Mafindo Sayangkan Hoax jadi Senjata Politik

Diskusi Publik Hoax dan Pemilu, KOMINFO Jl. Menteng Barat, Jakarta Pusat, Selasa (14/8/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com
Diskusi Publik Hoax dan Pemilu, KOMINFO Jl. Menteng Barat, Jakarta Pusat, Selasa (14/8/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com

Jakarta, Akuratnews.com - Menanggapi banyaknya isu yang beredar terkait dengan Pilpres 2019 mendatang, Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menggelar diskusi publik bertemakan Hoax dan Pemilu di Kementerian Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) Republik Indonesia, Selasa (14/8/2018).

Diskusi ini menghadirkan narasumber Anita Wahid (Presidium Mafindo),

Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si (Direktur Eksekutif The Political Literary Institute & Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta), Willy Aditya (Ketua DPP Nasdem Bidang Media dan Komunikasi Politik), Jansen Sitindaon (Ketua DPP Partai Demokrat), dan Andre Rosiade (Wasekjen Partai Gerindra).

Anita Wahid selaku Presidium Mafindo menjelaskan, diskusi ini bertujuan untuk mencegah semakin banyaknya 'hoax' atau berita bohong tersebar di masyarakat terutama mendekati pemilihan Presiden 2019-2024 mendatang.

Ia mencotohkan, hoax dalam pemilu Presiden banyak terjadi saat pemilu 2014 silam. Antusias masyarakat tinggi, namun partisipasi yang tinggi itu sangat disayangkan karena dibarengi dengan banyaknya berita yang salah dan memang sengaja dijadikan sebagai senjata politik.

"Itu adalah pemilu paling buruk sepanjang sejarah, paling tidak menurut saya. Dia (hoax) memang dipakai untuk menggelabui orang lain, kelompok, pihak dan kemudian memperkecil kemungkinan lawan untuk menang", ujarnya dalam diskusi.

Anita memaparkan berbagai dampak hoax dalam pemilu. Diantaranya kredibilitas dan integritas penyelenggara pemilu akan turun, terjadinya penurunan kualitas pemilihan, mampu merusak rasionalitas pemilih, dijadikan contoh bagi pemilu-pemilu diberbagai level (misalnya, Pilkada DKI Jakarta 2017), serta dapat menimbulkan konflik sosial (menimbulkan kebencian dan provokasi).

"Kita (Mafindo) tidak ingin hoax seperti ini muncul dan berkembang di publik dengan ramainya media sosial dan grup chat saat ini. Bagi orang yang terbiasa dengan media sosial mereka akan mengklarifikasi terlebih dahulu, tetapi bagi yang tidak terbiasa itu akan ditelan mentah-mentah, apalagi bagi yang offline", tukasnya. (Rhm)

Penulis:

Baca Juga