LKSP : Survey Responden Menilai Reuni 212 Wujudkan Misi Kebangsaan dan Keagamaan Secara Selaras

Sekitar 73 persen responden (153 orang) pernah menghadiri Aksi Bela Islam (ABI) tahun 2016 yang menjadi pemicu gerakan 212, namun, ada 27 persen (57 orang) yang tidak pernah menghadiri acara ABI 2016, sehingga tidak merasakan ketegangan yang muncul saat itu dan merupakan pengalaman pertama menghadiri Reuni 212, hal tersebut juga diperjelas lagi, oleh 25 persen responden (52 orang) yang tidak pernah mengikuti Reuni 212 pada tahun 2017 dan 2018, dan kelompok ini merupakan lapisan baru yang akhirnya tertarik dengan gerakan 212 melalui informasi yang mereka dapatkan dari berbagai media, sehingga Partisipan atau dukungan terhadap gerakan 212 semakin bertambah, terbukti dari hadirnya kelompok baru, meskipun tingkat kehadiran disesuaikan dengan kondisi peserta.

Sejumlah Responden bahkan memiliki persepsi yang beragam tentang tujuan Reuni 212, walaupun panitia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bersifat keagamaan (Maulid Nabi Saw) dan menjaga semangat persatuan (mengajak semua pihak), namun menurut sebagian besar responden (51,4 persen) tujuan Reuni 212 adalah mewujudkan Ukhuwah Islamiyah, karena dapat menghimpun umat dari berbagai latar belakang, dimana mereka bisa shalat, berzikir dan berdoa secara bersama-sama adalah sebuah privilege tersendiri.

Bahkan dari acara tersebut ada yang bersedekah menyiapkan makanan dan minuman gratis untuk para peserta, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan Reuni 212 memperlihatkan aksi kesukarelawanan (voluntary action) dalam jumlah skala yang terbilang besar.

Selain itu, tujuan Reuni 212 menurut 31,9 persen responden adalah menjaga Persatuan Bangsa karena sejalan dengan Ukhuwah Islamiyah, mengingat Umat Muslim adalah bagian dari bangsa Indonesia, dan bangsa Indonesia sendiri sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, sehingga sebagai suatu fakta yang tak bisa disangsikan, sehingga gejala seperti ini mestinya dirawat dan dikelola agar integrasi nasional Indonesia menjadi lebih kokoh.

“Kita patut bersyukur dan memberi apresiasi karena fenomena reuni 212 menunjukkan keselarasan pandangan keagamaan dan kebangsaan. Peserta 212 menegaskan tak ada pertentangan antara misi ukhuwah keummatan dan persatuan bangsa, sebagaimana label atau stigma yang berkembang selama ini,” tutur Direktur LKSP, Astriana Baiti Sinaga.

Adapun Tujuan lain dari acara Reuni 212, yakni mengingatkan bahaya kasus penistaan agama dan gejala diskriminasi hukum atau kriminalisasi ulama menjadi faktor berikutnya, sehingga ganjalan tersebut harus segera ditangani agar persepsi ukhuwah keagamaan/kebangsaan semakin solid.

Selanjutnya 1 2 3 4

Baca Juga