Gonjang-ganjing BPA Galon Air Mineral

Lewat Petisi, 50 Ribu Netizen Minta BPOM Lindungi Balita dan Ibu Hamil

Jakarta, Akuratnews.com - Hanya dalam tempo sebulan, lebih dari 50 ribu netizen menandatangani petisi yang dibuat Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL).

Isi petisi tersebut mengajak masyarakat mendukung Badan Pengawas Obat dan  Makanan (BPOM) mengeluarkan peraturan Label Peringatan Konsumen galon guna ulang yang mengandung BPA.

Tujuannya tak lain melindungi konsumen usia rentan, agar air di dalam galon guna ulang tidak dikonsumsi bayi, balita dan janin ibu hamil.

Ketua JPKL Roso Daras melihat jumlah partisipasi warga yang ikut menandatangani petisi tersebut menunjukkan masyarakat mulai mengerti akan bahaya BPA, dan mulai ikut berkontribusi menyebarkan kepada pihak lain. Semakin banyak yang mengetahui, tentu saja semakin banyak bayi, balita dan janin yang terbebas dari paparan BPA.

"Kami mengajukan petisi untuk memberikan Peringatan Konsumen pada Label Kemasan Galon Isi Ulang yang mengandung BPA," tegas Roso Daras seperti yang tertuang dalam bunyi petisi tersebut.

Dijelaskannya, jangan mengambil resiko dengan mempercayai kata ambang batas lantaran bagi orang dewasa hal ini mungkin masih bisa ditoleransi.

"Tapi bagi bayi, balita dan janin harus diberikan yang terbaik, demi melindungi kesehatan bayi dan balita Indonesia. Masyarakat usia rentan ini berhak dilindungi kesehatannya dengan zero toleransi terhadap zat BPA, melalui kebijakan Label Peringatan Konsumen," paparnya.

Kemasan Galon Isi Ulang yang terbuat dari bahan plastik polikarbonat dikatakannya mengandung zat BPA berbahaya yang dapat larut dalam air. Kemasan yang mengandung zat BPA berbahaya ini harus ditandai dengan logo 'Segitiga No.7'.

"Kami melihat Label Peringatan konsumen ini perlu dicantumkan dalam kemasan Galon Isi Ulang BPA, untuk melindungi masa depan bayi, balita dan janin yang dikandung ibu hamil agar tidak terpapar Zat BPA yang dapat mengakibatkan terganggunya hormonal, perkembangan organ tubuh dan prilaku serta gangguan kanker di kemudian hari," ucapnya.

Untuk diketahui, di semua negara penggunaan BPA sudah dilarang termasuk Austria (2011), Belgia (2012), Swedia (2012), Prancis (2012), Canada (2012), Denmark (2013) dan tahun 2018 lembaga internasional yaitu SGS mengeluarkan kompilasi regulasi dunia pelarangan BPA yang kontak dengan kemasan pangan.

Pada 2018 Kementerian Kesehatan RI pun mengeluarkan pedoman bimbingan teknis perizinan perbekalan kesehatan rumah tangga. Salah satunya botol bayi harus ada sertifikat bebas BPA.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga