Indiskop Perdana Diresmikan

Mampukah Bioskop Rakyat Menggerus Ketidaksetaraan?

Jakarta, Akuratnews.com - Fakta jika masih adanya kesenjangan antara kelas menengah ke bawah dan kelas atas di negeri ini adalah hal yang tak terbantahkan.

Termasuk dalam urusan menikmati hiburan di bioskop. Banyak kelas menengah ke bawah tak mampu dan minder datang ke bioskop yang rata-rata nempel di mal-mal mewah.

Berkaca pada fakta tersebut, maka kehadiran sebuah bioskop yang terjangkau oleh kocek dan kemampuan kelas menengah ke bawah sejatinya jadi angin segar.

Dan inilah yang terjadi pada Senin (7/10) di Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara saat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf meresmikan beroperasinya bioskop rakyat Indiskop.

Indiskop merupakan inisiatif dari PT Keana Film bersama Kadin, Parfi ’56 dan didukung oleh Pemda DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya.

"Di dasarkan pada pemikiran bahwa pada 2017 jumlah layar lebar berbanding dengan populasi penduduk Indonesia yaitu 1 layar: 157.000 orang. Hal ini berarti kesempatan menonton masyarakat masih sangat rendah meskipun hingga kini layar bioskop masih terus bertambah yakni total 1.949 layar pada September 2019 dan diperkirakan sampai akhir 2019 jumlah total layar seluruh indonesia akan mencapai 2000 layar," ujar penggagas Indiskop sekaligus Direktur PT Keana Film, Marcella Zalianty saat pembukaan Indiskop.

Seperti layaknya sebuah bioskop, Indiskop hadir dengan alat pemutar film digital yang diproyeksikan ke layar berukuran 3,25 x 6 meter plus perangkat suara stereo/dolby dan ruangan ber AC.

Selain bioskop, juga terdapat ruang kreatif, lengkap dengan fasilitas untuk tempat kegiatan pelatihan dan pendidikan kaum muda. Food court jajanan Indonesia yang harganya terjangkau pun ada disini.

Penonton cukup merogoh kocek Rp15.000 (hari biasa) dan Rp20.000 (akhir pekan) untuk dapat menikmati film-film nasional.

“Indiskop memang hanya menayangkan film Indonesia dan menjadikan film nasional Indonesia tuan rumah di negara sendiri, sekaligus menjadi media untuk menyampaikan pendidikan, budaya, kreativitas, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan,” jelas Marcella.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengakui jika di Jakarta masih banyak warganya yang masih dalam upaya menuju mandiri dari segi perekonomian.

"Begitu harga bioskop dilakukan penyesuaian, maka masuk dalam ranking (pengeluaran) mereka," ujar Anies.

Dilanjutkannya, dalam hal bioskop masih belum ada kesetaraan antara kelas menengah ke bawah dan kelas atas.

"Alhamdulillah sekarang Indiskop sudah diresmikan dan akan kita lanjutkan di daerah-daerah yang tantangan sosial ekonominya tinggi," ujar Anies lagi.

Walau tak mudah mewujudkan Indiskop ini, namun bukan berarti tak ada tantangan selanjutnya usai Indiskop berdiri.

"Saya minta pengelola tetap memperhatikan pengelolaan, kenyamanan, kebersihan Indiskop ini.  Kita tahu kalo di XXI, di toiletnya aja kita bisa tidur. Saya mau disini juga begitu," ujar Kepala Bekraf, Triawan Munaf.

Direktur Operasional XXI, Jimmy Haryanto yang juga hadir dalam peresmian ini juga menyebut, apakah animo penonton datang ke kursi Indiskop akan tergugah juga lantaran film-film nasional yang tayang rata-rata adalah film yang telah lama selesai masa edarnya.

"Ya kita lihat nanti bagaimana perkembangannya. Ini juga butuh kesadaran para produser film. Mau nggak mereka ngasih filmnya diputar disini," papar Jimmy.

Pihaknya pun mengaku juga akan mendirikan bioskop rakyat di Pasar Kenari Jakarta Pusat. Izinnya dari Pemda DKI sudah dikantongi tinggal menunggu IMB selesai.

“Kebetulan bioskop kita yang di TIM kan tutup. Asetnya akan kita pindahkan ke sana,” ungkap Jimmy.

Semoga saja dengan semakin bertaburannya bioskop rakyat yang memfasilitasi film-film nasional, ekosistem industri film dapat terjaga hingga tak lagi ada produser yang teriak jika ada ketidaksetaraan atau diskriminasi yang dilakukan pengelola bioskop pada filmnya lantaran hanya kebagian sedikit layar.

Semoga..semoga...dan semoga...

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga