Tak Sependapat Kebijakan Mendikbud

Mas Kelana Minta Aktifkan Pembelajaran Di Sekolah atau Kampus

Sidoarjo, Akuratnews.com - Akibat pandemi Covid-19, berbagai sektor terkena dampaknya. Termasuk salah satunya, sektor pendidikan.

Betapa tidak, sejak awal virus Corona itu merambah negeri ini hingga sekarang, para pelajar dan mahasiswa kesulitan menempuh pendidikan secara tatap muka.

Sesuai kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, agar pihak sekolah dan perguruan tinggi melaksanakan sistem pembelajaran di rumah melalui daring selama pandemi Covid-19.

Namun kenyataannya, belajar via online itu tidak berjalan optimal. Bahkan, banyak yang tidak dapat belajar sama sekali. Mengingat, tidak semua dari mereka yang memiliki handphone (hape). Kalau toh, mereka memegang hape, tak mampu membeli paket data untuk mengakses internet terus-menerus.

Tak pelak, seiring berjalannya waktu, kebijakan Menteri Nadiem Makarim itu menuai protes dari masyarakat, terutama para orangtua dari kalangan menengah ke bawah. Mereka menilai penerapan sistem pembelajaran di rumah melalui daring itu sangat merugikan mereka dan anak-anak mereka, baik yang duduk di bangku sekolah maupun perguruan tinggi.

Alasannya, semangat gairah belajar anak-anak mereka cenderung menurun. Lantaran, tak ada lagi yang bisa mengarahkan dan memberikan bimbingan terhadap anak-anak mereka, seperti layaknya belajar di sekolah atau kampus. Tampak, anak-anak mereka bak bola liar yang menggelinding tak tentu kemana arahnya.

Rupanya, bukan hanya para orangtua yang keberatan dengan kebijakan Menteri Nadiem Makarim itu, tapi juga bakal calon Bupati Sidoarjo 2021-2024 dari PDI-P dan PAN, H. Kelana Aprilianto, akrab disapa Mas Kelana ini pun merasa prihatin mendengar keluhan para orangtua, serta melihat keadaan anak-anak mereka yang masih pelajar dan mahasiswa itu.

Nah, apa yang membuat Mas Kelana prihatin? Lalu, bagaimana jalan keluar terbaik menurut pemikiran dia? Akuratnews.com mengungkapkannya sekilas dalam tulisan seri ke-48 ini.

Dikemukakan Mas Kelana, sistem pembelajaran daring di rumah dalam kondisi pandemi Covid-19 terkesan praktis, akan tetapi tidak semua pelajar atau mahasiswa bisa mengikuti secara maksimal, karena terbentur empat faktor yang jadi kendalanya.

"Ya, ada empat faktor kendalanya, yaitu jaringan internet, kepemilikan hape dan tersedianya wifi atau paket kuota data, serta dana. Satu atau lebih dari keempat faktor ini tidak terpenuhi tentu problem. Imbasnya? Ya, mereka tidak bisa fokus atau konsentrasi penuh dalam pembelajaran lewat online itu," tuturnya.

Akibatnya, sambung Mas Kelana, mereka menyusahkan orangtua yang diketahui kesehariannya repot dengan urusan keluarga dan rumah tangga.

"Itulah yang membuat saya prihatin, sehingga saya kurang sependapat dengan kebijakan Mendikbud," ucapnya.

Lebih lanjut dijelaskan Mas Kelana, kemungkinan solusi terbaik dari permasalahan tersebut, sebaiknya aktivitas belajar di sekolah atau kampus segera dibuka dengan aturan tertentu yang tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Aturan tertentu, semisal, kapasitas tiap ruang belajar dikurangi 50% atau lebih pelajar/mahasiswa, jam masuk terbagi dua atau lebih, jam belajar dibatasi dua tiga jam per hari dan seterusnya. Terpenting, aktivitas sekolah atau kampus berjalan," terangnya. (Bersambung)

Baca Juga