi Adil Makmur tidak sepakat dan lebih memilih Sandi. Maka muncul Ijtima Ulama II dan lahirlah pakta integritas,” imbuhnya.

Namun sayangnya di akhir Pilpres, justru Prabowo Subianto malah bertemu dengan Joko Widodo sebagai pemenang dalam Pilpres 2019. Kondisi ini pun yang dianggap Asep sangat mengecewakan umat termasuk dirinya.

Ia pun menyerukan agar usai pertemuan hari ini, berbagai simpul di berbagai daerah harus mengonsolidasikan diri. Salah satunya adalah berjuang agar ke depan suara umat tidak hanya menjadi komoditas politik kelompok atau perorangan semata.

“Setelah pertemuan ini perlu ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kita umat jangan mau jadi komoditas politik dan menjadi bahan kepentingan pribadi,” tuturnya.

Penulis: Atta
Editor:Redaksi

Baca Juga