Lembaga Manajemen Kolektif

LMK Pelari Nusantara Resmi Mendapatkan Ijin Operasional dari Kemenkumham

AKURATNEWS.COM - Satu lagi Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) tentang Hak Cipta (performing right) muncul. Setelah berjuang untuk mendapatkan ijin operasional sejak tahun 2017 lalu, akhirnya mulai Minggu Depan  LMK-Pelari Nusantara (Pencipta Lagu Rekaman Indonesia Nusantara)  resmi mendapatkan Ijin Operasional dari Kemenkumham.

LMK- Pelari Nusantara  yang didirikan pada  1 Juni 2017 oleh alm Fritz Aritonang dan kawan-kawan  ini beranggotakan sekitar 235 orang para pencipta lagu atau pemberi kuasa.

Ketua Umum LMK- Pelari Nusantara Sandec Sahetapy menjelaskan bahwa dirinya ingin sekali membawa LMK- Pelari Nusantara  ini menjadi LMK yang bersih, transparan, akuntabel dan moderen.

“ Puji Tuhan, saya dipercaya  mendapat kepercayaan dari teman-teman pencipta lagu untuk memimpin LMK-Pelari Nusantara. Saya berusaha keras agar dalam mengelola LMK-Pelari ini nantinya bisa berjalan adil, transparan dan akuntabel. Oleh sebab itu, sebelum pendistribusian kepada para pemilik hak nantinya akan di kurasi terlebih dahulu agar tidak menjadi fitnyah, Kuratornya dari orang luar system yang berdiri secara independent,” jelas Sandec di Jakarta, pada Rabu 8 Desember 2021.

Lebih lanjut Sandec mengatakan bahwa, sebagai sebuah Lembaga baru, LMK-Pelari Nusantara tentu masih banyak belajar dalam mengelola royalty. Oleh karena itu ia ingin mengirimkan beberapa orang stafnya ke  LMK Kompass  yang berada di  Singapura.

“ Kita di Pelari Nusantara ini masih baru ya, jadi perlu belajar banyak tentang bagaimana mengelola royalty yang benar, adil dan transparan. Makanya dalam waktu dekat saya akan kirim staf kita untuk belajar di LMK Compass di Singapura,” tambah Putra berdarah Ambon ini.

Sandec sendiri mengaku optimis bahwa setidaknya 3 sampai 4 tahun  kedepan jika semua berjalan baik  royalty yang berhasil dikolek  oleh LMKN  bisa mencapai 1 triliun rupiah.

“ Setidaknya ada lebih dari 14  tempat yang wajib membayar royalty penggunaan karya cipta lagu, yaitu, Karaoke, Restoran, Seminar dan Konferensi komersial, Restoran, Kafe, Pub, Bar, Bistro,Kelab Malam, dan Diskotek, Konser Musik, Pesawat Udara, Bus, Kereta Api, dan Kapal Laut, Pameran dan Bazar, Bioskop, Nada tunggu telepon/RBT dari setiap operator,  Bank dan perkantor, Pertokoan, Pusat Rekreasi, Lembaga Penyiaran Televisi, Lembaga  Penyiaran Radio, Hotel , Kamar Hotel dan Fasilitasnya. Jika ini bisa dimaksimalkan maka dalam jangka waktu 3 atau 4 tahun kedepan bisa mencapai 1 Triliun Royalty yang bisa dikumpulkan oleh LMKN dan dibagikan kepada para pemilik hak,” tambah Sandec lagi.

Dalam urusan memuliakan para pencipta lagu sebagai pemilik hak eksklusif, Sandec berkeinginan seperti yang dijalankan di Amerika Serikat. Jadi musisi nggak perlu mikir royaltynya, karena sudah ada yang mengelola.

“ Di Amerika semua system sudah berjalan dengan baik, jadi musisi cukup  mikirin karyanya saja,  karena regulasi royalti di sana udah bagus. Bukan tidak mungkin nanti tahun depan  aku akan berangkat ke California untuk mempelajari lebih mendalam sistem kerja Royalti tersebut dan akan di adaptasi sesuai dgn kondisi di Indonesia,” Jelas Sandec lebih jauh.

Beberapa musisi yang karya lagunya terkenal sudah bergabung dengan LMK Pelari, diantaranya ada Fariz RM, Keenan Nasution, Rudy Rampengan  kemudian Nyong Franco yang menciptakan lagu “Maumere” dengan Lagu” Gemu Fa Mire”  yang juga mendunia. Ia berkali-kali menerima penghargaan baik MURI-TNI-POLRI bahkan swasta, tetapi dirinya mengaku belum menikmati Royalty yang layak.

“ Sejak 2013 silam lagu Nyong Franco yang berjudul Maumere terkenal dimana-mana, tetapi ia belum menikmati hasil Royaltynya yang  layak. Semoga dengan bergabungnya  Nyong Franco di LMK-Pelari Nusantara ini dapat merasakan Hak Ekonominya secara Baik dan Transparan. Pelari Nusantara siap menjadi lokomotif modernisasi pengelolaan royalty musik, ” tutup Sandec.

Penulis: Irish
Editor: Redaksi

Baca Juga