Menakar 100 Hari Kerja Mendagri

Melihat kecemerlangan karier Tito selama di Kepolisian, ada harapan besar dari Presiden Jokowi dengan memberikan mandat kepadanya sebagai Mendagri dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Tugas yang teramat berat mengingat di zaman post truth seperti saat ini, kebenaran menjadi sebuah barang langka.

Di era post truth, mengutip definisi Kampus Oxford: sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Zaman di mana kebohongan dapat menyamar, berkamuflase menjadi kebenaran. Dengan memainkan emosi dan perasaan, sentimen keagamaan, SARA, politik identitas, dan sebagainya. Seperti yang pernah diungkapkan Joseph Goebbels, Menteri Propaganda NAZI pimpinan Hittler, "Kebohongan yang dilakukan secara terus-menerus akan bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran".

Karena itu, tantangan terbesar Mendagri beserta jajarannya yang menjadi pekerjaan rutin setiap tahun ialah penyelenggaraan Pilkada serentak. Di depan mata ada Pilkada serentak tahun 2020 yang akan melibatkan 107 juta pemilih. Tentu saja, segala kemungkinan terburuk dari pengalaman Pilkada selama ini, kontestasi politik selalu dibumbui perang di sosial media, penyebaran berita hoaks, ujaran kebencian, mobilisasi perasaan dan emosi dengan menyeret isu keagamaan dan SARA.

Pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964 itu sosok Perwira Tinggi Polisi berprestasi. Tito telah mencapai posisi puncak kepemimpinan tertinggi dalam organisasi Kepolisian Negara RI, yakni Kapolri ke-23 RI (2016-2019).

Ia berhasil meraih pangkat Jenderal Bintang Empat relatif sangat cepat. Sejak Tito lulus Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1987 dan menjadi Kapolri termuda ke-2 (52 tahun) setelah Hoegeng Imam Santoso, Kapolri ke-5 (47 tahun).

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6
Penulis:

Baca Juga