Bursa

Pertumbuhan Lapangan Kerja Hilangkan Kekhawatiran Resesi Ke AS

Brebes, Akuratnews.com - Bursa saham AS ditutup positif dalam perdagangan akhir pekan. Data ekonomi AS terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja di sektor swasta pada bulan Maret naik dan lebih baik dari perkiraan.

Hal ini mampu meredakan kekahwatiran terhadap perlambatan ekonomi AS. Departemen Tenaga Kerja melaporkan lapangan kerja sektor swasta yang tumbuh sebanyak 196.000 di bulan Maret, di atas ekspektasi konsensus untuk 175.000. Penghasilan per jam rata-rata naik 0.1% di bulan Maret, setelah melonjak 0.4% di bulan sebelumnya, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 3.8%.

Indeks Dow Jones ditutup naik sekitar 0.04%, yang dibantu juga oleh komentar dari Presiden Donald Trump di hari Kamis sebelumnya yang mengatakan adanya kemajuan yang signifikan yang dicapai oleh AS-Cina dalam negosiasi perdagangannya.

Sementara dalam perdagangan di Asia, Indek Nikkei Jepang cukup nyaman berada di level tingginya dengan mencatat kenaikan 0.44%, didukung oleh kenaikan di bursa Wall Street dan melemahnya Yen terhadap Dolar AS. Sebelum rilis data pekerjaan AS, beberapa investor mengambil isyarat dari kenaikan Nikkei hingga ke kisaran diatas 21800, untuk mencoba melakukan aksi jual saat reli.

Sejumlah saham eksportir diuntungkan dengan melemahnya Yen, seperti produsen robot industri Yaskawa Electric dan Fanuc masing-masing melonjak 2.72% dan 1.21%. Di sisi lain, pengecer Seven & I Holdings turun 3.27% karena perkiraan laba operasi untuk tahun ini hingga Februari 2020 sehingga gagal memberikan kesan positif kepada para investornya.

Indek Kospi sendiri stabil bergerak di area positifnya seiring harapan baru mengenai kelanjutan kesepakatan perdagangan AS-Cina serta dukungan dari minat investor terhadap aset berisiko sehingga mendukung pasar ekuitas global. Selain itu saham-saham berkapitalisasi besar turut menjadi pendorong bagi Kospi untuk tetap stabil di jalur kenaikannya.

Seperti saham Samsung Electronics yang masih menunjukkan kenaikannya meskipun pihaknya meluncurkan laju pendapatan per tiga bulan yang paling rendah sejak kuartal ketiga 2016 lalu. Laba operasional dari produsen smartphone terkemukan dunia tersebut, tercatat sebesar 6.2 triliun Won ($5.5 milliar), atau mencatat penurunan 42.6% di periode kuartal dan turun 60.4% di tingkat tahunan.

Pada perdagangan mata uang, Euro mencatat kenaikan hingga diatas 1.1250 pasca dirilisnya data tenaga kerja AS. namun menjelang penutupan perdagangan, Euro mengalami koreksi dengan turun 0.05%. Dolar AS berbalik menguat dengan menemukan pijakan, meskipun yield obligasi AS kembali berada di kisaran lebih rendahnya.

Para petinggi Bank Sentral Eropa akan kembali mengadakan pertemuan untuk pertama kalinya sejak diumumkannya program TLTRO. Para pelaku pasar ingin melihat sampai sejauh mana Draghi akan menjawab setiap tantangan yang idak mungkin dihindarkan terkait tingkat suku bunga deposito di kawasan Eurozone.

Poundsterling kembali melanjutkan penurunannya terhadap Dollar seiring data ekonomi AS yang dirilis dengan hasil yang lebih baik dari perkiraan secara keseluruhan. Selain itu tekanan terhadap Poundsterling datang dari perkembangan baru tentang Brexit.

Perdana Menteri Belanda Rutte mengatakan bahwa surat PM Inggris May tidak cukup untuk memungkinkan perpanjangan sementara. Sedangkan Menteri Luar Negeri Jerman, mengatakan bahwa ada banyak pertanyaan yang perlu diklarifikasi oleh pihak London. Poundsterling ditutup lebih rendah sekitar 0.28% terhadap greenback.

Aussie berjuang untuk mencapai level tertinggi, namun justru tertekan pasca rilisnya data tenaga kerja AS yang dilaporkan dengan hasil yang lebih baik. Pasangan AUDUSD mendapatkan kenaikan kecil dan melompat kembali ke zona pasokan 0.7130 sebagai reaksi terhadap laporan pekerjaan bulanan AS.

Aussie saat ini terfokus kepada hasil pembicaraan perdagangan AS dengan Cina, yang mana jika hasilnya cukup positif untuk Cina, maka Aussie akan mendapatkan dukungan seiring hubungan dagang dengan Cina yang memberikan keuntungan bagi mata uang Aussie.

Pelaku pasar masih menyisakan pertanyaan apakan pasangan mata uang ini dapat menemukan minat beli di level harga yang lebih rendah atau akan kembali menemui kegagalan yang ditandai dengan dimulainya depresiasi Aussie di jangka pendek di tengah ekspektasi penurunan suku bunga oleh RBA.

Dolar AS melanjutkan tekanannya terhadap Yen, seiring sejumlah sentimen pasar yang memberikan dukungannya terhadap Greenback di sesi perdagangan akhir pekan lalu. Daya tarik Yen sebagai mata uang safe haven nampaknya telah semakin surut, ditambah lagi dengan kebijakan BoJ yang masih memberikan dukungan bagi ekonomi Jepang melalui kebijakan moneter super longgar, meskipun langkah ini banyak mendapatkan kritikan dari sejumlah ekonom dan pejabat Bank Sentral yang menilai jika pelonggaran kebijakan masih berlanjut untuk jangka waktu yang lama, maka hal ini justru akan memberikan akibat negatif bagi ekonomi Jepang di tengah sikap pemerintahan Abe yang akan melanjutkan kebijakan kenaikan pajak penjualan.

Dalam perdagangan komoditi, harga Emas jatuh hingga ke level terendah hariannya di dekat $1284, setelah data NFP AS memberikan dukungan bagi greenback untuk menguat terhadap mata uang pesaingnya dan komoditas berdenominasi Dolar. Namun demikian harga Emas nampaknya tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti reaksi pasar karena imbal hasil obligasi AS yang berubah negatif, sehingga meningkatkan permintaan terhadap Logam Mulia. Secara keseluruhan dengan pergerakan pasar ekuitas AS yang berada di wilayah positifnya, masih akan memberikan tekanan bagi Emas yang berpotensi kehilangan minat beli investor terhadap safe haven. (HQM)

Penulis:

Baca Juga