Menakar Kehebatan Rudal Balistik “Pembunuh” Milik Tentara Komunis China

Rudal Balistik ICBM Dongfeng 41. (Foto dok. The Sun)

Beijing, Akuratnews.com - Militer China menjadi kekuatan mumpuni di Kawasan Asia yang bisa disebut menjadi pesaing bagi jumawanya Amerika Serikat (AS) dan Sekutunya, termasuk Rusia. Angkatan bersenjata China kerap memamerkan sejumlah senjata menakutkan termasuk senjata terbarunya dalam parade militer di Beijing beberapa waktu lalu.

Modernisasi menjadi program utama pemerintah China di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Salah satunya adalah modernisasi perangkat rudal balistik paling menakutkan yang mampu menjangkau seluruh wilayah AS.

Sejak berhasil mencuri cetak biru bom Atom dari AS yang menghasilkan jejak spionase China paling ekstrem di dunia, Militer China terus bergerak membuat senjata mematikan yang dapat mencapai seluruh permukaan dunia mana pun.

Melansir situs nasional, salah satunya adalah rudal balistik Dongfeng-21D (DF-21D) yang dijuluki sebagai misil "Carrier Killer" atau "Pembunuh Kapal Induk" dan rudal DF-26 yang dijuluki sebagai misil "Guam Killer" atau "Pembunuh Guam". Guam adalah wilayah di Pasifik yang menjadi rumah bagi pangkalan militer rahasia Amerika Serikat (AS).

DF-21D, diresmikan pada parade militer tahun 2015, yang diklaim China mampu menghantam kapal induk dari jarak hingga 1.500 kilometer. Sedangkan DF-26 tercatat sebagai rudal jarak menengah.

Sementara dalam parade militer yang digelar China awal bulan ini, China kembali mengeluarkan series Dongfeng yang lebih menakutkan, disebut sebagai Dongfeng 41 atau series DF-41 kini China memiliki peningkatan luar biasa untuk Dongfeng 41 ini, dikenal sebagai Rudal Balistik antar Benua (intercontinental ballistic missile atau ICBM), diuji coba pada 2013 dan 2014, rudal balistik ini menjadi kekuatan paling powerfull dari banyaknya varian rudal berpeluru nuklir yang dibuat China.

Rudal ICBM DF-41, dapat membawa beberapa hulu ledak nuklir dan mencapai daratan Amerika Serikat dalam waktu kurang dari setengah jam.

Selain itu, China juga telah membuat langkah cepat dalam mengembangkan rudal hipersonik, yang dikenal sebagai DF-17, yang secara teoritis dapat bermanuver tajam dengan kecepatan melampui kecepatan suara. Senjata ini semakin memperkuat jangkauan China.

Kengerian baru perlombaan senjata mematikan telah mencapai tahapan hipersonik yang artinya belum ada satu pun persenjataan yang mampu mencegat atau mencegah hantaman rudal tersebut.

Bahkan, sebagaimana dilansir Reuters, Sam Roggeveen, direktur Program Keamanan Internasional Lowy Institute yang bermarkas di Sydney, mengatakan tidak ada sistem pertahanan yang bisa diterapkan untuk melawan rudal-rudal hipersonik, selain menyerang peluncur. Itu artinya harus menyerang daratan China. Langkah seperti itu membawa risiko respons nuklir.

"Rudal, terutama rudal jarak menengah, sangat penting bagi strategi anti-akses dan penolakan area, yang merupakan jantung dari strategi PLA untuk melawan kekuatan udara dan maritim Amerika di Asia," kata Roggeveen, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/9/2019).

Perhitungan itu di luar dari munculnya stone jenis baru dalam bentuk siluman dan memungkinkan juga untuk diisi dengan bom nuklir dalam wadah siluman yang saat ini juga dikembangkan China.

Analis militer dunia umumnya sangat tertarik dengan potensi pertunjukan dua model drone siluman China selama parade militer pada tahun ini.

China memiliki praktik hanya menampilkan sistem senjata dalam parade jika statusnya sudah operasional. Artinya, jika drone siluman ditampilkan, maka kemungkinan besar kendaraan udara nirawak canggih itu telah memasuki layanan militer, salah satu drone siluman di antaranya, Sharp Sword, yang menyerupai drone siluman seri X-47 yang diluncurkan oleh operator Amerika Serikat. Media pemerintah mengatakan pesawat nirawak Sharp Sword telah melakukan uji terbang pertama pada 2013.

Para pengamat militer juga penasaran dengan drone andalan China yang lain, yakni drone pengintai supersonik atau hipersonik yang dikenal sebagai DR-8. Bentuknya menyerupai drone pengintai D-21 AS, yang dapat melakukan perjalanan lebih dari tiga kali kecepatan suara.

Tetapi para ahli menambahkan akan sulit untuk mengetahui seberapa efektif pesawat tanpa awak itu atau seberapa baik PLA dapat memasukkan mereka ke dalam jaringan platform lain. (*)

Penulis: Hugeng Widodo
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga