LKSP : Survey Responden Menilai Reuni 212 Wujudkan Misi Kebangsaan dan Keagamaan Secara Selaras

Selain itu dari survey yang dilakukan kala ada pertanyaan “Apakah Saudara setuju bila dikatakan bahwa Reuni 212 mencerminkan gerakan intoleransi dan radikalisme?”, hampir semua responden (98,1 persen) menyatakan tidak setuju.

Hal tersebut karena para Responden tidak melihat tindakan intoleran dan radikal selama acara, dan memang latar belakang sosial-politik saat ini berbeda dengan tahun 2016, tatkala merebak kasus penistaan agama menjelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta.

Demikian pula, terhadap pertanyaan: “Apakah Saudara setuju Reuni 212 bila dikatakan bahwa Reuni 212 bertentangan dengan semangat persatuan nasional dan dakwah Islam yang rahmatan lil alamin?”.

Sebagian besar responden (98,1 persen) juga menyatakan tidak setuju, sebagaimana jawaban sebelumnya, responden memandang Reuni 212 justru mewujudkan misi kebangsaan dan keagamaan secara selaras.

Karena berbagai alasan itulah maka 95,2 persen responden berpendapat Reuni 212 dapat diselenggarakan pada tahun berikutnya, walaupun ada yang berpendapat (2,9 persen) cukup tahun ini saja atau tidak tahu (1,9 persen).
Sementara itu Direktur Center for Indonesian Reform (CIR), Sapto Waluyo, menanggapi hasil quick survey LKSP dengan nada kritis.

“Survei itu terkait persepsi peserta atau partisipan Reuni 212. Perlu ditelusuri persepsi masyarakat pada umumnya yang tidak terlibat acara: bagaimana perasaan mereka memandang gerakan 212? Apakah sebagai ancaman atau rujukan untuk persatuan bangsa?” tanya Sapto, dari resultante kedua pandangan itu bisa dilihat titik simpulnya.

Selanjutnya 1 2 3 4

Baca Juga