Memprihatinkan, Seorang Guru Ngaji Tinggal di Bekas Kandang Soang

Di era yang sudah milenium seperti saat ini, rupanya masih ada orang yang tinggal di gubuk 'derita'. Dialah Ibu Imas Romdona (39) yang sudah 2,5 tahun tinggal di gubuk bekas kandang soang (angsa-red) bersama kedua anaknya.

Bogor, Akuratnews.com - Kehidupan yang serba memprihatinkan terlihat betul pada diri Imas Romdona. Bagaimana tidak, perempuan yang sehari-harinya mengandalkan penghasilan hidup dari mengajar mengaji ini, menempati sebuah gubuk yang tak layak huni.

Imas Romdona sendiri tercatat sebagai warga Kampung Pajeleran, RT03/08, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Sementara gubuk 'derita' yang ditempati bersama kedua anaknya berukuran 4 x 5 meter.

Sehari-hari, Imas Romdona mengajar mengaji di lingkungan tempat tempat tinggalnya. Sedangkan sang suami bekerja sebagai buruh serabutan di Jakarta.

Minimnya penghasilan sebagai guru ngaji, tak jarang membuat Imas Romdona memutar otak untuk bertahan hidup. Sementara, sang suami, Yayat Supriyatna bekerja di daerah Jakarta dengan penghasilan yang tidak menentu. Bahkan sejak kasus virus corona merebak sang suami jarang sekali pulang.

“Ini tadinya kandang soang, saya bilang kalau dibersihin dan dijadikan tempat tinggal enak juga dari pada ngontrak mahal soalnya suami saya penghasilannya tidak tentu. Kalau dapat uang dia pulang dan kalau gak dapat dia enggak pulang karena percuma pulang juga karena gak bawa hasil,” tutur Imas Romdona, asal Pandeglang, Banten.

Menyikapi hal ini Fatayat Nadlatul Ulama (FNU) Kabupaten Bogor langsung mengambil sikat positif dengan memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian lembaga tersebut.

Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Mahmud, SH, HM mengatakan, keberadaan gubuk beralas tanah dan beratap terpal tersebut jelas sangat memprihatinkan dan jauh sekali terbilang layak huni.

Sementara Amin, Ketua RT03/08, menerangkan bahwa pihaknya telah beberapa kali mengajukan permohonan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Namun lagi-lagi faktor keberuntungan belum berpihak pada wanita kelahiran 39 tahun silam itu.

“Saat ini telah memiliki KTP di Kelurahan Sukahati dan sudah 12 tahun mengabdi sebagai guru ngaji,” ujar Amin.

NU Peduli segera mengirim bantuan dan gerakan ini dipimpin secara spontan oleh H. Amirullah, SH Wakil Ketua PCNU, Mahmud, SH MH Wakil Sekretaris PCNU, Chaerudin LPBI NU dan Mey Fitriani Ketua Fatayat.

Mahmud menyatakan perhatian lembaga perempuan seperti Fatayat NU dalam Bingkai NU Peduli dipelopori Teh Mey Fitriani.

"Alhamdulillah menjadi penyemangat ibu Imas menjalani kondisi ini. Diharapkan Fatayat NU terus bisa mengawal situasi guru guru ngaji perempuan yang senasib ibu imas sehingga ada jalan untuk meringankan beban hidup ekonomi mereka." imbuh Mahmud.

Sementara itu anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Erni Sugianti juga mengaku merasa iba dengan keberadaan guru ngaji tersebut.

"Dibutuhkan perhatian pemerintah Daerah Kabupaten Bogor yang lebih besar support yang lebih serius untuk para ibu yang menjadi tulang punggung keluarga seperti ini. Tempat tinggal yang tidak layak untuk seorang guru mengaji yang kadangnya didatangi anak anak untuk mengajar mengaji sudah seharusnya mendapat perhatian khusus dengan jalan memperbaiki melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari pemerintah." papar Erni Sugianti.

Penulis: Redaksi

Baca Juga