Ada Mandalika di Kendari, Si Rasa Manis Pelepas Dahaga

Ruslan, seorang warga Lombok penjual es dawet di Kendari (Foto: Novrizal R Topa)
Ruslan, seorang warga Lombok penjual es dawet di Kendari (Foto: Novrizal R Topa)

AKURATNEWS. COM - Menyebut Mandalika, kita langsung teringat sirkuit MotoGP yang berada di Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Dalam waktu dekat, 24 pembalap dari 12 tim balap MotoGP dipastikan siap tampil di Sirkuit Mandalika. Oleh karenanya, sontak nama Mandalika menjadi sohor diperbincangkan, ibarat putri raja yang menggelar sayembara.

Mashurnya Mandalika ini juga, membawa imbas baik bagi Ruslan, seorang penjual es dawet diseputaran bundaran Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra). Lantaran merek di gerobaknya bertuliskan "Es Dawet Mandalika", jualannya ramai dikunjungi warga. Bahkan menurutnya, komunitas-komunitas motor kerap kali mampir untuk berswafoto di gerobaknya.

"Sejak Mandalika menjadi perbincangan, saya ikut kebagian rezeky, es dawet saya laris manis, " kata Ruslan dengan sumringah.

Ruslan sangat senang, daerahnya menjadi sorotan dunia hingga terpilih menjadi salah satu sirkuit di ajang MotoGP. Apalagi, ajang tersebut dihadiri oleh pembalap-pembalap dunia.

Meski dirinya tidak bisa pulang kampung, namun dia selalu mendoakan keselamatan orang-orang yang mengikuti ajang tersebut, hal ini tak lain agar nama Mandalika terus berkibar dan senantiasa dikunjungi oleh banyak orang.

Ruslan mengatakan, kalau nama Mandalika merupakan bagian dari cerita rakyat yang didengarnya sejak kecil kala masih berada di tanah kelahirannya, Lombok.

Pria 57 tahun ini, mengkisahkan cerita rakyat Putri Mandalika sering dikaitkan dengan legenda asal muasal tradisi Bau Nyale yang sudah di lakukan secara turun temurun.

Adalah Mandalika, seorang putri raja yang dianugrahi paras cantik, hingga menjadi rebutan para pangeran kerajan-kerajan yang berada disekitarnya dan berniat untuk mempersuntingnya.

Mengetahui hal tersebut ternyata membuat sang putri menjadi gusar, karena jika dia memilih satu diantara mereka maka akan terjadi perpecahan antar kerajaan dan bahkan akan terjadi pertempuran.

Sang raja kemudian mengadakan kompetisi di pantai Seger Kuta, Lombok. Dia meminta semua pangeran untuk mengambil bagian dalam kompetisi memanah. Aturannya sederhana, siapa pun yang menembak sasaran dengan sempurna, ia bisa menjadi suami dari putrinya yang cantik.

Setelah mengatakan niatnya untuk menerima seluruh pangeran dan rakyat, akhirnya sang putri pun meloncat ke dalam laut. Seluruh rakyat yang hadir berusaha mencari sang putri, namun tiba-tiba mereka menemukan banyak cacing laut di pantai. Raja kemudian menyadari bahwa putrinya telah kembali sebagai cacing laut. Belakangan dia menamakan cacing itu sebagai nyale.

"Sampai sekarang, orang-orang di Lombok selalu berusaha menangkap nyale, " Pungkas Ruslan.

Penulis: Novrizal R Topa

Baca Juga