Masih Finalisasi Produk Hukum, OJK Tetap Larang Debt Collector Tarik Kendaraan

Jakarta, Akuratnews.com - Di Rapat Terbatas (Ratas), Selasa (24/3), Presiden Joko Widodo (Jokowi) membahas sejumlah kebijakan ekonomi guna meringankan beban rakyat yang makin terhimpit akibat wabah virus Corona (Covid-19) yang sangat berdampak pada UMKM dan pekerja di sektor informal.

Dalam keterangannya di Ratas tersebut, Presiden menyampaikan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan kelonggaran/relaksasi kredit usaha mikro dan usaha kecil dibawah Rp10 miliar baik kredit/pembiayaan yang diberikan oleh bank maupun industri keuangan non-bank kepada debitur perbankan.

Para debitur akan diberikan penundaan sampai dengan satu tahun dan penurunan bunga. Termasuk pelarangan bagi bank dan perusahan pembiayaan/leasing menggunakan debt collector untuk menagih debitur.

Lalu, bagaimana OJK mengatur larangan penarikan kendaraan bermotor oleh debt collector?

Dalam keterangan pers OJK, Rabu (25/3) disebutkan, sementara ini OJK sedang melakukan finalisasi bentuk produk/payung hukum setelah melakukan koordinasi dengan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia agar penerapannya tidak menimbulkan moral hazard.

"Dan sebagai catatan penting, OJK sementara waktu melarang penarikan kendaraan oleh debt collector. Namun ini diiringi kewajiban debitur yang sudah bermasalah sebelum wabah Covid-19, dan mengalami tambahan permasalahan karena wabah Covid-19, diharapkan untuk menghubungi kantor leasing terdekat untuk dicarikan kesepakatan, antara lain penjadwalan kembali angsuran," ujar OJK dalam keterangan pers ini.

Dilanjutkan OJK, pihaknya pun memberikan cara guna menyikapi jika masih ada debt collector yang berusaha melakukan penarikan kendaraan bermotor.

Debitur dikatakan OJK dapat memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan restrukturisasi tentunya dengan mengajukannya kepada perusahaan pembiayaan/leasing untuk mengklarifikasi pemenuhan kewajibannya jika memang sudah dilakukan.

Pengajuan dapat disampaikan secara online (email/website yang ditetapkan oleh bank/leasing) tanpa harus datang bertatap muka.

"Sekarang ini debt collector diminta dihentikan sementara untuk menarik kendaraan, karena ini bagian dari tuntutan segera bisa membantu masyarakat yang terdampak langsung. Namun demikian, kami mengingatkan apabila debitur
memiliki tunggakan, untuk tidak diam. Debitur harus proaktif untuk mengajukan restrukturisasi. Karena kalau diam ataupun menghindar, berarti memang ada kewajiban yang masih harus ditunaikan. Karena mungkin masyarakat ada yang lupa kalau memiliki tunggakan, sehingga perusahaan harus menurunkan debt collector. Betul ada relaksasi untuk pembayaran ini, namun demikian, OJK juga mengharapkan kerja sama dari seluruh masyarakat untuk secara bertanggungjawab bisa memanfaatkan ini," ujar OJK.

Lalu, bagaimana cara dan syarat agar bisa mendapatkan relaksasi kredit/leasing?

Pelaksanaan restrukturisasi ini diprioritaskan untuk debitur yang memiliki itikad baik dan terdampak akibat Covid-19. Beberapa hal penting yang wajib diketahui adalah sebagai berikut:

a. Debitur wajib mengajukan permohonan restrukturisasi melengkapi dengan data
yang diminta oleh bank/leasing yang dapat disampaikan secara online (email/website yang ditetapkan oleh bank/leasing) tanpa harus datang bertatap muka.

b. Bank/Leasing akan melakukan assesment antara lain terhadap apakah debitur termasuk yang terdampak langsung atau tidak langsung, historis pembayaran pokok/bunga, kejelasan penguasaan kendaraan (terutama untuk leasing)

c. Bank/Leasing memberikan restrukturisasi berdasarkan profil debitur untuk menentukan pola restrukturisasi atau perpanjangan waktu, jumlah yang dapat direstrukturisasi termasuk jika masih ada kemampuan pembayaran cicilan yang nilainya melalui penilaian dan/atau diskusi antara debitur dengan bank/leasing. Hal ini tentu memperhatikan pendapatan debitur yang terdampak akibat Covid-19.

"Informasi persetujuan restrukturisasi dari bank/leasing disampaikan secara online atau via website bank/leasing yang terkait," pungkas OJK.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga