Majelis Hakim Tolak Dakwaan Oditur Militer Terhadap Peltu Fauzi

AKURATNEWS - Majelis hakim Pengadilan Militer III-12 Surabaya, menolak dakwaan oditur Militer terhadap Pembantu Letnan Satu (Peltu) M. Fauzi.

Peltu M. Fauzi yang merupakan anggota Kodim 0830 Surabaya Utara, oleh oditur Militer, Kolonel Laut Ediyanto Kesumo.S.H., M.H, didakwa dengan pasal 266 ayat (1) atau 266 ayat (2) KUHP dan pasal 167 KUHP.

Dimana Peltu M. Fauzi dianggap telah melakukan tindak pidana pemalsuan Surat Ikatan Perjanjian Ikatan Jual Beli dan Surat Kuasa Menjual, serta penyerobotan tanah seluas  1,5 hektar, yang berada di Kelurahan Gunung Anyar Tambak Surabaya.

Namun dalam sidang putusan sela, pada Senin (26/4/21) majelis hakim yang diketuai oleh Letkol CHK (K) Farma Nihayatula, S.H, memutuskan menolak dakwaan oditur militer dalam perkara nomor 32 K/PM.III-12/AD/III tersebut.

"Setelah menimbang, dan melihat fakta dipersidangan. Maka majelis hakim menjatuhkan putusan sela, menolak surat dakwaan oditur militer, terhadap terdakwa Peltu M. Fauzi," kata ketua Majelis Hakim.

Majelis hakim berpendapat, surat dakwaan yang disusun Oditur Militer melanggar ketentuan dalam pasal 130 ayat (2) Undang - undang 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer.

"Yang menjadi pertimbangan putusan sela ini adalah, surat dakwaan oditur militer, disusun secara tidak cermat, lengkap dan teliti. Tidak sesuai dengan pasal 130 ayat (2) Undang - undang 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer," tambah Ketua Majelis Hakim, Letkol CHK (K) Farma Nihayatula, S.H.

Sementara itu, Antonius Youngky Ardianto, S.H., penasehat hukum terdakwa berpendapat, bahwa keputusan majelis hakim untuk menolak dawaan oditur, sudah tepat.

"Dengan putusan sela ini terbukti, bahwa memang oditur militer tidak mampu menyusun dakwaan secara cermat, lengkap dan teliti. Sehingga membuat dakwaan menjadi kabur," kata pengacara dari kantor hukum AWS & Patners itu.

"Selain itu, surat perjanjian jual beli dan kuasa menjual yang dibuat dihadapan notaris dedy wijaya belum pernah dibatalkan," tambah pria yang akrab disapa Youngky tersebut.

Perlu diketahui, surat yang diduga palsu dalam dakwaan tersebut adalah Surat Perjanjian Ikatan Jual Beli nomor 203 dan Surat Kuasa Menjual nomor 204 tertanggal 13 Mei 2013, yang dibuat dihadapan Notaris Dedi Wijaya, S.H., Mkn.

Penulis:

Baca Juga