oleh

Lira Melemah, Dolar AS Semakin Perkasa

Jakarta, Akuratnews.com – Lira Turki tetap berada di bawah tekanan berat karena krisis mata uang negara itu terus berlanjut, memberikan tumpangan terhadap dolar untuk terus melanjutkan penguatannya.

Mata uang surgawi, seperti Swiss franc dan Yen Jepang, menguat pada hari Senin. Dolar AS, yang pertama mencapai posisi tertinggi dalam 14 bulan pada hari Jumat kemarin, yang sebelumnya juga telah naik ke level tertinggi berbalik arah setelah sejumlah aksi jual mengambil untung dilakukan investor.

Indek Dolar AS hanya naik 0,1% ke 96,418, setelah naik 1,3% minggu lalu. Meski naik tipis, tetap saja berada di area puncak, pada kisaran 96 sepanjang hari. Investor kemudian mengalihkan perhatian mereka ke pasangan EURUSD, yang terakhir dibeli $ 1,1387 dibandingkan dengan $ 1,1412 pada akhir pekan kemarin.

Euro telah menembus $ 1,15, sebagai level kunci. Dimana level $ 1,1370 adalah level teknis berikutnya. Jika jatuh di bawah itu, maka akan terbuka lebih lebar kebawahnya. Euro akan tetap berad dibawah tekanan. Investor kini berbondong-bondong mengkoleksi aset surgawi dolar, yen, dan Swiss.

Biasanya, jika mata uang kita lebih lemah membuat produk kita bisa lebih menarik di pasar global, nyatanya kekalahan mata uang dalam jurang yang besar justru dapat menciptakan masalah lebih besar. Seperti banyak negara berkembang, Turki bergantung pada pendanaan asing, sehingga jatuhnya nilai tukar lira membuatnya harus membayar hutangnnya lebih banyak karena dalam mata uang lainnya.

Sementara itu, Ankara masih harus berjuang melawan inflasi dua digit, dimana pemerintah telah berbicara menentang kenaikan suku bunga. Banyak ahli strategi percaya bahwa kenaikan suku bunga yang konsisten adalah salah satu cara dari beberapa hal yang dapat mencegah pelemahan mata uang.

Pada hari Senin kemarin, Bank Sentral Republik Turki menyatakan akan menyediakan “semua likuiditas yang dibutuhkan bank”.  Sayangnya, dampak dari jatuhnya lira telah menjalar kemana-mana dan dapat dirasakan di pasar global.

Lira merosot ke titik terendah lainnya sepanjang waktu terhadap dolar AS pada hari Senin, menembus level 7 lira per dolar untuk pertama kalinya dalam catatan. Satu dolar terakhir dibeli 7,088 lira, naik dari 6,4275 lira pada minggu lalu.

Bank Sentral Eropa khawatir tentang penularan krisis Turki disaat Presiden AS Donald Trump kembali mencuitkan tentang tarif lebih lanjut atas impor Turki. Hubungan Turki – AS juga makin runyam oleh krisis diplomatik setelah Turki menahan seorang pendeta AS yang dituding terlibat dalam upaya kudeta beberapa waktu lalu. (Lukman Hqeem)

Loading...

Komentar

News Feed