Lockdown, Antara Ekonomi Keok dan Keimanan Merosot

Akuratnews.com - Jumlah korban wabah corona di Indonesia terus bertambah secara signifikan. Hingga 27 Maret 2020 tercatat ada 1046 kasus positif terinfeksi covid-9 ini, sebarannya sudah mencapai 24 propinsi.

Namun demikian, meski grafiknya terus mengalami peningkatan, Presiden Jokowi kembali menegaskan tidak akan mengambil langkah lockdown. Padahal banyak negara mengambil langkah ini sebagai solusi cepat menghadapi pandemi.

Dalam rapat dengan gubernur seluruh Indonesia lewat video conference, Selasa (24/3/2020) lalu, Presiden  melarang pemerintah daerah mengambil kebijakan lockdown atau karantina wilayah dalam menghadapi pandemi Covid-19. Alasannya bahwa setiap negara memiliki karakter yang berbeda-beda, memiliki budaya yang berbeda-beda, memiliki kedisiplinan yang berbeda-beda.

Menurutnya, bagi Indonesia yang paling pas adalah physical distancing atau menjaga jarak aman. Dengan disiplin yang kuat dalam physical distancing  presiden yakin wabah ini teratasi (wartaekonomi.co.id,24/3)

Pro kontra lockdown masih santer terdengar. Sebab cara ini diduga efektif memutus rantai penyebaran covid-19. Namun beberapa pihak berpendapat cara ini cukup beresiko khususnya bagi  perekonomian RI.

Logikanya bahwa karantina wilayah akan menjadikan wilayah itu "lumpuh atau mati”, tidak adanya kegiatan di ruang publik berarti tidak ada perputaran ekonomi, tidak ada perputaran ekonomi bisa berimbas kepada keuangan negara, neraca perdanganan, nilai tukar rupiah dan sejenisnya.

Dilansir dari detik.com (22/3), ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, lockdown memberi dampak yang besar khususnya di ekonomi lebih besar dibandingkan social distancing (physical distancing) seperti saat ini. Karena saat ini 60-70 pekerja di Indonesia merupakan pekerja informal yang kebanyakan memperoleh pendapatan secara harian.

Namun ekonom senior Indef Dradjad Wibowo menolak anggapan bahwa tak perlu melakukan hal ekstrim macam lockdown. Lambatnya penanganan wabah akan  membiarkan perekonomian terlanjur merosot sangat dalam.

Dradjad menilai pemerintah dan masyarakat harus lebih serius untuk mencegah wabah ini meledak. Dia mengatakan kalau tidak bisa mencegah wabah ini terus meluas, justru perekonomian akan makin anjlok, skenario terburuk tidak akan bisa diselamatkan.

Bahkan gambaran cukup mengerikan disampaikan dr. Tifauzia Tyassuma mengatakan. Kondisi Indonesia saat ini, juga negara-negara lain, di minggu ke-4 perjalanan COVID 19 sudah masuk dalam fase kedua penyebaran COVID 19, menjadi Local Transmitted.

Ibarat perang, tidak mau cepat-cepat tutup gerbang, gerbang terlambat ditutup, ya sudah musuh berhasil masuk ke dalam benteng kota. (kronologi.id,24/03)

Kenyataan ini sungguh pilu dirasakan masyarakat. Lagi-lagi masyarakatlah yang akan menjadi korban. Anti-lockdown alih-alih demi kepentingan dan keselamatan masyarakat, yang terjadi justru lebih mengerikan.

Secara ekonomi nilai tukar rupiah terus melorot, bahkan telah tembus lebih dari RP 16.000 per dolar AS. Hal ini pasti berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Ditambah lagi, lambannya penanganan pandemi ini menimbulkan ketidakpastian dan kepanikan, tak sedikit masyarakat mengalami panic buying. Belum lagi ulah oknum-oknum yang nakal mengambil kesempatan dalam kesempitan, melakukan penimbunan barang.

Tak pelak, harga-harga kebutuhan melonjak, gula misalnya, tak hanya harganya melambung tetapi juga terjadi kelangkaan.

Langkah anti-lockdown yang diambil pemerintah dan hanya menerapkan social atau physical distance dengan harapaan akan terbentuk herd immunity atau kekebalan kawanan pada masyarakat sejatinya juga beresiko tinggi. Sebab bila itu menjadi kebijakan negara sama saja dengan negara membiarkan banyak warganya terinfeksi.

Diketahui Herd immunity atau juga dikenal dengan imunitas kawanan didefinisikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagai situasi di mana proporsi populasi yang cukup kebal terhadap penyakit menular (melalui vaksinasi dan/ atau antibody dari infeksi sebelumnya) membuat penyebarannya dari orang ke orang menjadi lambat bahkan bisa berhenti.

Namun, Apabila wacana herd immunity diterapkan di Indonesia, maka akan ada puluhan juta warga yang sakit. Hal itu tentu mengkhawatirkan, jika banyak yang sakit padahal keadaan fasilitas kesehatan di Indonesia belum semaju negara lain, maka akan gagal, bahkan negara maju seperti Inggris pun tak sanggup.(liputan6.com,24/03). Inggris pun mengumumkan lockdown, disusul kemudian India.

Lantas, bagaimana dengan negeri ini? Di tengah ketakutan akan wabah yang menghantui, rakyat seolah dibiarkan melawan covid-19 dengan imunnya sendiri. Amatlah wajar jika timbul pertanyaan, tidakkah ini bertentangan dengan perikemanusiaan yang adil dan beradab? Di mana negara yang semestinya  hadir sebagai pelindung rakyat? Rakyat butuh kepastian perlindungan agar timbul perasaan aman meski di tengah wabah karena ada negara yang hadir melindunginya.

Sebuah kenyataan pahit dihadapi masyarakat manakala negara mengurusi rakyat dengan sistem sekularisme - kapitalisme. Negara-negara dunia yang telah memberlakukan lockdown pun tampaknya terlambat. Sebab semestinya, langkah lockdown diambil sejak awal, sebelum mencapai ribuan nyawa menjadi korban. Bahkan mestinya karantina dilakukan sejak wabah masih di China dan belum menjadi pandemi.

Sayangnya, sistem kapitalisme senantiasa mengutamakan penilaian dari sudut pandang materi (ekonomi). Dengan landasan sekularisme, negara yang menganut kapitalisme akan mengesampingkan kacamata agama dalam menilai dan mencari solusi permasalahan.

Celakanya, negeri ini pun tampaknya belum mau melirik aturan agama dalam mencari solusi perkara yang di hadapi. Tak terkecuali dalam menangani covid-19 ini. Negara tampak lama memperhitungkan masalah ekonomi ketimbang mempercepat terputusnya rantai penularan corona. Korban telah mencapai angka seribu, namun tidak tegas mengambil langkah lockdown.

Padahal sudah semestinya penguasa melindungi rakyat, terlebih dalam wabah ini sekian banyak nyawa rakyat dalam ancaman. Satu nyawa sekalipun seharusnya jadi pertimbangan perlindungan. Baginda Rosulullah SAW telah bersabda,

“Sesungguhnya Imam/khalifah itu laksana perisai, tempatorang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”(HR Muslim)

Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk berfikir dan mengambil pelajaran. Allah lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah pun telah menunjukkan betapa syariat Islam yang diturunkanNya melalui Nabi Muhammad berisi aturan yang sempurna.

Rosulullah telah memberikan panutan pada manusia tatkala ada wabah melanda, sebagaimana belakangan telah masyhur bahwa Rosulullah pernah memberikan tuntunan dalam menghadapi wabah dan telah diterapkan pula pada masa kekhilafahan Islam seperti misalnya pada masa Umar Bin Khattab. Dan terbukti khilafah mampu mengatasi hal ini.

Rasulullah SAW bersabda :

“Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

“Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Oleh karenanya, dengan kacamata keimanan kepada Allah dan RosulNya, maka semestinya lockdown menjadi sebuah langkah yang harus diambil untuk negeri ini. Terlebih lagi jika tidak diambil mudharat yang ditimbulkan bisa lebih besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn ‘Abbas)

Wabah ini telah cukup memberi pelajaran. Betapa pun digdayanya manusia, tetaplah makhluk, bahkan bisa tak berdaya oleh makhluk - Nya yang lain, yang tak kasat mata. Maka sudah selayaknya bagi manusia untuk kembali pada aturanNya dalam semua aspek kehidupan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum:41)

*Penulis adalah seorang Muslimah Palembang

Penulis: Saptaningtyas

Baca Juga