Lindungi Konsumen, YLKI dan LPKSM Desak Presiden Sahkan Revisi PP 109/2012

Ilustrasi desakan terkait revisi PP 109/2012 kepada Presiden.

Persoalan iklan rokok di ranah media digital yang sangat marak.Walaupun konten dari iklan tersebut tidak menampilkan rokok/bungkus rokok atau orang merokok, tetapi dari sisi waktu tayangnya tidak ada pembatasan. Sehingga anak dan remaja sebagai konsumen utama media digital akan sangat mudah untuk terpapar iklan rokok digital tersebut. Persoalan iklan rokok di media digital sangat memungkinkan untuk diatur dalam PP 109/2012.

Ketiga, PP 109/2012 hanya mengatur besar peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok (PHW) sebesar 40 persen pada bungkus, bagian belakang dan bagian depan. Tetapi fakta di lapangan PHW banyak tertutup oleh pita cukai, sehingga pesan bahaya rokok kepada konsumen tidak tercapai. Selain itu, besaran PHW di Indonesia terlalu kecil disbanding standard internasional, yang rata rata sudah mencapai 80-90 persen (plain packaging) dari bungkus rokok.

Keempat, PP 109/2012 memandatkan bahwa pemerintah daerah wajib membuat regulasi tentang KTR, tetapi faktanya sampai saat ini baru 52% Pemerintah Daerah mempunyai regulasi tentang KTR. Belum lagi soal kepatuhan yang rendah, yang disebabkan konstruksi hukum yang lemah, karena level peraturan baru sebatas Peraturan Bupati atau peraturan Walikota. Persoalan KTR ini perlu diperkuat dalam PP 109/2012 tentang Pengamanan Zat adiktif.

Tulus Abadi menegaskan, berdasarkan empat poin permasalahan diatas, YLKI Bersama LPKSM daerah sebagai lembaga yang concern terhadap isu perlindungan konsumen di Indonesia, mendesak pemerintah untuk segera merevisi PP 109 Tahun 2012 untuk melindungi kesehatan masyarakat dan kepentingan masyarakat konsumen Indonesia.

“Hal ini selaras dengan rencana pemerintah yang tercantum dalam Rencana Pembagunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024, di mana disebutkan itikad Pemerintah untuk menaikkan cukai tembakau dan rokok, serta menyelenggarakan berbagai program guna menurunkan prevalensi merokok di kalangan remaja dari 9.1% menjadi 8.7%,” pungkas Tulus.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga