Opini

Lockdown Ditolak, Covid-19 kian Merebak?

Akuratnews.com - Miris rasanya, mendengar korban Covid-19 semakin bertambah dari hari ke hari. Tak hanya yang berusia tua yang dikabarkan positif, tapi juga bayi dan anak-anak. Tak hanya di kota-kota besar yang kasusnya meningkat, tapi juga di daerah-daerah.

Himbauan memakai masker sudah dilakukan di tempat-tempat kerumunan. Sekolah-sekolah sudah diliburkan (belajar di rumah). Bahkan, PSBB pun sudah diterapkan di beberapa kota dan daerah. Lantas, kenapa virus covid-19 ini tak juga mereda ?

Rumah sakit semakin kewalahan menampung pasien  positif Covid-19. Sementara, pasien merasa stress dan jenuh karena merasa terasingkan dari keluarga dan masyarakat.

Di RSUD Indramayu misalnya, pasien Covid-19 ada yang nekat kabur dengan cara memanjat pagar rumah sakit. Akhirnya, pihak rumah sakit dibantu puskesmas, TNI, dan Polri berhasil membujuk pasien agar kembali ke rumah sakit ( Suara Jabar, Senin, 21 September 2020).

Berbagai tindakan dilakukan untuk menghambat laju penyebaran virus Covid-19. Di antaranya, dengan memberikan sanksi berupa denda bagi masyarakat yang tidak mengenakan masker ketika keluar rumah.

Di Indramayu, Operasi Yustisi Protokol Kesehatan (OYPK) dilakukan oleh tim gabungan dari unsur  TNI, Polri, Kejaksaan Negeri, BPBD,  dan Satpol PP kabupaten Indramayu. Operasi dilakukan dengan memberikan sasksi denda sejumlah uang. Hal ini berdasarkan pasal 20 ayat (3) Peraturan Bupati Nomor 45/2020 tentang Pengenaan Sanksi Administratif terhadap Pelanggaran Tertib Kesehatan dalam Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Penanggulangan Corona Virus Disease-19(Covid-19) . Republika(Kamis, 17 September 2020).

Wacana lockdown sudah didengungkan oleh banyak pihak sejak bulan Maret, awal mula masuknya virus Covid-19 di Indonesia. Namun, usulan ini tak juga diambil oleh pemerintah pusat agar segera diterapkan secara serentak di seluruh wilayah.

Sebenarnya, tidak perlu waktu lama untuk melakukan lockdown jika pemerintah tegas waktu itu. Berbagai pertimbangan diambil untuk tidak mengambil opsi lockdown. Terutama, alasan ekonomi. Padahal, permasalahan ekonomi yang sebenarnya terjadi adalah ada pada para pengusaha besar dan konglomerat. Mereka akan rugi besar alias bangkrut jika lockdown diterapkan.

Sementara, masyarakat menengah ke bawah hanya butuh diberi makan selama lockdown dilakukan. Tidak perlu waktu lama, cuma dua minggu hingga sebulan, maka penyebaran Covid-19 dapat ditekan.

Lagi pula, solusi lockdown itu sesuai dengan pengaturan Islam mengatasi bencana wabah, di antaranya seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Masih ada waktu untuk berbenah. Segera ambil solusi dari Sang Pencipta dalam mengatasi wabah. Sebelum semuanya terlambat dan korban semakin bertambah.

Namun, sangat disayangkan jika para penguasa dan pengambil kebijakan seolah bersikap pongah. Menerapkan sistem kapitalis sekuler yang hanya menimbulkan masalah. Asas manfaat dijadikan dasar dalam menyelesaikan setiap masalah. Manfaat dalam timbangan akal manusia. Yang tidak selalu bisa dinikmati oleh semua.

Saatnya kita bangkit dan jangan menyerah. Mari kita berbenah. Mengambil aturan Sang Pencipta secara kaffah. Agar negeri ini segera keluar dari semua masalah, menjadi negeri yang makmur dan penuh barakah.

Wallahu A'lam bisshowwab.

Baca Juga