Mati Tidak Wajar, Kuasa Hukum Minta Oknum BNNP Kaltim Dihukum Berat

Kuasa Hukum Keluarga Laode Noviandi, Fajriannur, SH saat memberi keterangan kepada awak media (12/01)

Jakarta, Akuratnews.com- Kasus kematian secara tidak wajar (4 peluru bersarang di lutut dan betis serta muka babak belur) terhadap almarhum saudara La Ode Nofiandi yang dilakukan sewenang-wenang oleh pihak BNNP Kaltim pada 28 Desember 2016 yang lalu, hingga kini menuai pertanyaan dari berbagai pihak. Pasalnya status korban hanya sebagai saksi dalam kasus narkoba.

Kuasa hukum dan organisasi pendamping keluarga korban kembali mendatangi Mabes polri dan Kompolnas dengan tujuan melaporkan oknum BNNP Kaltim, agar proses hukum bisa berjalan dengan semestinya, demi tegaknya keadilan di negara Indonesia.

Fajriannur kuasa hukum korban ( Nofiandi) mengatakan, awal mula terjadinya penjemputan paksa almarhum saudara La Ode Nofiandi  pada tanggal 28 Desember 2016 oleh anggota BNNP Kaltim tanpa ada kejelasan dan surat tugas yang disampaikan kepada pihak keluarga.

Bahkan, pihak keluarga terkejut dengan adanya penangkapan oleh anggota BNNP Kaltim di rumah Nofiandi.

"Saat penangkapan tersebut keluarga tidak diketahui status anaknya apa saksi atau pelaku, kata  Fajriannur kepada wartawan, Kamis (12/01/2017).

Dia menjelaskan, bahwa saat petugas BNNP Kaltim mendatangi rumah orang tua Nofiandi, ketika itu posisi Nofiandi sedang tertidur, kemudian anggota BNNP Kaltim yang tidak membawa surat tugas, kemudian memaksa untuk membawa Nofiandi.

Selain itu, sempat terjadi pemukulan terhadap korban di hadapan keluarga Nofiandi dan sempat ada letusan tembakan tiga kali ke arah udara.

Kuasa hukum mengaku, saat ditanyakan status anaknya  kepada Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP Kaltim, Kompol Muhammad Daud, pihaknya mengatakan korban sebagai saksi dalam kasus narkoba.

Namun, keluarga juga sempat menyayangkan sikap BNNP Kaltim yang tidak memberitahu anaknya akan dibawah kemana.
Karena merasa penasaran,pihak keluarga kemudian mencari nofiandi ke kantor BNP Kaltim, tetapi sampai disana ,anaknya tidak ditemukan.

Selanjutnya pihak keluarga mencari ke Polsek-Polsek Samarinda, namun belum membuahkan hasil.

Akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk mencari kembali ke Rumah Sakit Umum di Daerah Samarinda, dan keluarga menemukan keadaan anaknya sudah di dalam ruangan Unit Gawat Darurat ( UGD) dengan posisi kaki tertembak.

"Ternyata ketemu anaknya berada di RS di Samarinda disana Nofiandi ditemukan di ruang UGD dalam keadaan kaki tertembak, kami menduga ada penganiayaan dan melanggar HAM," jelasnya.

Tetapi anggota BNP Kaltim melarang keluarga mengambil photo dan mengusir keluarga untuk membesuk.

Kata dia , setelah mengetahui anggotanya melakukan penembakan dan penganiayaan terhadap Nofiandi, pihak BNNP Kaltim yang diwakili Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP Kaltim, Kompol Muhammad Daud, mengatakan, meminta maaf atas prilaku anak buahnya yang berbuat .

Namun, orang tua, mendapat kabar sekitar jam 1, ada anggota BNNP Kaltim yang menyampaikan, bahwa Nofiandi, kekurangan darah, tetapi setelah keluarga sampai disana korban sudah berada di kamar jenazah.

"Keluarga juga kaget melihat posisi anaknya sudah meninggal di kamar jenazah. Ini sudah melanggar hukum apa yang dilakukan pihak anggota BNP Kaltim," ujarnya.

Karena tidak terima anaknya mati tidak wajar, maka pihak keluarga meminta pihak Mabes Polri mengusut tuntas kasus kematian anaknya hingga selesai.

"Karena kami takutnya kena pasal tunggal 351 apakah ini penganiayaan ringan kenapa tidak.dikenakan pasal yang menyangkut soal.pembunuhan berencana dan pengeroyokan," tegasnya.

Sementara, kepala BNNP Kaltim dan Polres Samarinda berjanji akan membentuk tim untuk mengusut kasus ini.

"Kami akan menggugat pihak bnn atas kejadian yang menimpa anaknya.Polisi tidak bisa bertindak begitu saja apa yang sudah dilakukan, selain dipecat dan dihukum ada sanksi tegas," pungkasnya. (Ahyar)

Penulis:

Baca Juga