Melarikan Diri dan Bahayakan Petugas, Ini Alasan Penembakan Nelayan Sainoa

Jakarta, Akuratnews.com - Beberapa waktu terakhir ini, Morowali dihebohkan dengan adanya operasi patroli KP HIU 05 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Pangkalan Pengawas Sumberdaya Kelautan Perikanan (PSDKP) Bitung bersama Petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Morowali.

Dalam oprasi patroli tersebut, petugas PSDKP berhasil menangkap sejumlah kapal yang tidak berijin. Bahkan yang tidak kalah heboh dan jadi sorotan, penembakan seorang nelayan desa Sainoa karena diduga melakukan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak (bom).

Menyikapi sorotan publik atas penembakan seorang nelayan desa Sainoa, Kepala Sub Koordinator Pengawas, Pengamanan dan Pelanggaran PSDKP Pangkalan Bitung, Bayu Suharto, S.Pi, M.Si bersama sejumlah anggota PSDKP Pangkalan Bitung melakukan konfrensi pers bersama Kadis Perikanan dan Keluatan Morowali, Drs. Fajar di Kantor Dinas Perikanan dan Kelautan Morowali, Kompleks Perkantoran Funuasingko, Sabtu (6/3/2021).

Menurut Bayu, kronologis kejadian penangkapan ikan pelaku Destructive Fishing atau penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan juga alat tangkap bantu yang dilarang berawal, pada tanggal 3 Maret sekitar jam 11.36 wita, kapal dari kementerian kelautan dan perikanan KPU 05 melakukan patroli dengan cara penyamaran dipesisir desa Tanjung Harapan dengan menggunakan perahu nelayan.

"Sekitar pukul 11.26 wita, petugas mendeteksi perahu nelayan yang terindikasi pelaku Destructive Fishing (bom ikan). Kurang lebih jarak 100 meter didapati ada 3 orang nelayan yang sedang melakukan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Sebab petugas dilapangan mendengar bunyi ledakan. Kemudian, petugas secepatnya merapat ke posisi terjadinya ledakan. Dan seketika, para tersangka atau para pelaku ini langsung melarikan diri," ungkap Bayu.

Melihat kejadian tersebut, tambahnya, petugas dilapangan memberikan tembakan peringatan ke arah atas. Akan tetapi, salah satu pelaku berupaya membahayakan para petugas dengan mengarahkan haluan kapalnya ke petugas yang mencoba akan menabrak petugas di lapangan. Sehingga, petugas memberikan tembakan di sisi kiri dan kanan kapal.

"Pelaku tetap dengan kecepatan tinggi melarikan diri ke arah daratan, kemudian petugas melakukan pencarian kurang lebih sekitar 1 jam lebih, tapi tidak menemukan. Sehingga kapal yang ditinggalkan oleh si pelaku ini kita amankan ke pelabuhan Bungku untuk proses lanjutan," terang Bayu.

Dari atas kapal pelaku, lanjut Bayu, petugas PSDKP menemukan barang bukti berupa kompresor, selang kompresor ikan hasil tangkapan, jaring dan juga alat menyelam. Setelah itu, keesokan harinya pelaku dibawa ke rumah sakit Morowali untuk dilakukan operasi pengeluaran proyektil.

"Dan setelah pelaku berinisial AI dinyatakan sehat untuk dikeluarkan dari rumah sakit tadi kita sudah mengambil keterangan pelaku dengan melakukan pemeriksaan yang pertama sebagai saksi dulu dan digelar perkara. Berdasarkan kesimpulan penyidik dengan dua alat bukti yang cukup, maka pemeriksaan kedua pelaku sudah sebagai tersangka.

AI yang saat ini sudah ditetapkan tersangka, kata Bayu, sudah diamankan dan pelaku lain yang sampai saat ini masih dalam pencarian. Dan untuk tersangka AI, dijerat dengan UU nomor 45 tahun 2009 dan UU nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dengan ancaman diatas 5 tahun penjara.

Dalam kesempatan yang sama AI saat dikonfirmasi mengaku, tidak melakukan pemboman. AI mendekat kearah sumber suara meledaknya bom untuk mengambil ikan. Naas menimpa, dirinya justru jadi sasaran petugas dan bahkan ditetapkan sebagai tersangka.

"Saya hanya mendekat untuk mengambil ikan. Sebab saya turun untuk memancing, dan bukan ba bom. Itu ada gurita, buktinya. Justru yang membom itu, orang lain," ucap AI.

Penulis: Wardi Bania

Baca Juga