Menunggu Komitmen Kabupaten/Kota

Melarang Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok demi Melindungi Anak Indonesia

webinar bertema “Kota Layak Anak Tanpa Iklan Promosi Sponsor Rokok Untuk Mendukung Target Penurunan Perokok Anak Dalam RPJMN 2020-2024”

Akuratnews.com - Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam melindungi anak dari ancaman rokok. Berbagai tantangan itu antara lain mudahnya akses anak untuk membeli rokok karena harganya sangat murah dan bisa dibeli batangan, masih banyak orang merokok di sembarang tempat, serta paparan iklan, promosi dan sponsor rokok yang masif.

“Tidak mudah untuk mengatasi tantangan ini. Dibutuhkan upaya kuat melalui penguatan regulasi dan komitmen untuk melindungi anak dari paparan asap rokok dan paparan iklan, promosi dan sponsor rokok,” kata Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak, dalam webinar bertema “Kota Layak Anak Tanpa Iklan Promosi Sponsor  Rokok Untuk Mendukung Target Penurunan Perokok Anak Dalam RPJMN 2020-2024” yang berlangsung secara daring di Jakarta hari ini (12/8/2021).

Lisda menjelaskan agresivitas industri rokok menyasar anak muda dengan cara beriklan di dekat tempat anak beraktivitas setiap hari, khususnya dekat sekolah. Terbukti dari hasil Survei Yayasan Lentera Anak pada 2015 menunjukkan sebanyak 85 persen sekolah, mulai dari TK hingga SMA, di lima kota dikepung iklan rokok.

Begitu pula penelitian yang dilakukan Peneliti dari Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Nurjanah, juga menemukan banyaknya iklan rokok di sekitar lingkungan sekolah. Dalam penelitian berjudul Kepadatan Iklan Rokok Di Sekitar Sekolah tahun 2018, tercatat 3.453 titik iklan rokok yang ada di Semarang, dimana lokasi penjualan rokok tersebut berjarak sampai 300 meter dari 978 sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA. Nurjanah menyatakan kepadatan iklan rokok terbukti berpengaruh terhadap perilaku merokok siswa. Kepadatan iklan rokok tinggi berisiko membuat anak 2,16 kali menjadi perokok aktif dibanding yang kepadatannya rendah.

Sejumlah studi yang lain juga telah menunjukkan bahwa paparan iklan rokok sejak usia dini dapat meningkatkan persepsi positif dan keinginan untuk merokok. Seperti studi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) pada 2007 yang menyebutkan sebanyak 46,3 persen remaja mengakui iklan rokok mempengaruhi mereka untuk mulai merokok, serta studi dari Surgeon General yang menyatakan iklan rokok mendorong anak-anak mencoba merokok serta menganggap rokok merupakan hal yang biasa.

Tidak heran jika agresivitas pemasaran rokok kepada anak, melalui maraknya Iklan, Promosi dan Sponsor rokok di sekitar mereka dan promosi harga rokok yang sangat murah, menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah perokok anak. Kecenderungan perokok pemula usianya lebih dini, yaitu pada kelompok usia 10-14 tahun, naik 2 kali lipat dalam kurun waktu 9 tahun. Prevalensi prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun terus meningkat dari tahun ke tahun, dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% atau 3,3 juta anak pada 2018 (Riskesdas 2018).

Selanjutnya 1 2 3
Penulis:

Baca Juga