Opini

Mahasiswa Desa Diantara Ekonomi dan Kuliah Akibat Covid-19

Nurjannah Rijal, Kader PMII Rayon FEBI UINAM Cabang Makassar
Nurjannah Rijal, Kader PMII Rayon FEBI UINAM Cabang Makassar

Akuratnews.com - Saat ini kita sedang terkena bencana covid_19 (virus yang menyerang sistem pernapasan manusia), dimana semua orang terkendala dengan pekerjaannya dan diharuskan mengerjakan pekerjaaan yang biasanya diruang publik, dianjurkan dirumah saja untuk memutuskan rantai penyebaran virus Covid-19 ini.

Lain halnya dengan para petani didesa, yang sangat merasakan keluh kesah akibat kondisi virus Covid-19 karena petani harus mengerjakan pekerjaannya diluar rumah, membajak sawah, bercocok tanam yang tidak mungkin dilakukan dirumah.

Selama Pandemi ini, masyarakat pedesaan merasa sangat tersiksa, karena penghasilan yang berkurang, tidak seperti biasanya, padahal, fenomena harga beras dipasar cukup memuaskan.
Para petani hanya bisa mengandalkan bantuan dana desa yang tidak seberapa nominalnya, masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, belum lagi dengan bantuan dana sosial yang kerap salah alamat.

Dimasa Pandemi Covid-19 ini, selain menyiksa petani, juga memberikan dampak kepada banyak mahasiswa yang turut merasakan keluh kesah, dimana mahasiswa harus melakukan kuliah Daring (kuliah online) karena konsep dan anjuran dirumah saja, lagi-lagi demi memutuskan rantai penyebaran covid-19. Jaringan harus stabil dan kuota yang harus selalu ada.

Ada dua hal yang membuat mahasiswa pedesaan sangat terkendala, dimana para mahasiswa pedesaan harus mencari jaringan dengan mendaki sebuah bukit, tidak peduli jauh atau dekat untuk mencari jaringan agar mahasiswa bisa mengikuti kuliah online, sudah banyak kasus mahasiswa yang meninggal saat mencari jaringan agar bisa mengikuti kuliah secara online.

Selain itu, saat mencari jaringan, beceknya jalan untuk sampai dititik puncak yang mendukung kondisi jaringan, jurang gunung yang berbahaya serta terik panas matahari yang menyengat. Kuota harus ada, Dimana mahasiswa harus meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli paket (kuota).

Orang tua sangat terbebani karena penghasilan saat ini sangat kurang.
Utamanya mahasiswa yang orang tuanya berprofesi sebagai petani, tidak dapat memanen dengan maksimal hasil tanamannya.

Mahasiswa saat ini merasakan keresahan kuliah seperti ini, dimana Uang SPP tidak dikembalikan dan ditambah dengan beban baru yaitu membeli sebuah paket (kuota) agar dapat mengikuti proses perkuliahan, ilmu yang diberikan oleh dosen tidak dipahami dan dimengerti karena tidak efisiennya sistem pembelajaran online. Dengan kondisi mencekik ini antara keharusan memenuhi biaya kuliah dan krisis Pendapatan ekonomi, banyak orang tua yang berfikir ingin memberhentikan anaknya kuliah disemester selanjutnya, dengan alasan tidak mampu membayar uang SPP dan memberikan uang anaknya untuk membeli paket kuota.

Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi kehidupan mahasiswa didesa, utamanya bagi mahasiswa yang orang tuanya hanya mengandalkan pendapatan dari hasil bercocok tanam.

*Penulis adalah Kader PMII Rayon FEBI UINAM Cabang Makassar

Baca Juga