OPINI

Literasi, Persatuan, dan Kualitas Bangsa

Oleh: Thio Hok Lay, S. Si
Guru di Sekolah Citra Kasih, Jakarta

AKURATNEWS - Bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia. Momentum memperingati dan memaknai bulan bahasa dan sastra Indonesia tak dapat diceraikan dengan spirit anak bangsa dalam mengusung persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana yang ditorehkan dalam teks Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia// Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia// Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

Sukidi, dalam opininya berjudul Merawat Persatuan dalam Kebinekaan (Kompas.id, 28/10/2021) menyatakan bahwa kemajemukan, jika tidak diikat oleh ikatan persatuan, bisa berakhir ke arah ”kutukan keragaman” (the curse of diversity).

Dalam konteks globalisasi yang menembus sekat-sekat ruang, waktu, batas bahasa dan budaya, acap dan jamak dijumpai tantangan milenial berupa fenomena pencampuradukan bahasa yang berpotensi mengikis dan menggerus bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Indikator konkretnya tampak melalui fenomena verbalisme yang menjangkiti generasi muda bangsa. Cenderung latah, suka mengucapkan aneka kosakata asing yang tak sepenuhnya dimengerti dan dipahami artinya.

Terkait spirit kecintaan terhadap bahasa dan budaya, sebagai anak-anak bangsa kita diingatkan melalui novel ‘Salah Asuhan’ karya Abdoel Moeis, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1928. Bahwa dalam mempelajari bahasa dan budaya asing, jangan sampai melupakan jatidiri kita sebagai putra/i dari ibu pertiwi.

Sebagaimana yang dipersonifikasikan dalam sosok Hanafi, yang usai belajar di negeri orang, kecintaannya terhadap bahasa dan budaya tanah air menjadi luntur. Gaya hidupnya berubah dan lupa akan identitas dirinya.

Perlu diingat bahwa spirit kemandirian dan kemerdekaan dalam belajar tidaklah lantas menjadikan anak-anak bangsa secara otomatis menjadi gemar dalam membaca dan menulis.  Dibutuhkan stimulus dan keteladanan konkret secara terus-menerus dalam upaya menumbuhkembangkan kesadaran dan kegemaran anak – anak bangsa akan literasi.

Untuk itu, aneka stimulus seperti lomba membaca puisi, lomba menulis cerita pendek (cerpen), lomba pidato, dan ragam lomba lain terkait aktivitas keliterasian hendaknya tak hanya digiatkan, meriah dan semarak ketika memperingati bulan bahasa saja. Namun diharapkan turut mewarnai sebagai bagian dari proses pembelajaran keseharian di sekolah.

Saat ini, kualitas para pelajar sebagai generasi muda bangsa masih perlu banyak dibenahi dan ditingkatkan; mengingat kondisinya masih jauh dari menggembirakan. Suherman (2009) menuliskan masih terdapat sekitar 4 % penduduk Indonesia yang buta huruf. Artinya, jika jumlah penduduk Indonesia sejumlah 271 juta, maka terdapat sekitar 10,8 juta diantaranya masih buta huruf.

Krisis literasi ini begitu kentara, bangsa ini sedang mengalami kekaburan dan kerabunan literasi akibat dilanda buta aksara dimana-mana. Terkonfirmasi melalui hasil penelitian UNESCO, bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanyalah 0.001 %; artinya dari 1000 orang Indonesia yang berkumpul, hanya dijumpai 1 orang yang rajin membaca.

Dibutuhkan stimulus, kerjasama dan keterlibatan seluruh anasir bangsa untuk mengungkit dan menumbuhkembangkan kesadaran, kegemaran, dan kebiasaan dikalangan masyarakat terkait aktivitas literasi. Meminjam pepatah bijak dari Afrika, ‘Membutuhkan orang sekampung untuk membesarkan seorang anak’ (it takes a village to raise a child).

Daya Ungkit

Kementerian Pendidikan Nasional melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN) mengacu pada 6 (enam) literasi dasar dari UNESCO, yakni literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan - berupaya untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) guna peningkatan kualitas kehidupan.

Yang pada gilirannya nanti, melalui tumbuhkembangnya keterampilan literasi akan meningkatkan kualitas dan martabat Sumber Daya Manusia (SDM) dalam kancah global. Keterampilan literasi akan memberdayakan dan melepaskan anak-anak bangsa dari belenggu dan cengkeraman krisis melek huruf yang membodohkan dan memiskinkan.

Ungkapan bijak mengatakan, “The world is the book with the best story. If you never leave your village, you only read one page of it”. Guna beranjak dari gubuk pengetahuan kita yang sempit, dan mulai berani menjelajah, buku adalah kendaraan yang bisa kita tumpangi.

Di sekolah, melalui program guru penggerak dan pembiasaan gerakan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai diharapkan mampu menjadikan anak-anak murid akrab dan bersahabat dengan literasi. Melalui aktivitas baca tulis, pikiran dirangsang dan dimampukan untuk mewujudkan banyak hal yang masih samar dan abstrak menjadi hal yang jelas dan konkret.

Pengalaman keseharian telah membuktikan bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang mau dan mampu untuk belajar secara mandiri, dan mempraktikkan apa yang telah dibaca dan dipelajarinya secara terus menerus dan konsisten sampai membentuk dan menjadi sikap dan karakter nyata dalam hidup keseharian.

Saatnya bagi setiap anasir bangsa; baik perseorangan maupun kelembagaan untuk mau dan mampu belajar, berbagi, dan berkolaborasi dalam spirit saling asah, asih, dan asuh untuk menghasilkan SDM yang berkualitas; cerdas, berwawasan luas, berdaya nalar dan terampil dalam menyikapi dan mengurai aneka permasalahan kehidupan (kebangsaan). ***

Baca Juga