OPINI

Menangkal Aksi Terorisme melalui Pendidikan

Oleh: Thio Hok Lay, S.Si
Teaching Learning Curriculum Department, Yayasan Citra Berkat, Jakarta

AKURATNEWS - Fenomena intoleransi dan perundungan yang acap terjadi di sekolah – sekolah perlu mendapatkan ekstra perhatian dan disikapi secara serius oleh para insan pendidikan di tanah air. Sebagai suatu bentuk kebiasaan buruk, intoleransi dan perundungan perlu diwaspadai dan diantisipasi sejak dini karena berpotensi sebagai benih terorisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Terkini, diberitakan aksi terorisme kembali membuncah dan menelan korban di bumi pertiwi. Sembilan tenaga kesehatan (nakes), satu anggota aparatur TNI dan puluhan warga lain yang terdiri atas guru dan buruh menjadi korban akibat penyerangan teroris kelompok kriminal bersenjata di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Terkait kompleksitas faktor pemicu aksi laten terorisme, tak sedikit pakar yang menyatakan bahwa akar atau penyebab utama dari aksi terorisme terkait erat dengan problematika kekerasan akibat kebodohan dan kemiskinan. Jika benar demikian halnya, maka pendidikan, khususnya melalui penguatan pendidikan karakter merupakan langkah konkret dan efektif guna upaya menangkal tumbuhkembangnya bibit-bibit terorisme.

Merujuk data UNICEF Tahun 2014, delapan dari sepuluh anak mengalami perundungan. Kasus perundungan di dunia pendidikan ini menempati urutan keempat teratas dari kasus kekerasan pada anak sedunia. Konsep pendidikan yang membahagiakan (wellbeing) masih menjadi pekerjaan rumah dan impian bersama untuk diwujudnyatakan.

Terkonfirmasi melalui hasil survei International Center for Research on Women (ICRW) bahwa berdasar data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tahun 2017, sebanyak 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Lebih tinggi dari Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen).

Kemendikbud memotret tiga dosa besar dunia pendidikan di tanah air, yakni intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan (bullying) yang marak terjadi di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar dan Menengah. Ketiga dosa tersebut, mengkonfirmasi bahwa implementasi Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan untuk Tingkat Dasar dan Menengah belum berdampak signifikan.

Sebagai catatan sekaligus sebagai bahan refleksi dan evaluasi terkait kualitas hasil proses pembelajaran di tanah air, merujuk pada rekaman data kompetisi pelajar antar bangsa dalam ajang PISA (Programme for International Students Assessment), dari tahun 2015 dan 2018, prestasi anak bangsa menunjukkan gejala terus merosot hampir di kesemua bidang. Kompetensi dan keterampilan anak-anak bangsa dalam membaca (peringkat 72 dari 77 negara), matematika (peringkat 72 dari 78 negara), dan sains (peringkat 70 dari 78 negara).

Aksi laten kekerasan lewat terorisme, senyatanya merupakan lonceng kesadaran bagi dunia pendidikan agar terus menerus berbenah dalam hal kualitas. Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) yang dibutuhkan anak murid bukanlah hukuman, melainkan dukungan dan penguatan agar potensi diri dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal.

Sekiranya dalam proses belajar dijumpai adanya gejala penyimpangan oleh anak murid maka yang perlu dingat dan diperhatikan oleh orangtua dan guru dalam hal pemberlakuan sanksi adalah bahwa sanksi itu haruslah edukatif; bersifat menertibkan dan menumbuhkembangkan, bukan berupa perundungan dan kekerasan yang berefek traumatis, sekaligus balas dendam.

Pesan Neil Kurshan dalam  Coloroso (2006), dalam bukunya berjudul “Penindas, Tertindas, dan Penonton” – Resep Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah hingga SMU; perlu mendapatkan perhatian bersama secara serius bahwa tugas terpenting kita sebagai pendidik adalah membesarkan anak-anak yang akan menjadi orang-orang yang baik, bertanggungjawab dan peduli serta membaktikan diri untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih adil dan penuh kasih. Mengingat intisari dari pendidikan (education; educare) adalah menuntun anak murid guna melangkah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Ringkasnya, dunia pendidikan menolak adanya narasi dan tindakan kekerasan. Sekolah sebagai tempat perjumpaan dan interaksi murid – guru diharapkan mampu menjadi katalisator Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan bermartabat; berkompeten, terampil, dan berakhlak mulia sehingga tak mudah dihasut dan disesatkan oleh aneka ide radikalime atau aksi provokatif.

Baca Juga