Opini

Menatap Indonesia Dengan Cara Indonesia

Oleh: Prie GS
Budayawan

Di hari-hari ini, di sebelah rumah saya, sedang ramai suara pekerja bangunan. Tak ramai dari sisi jumlah, karena julmah mereka tak lebih dari dua sampai empat orang saja. Tetapi suara mereka ramai sekali. Kadang berteriak satu sama lain, kadang bernyanyi menirukan lagu-lagu dangdut yang mereka putar sambil bekerja.

Di tengah masyarakat dunia, termasuk Indonesia, sedang tegang Corona, Tuhan memberi saya pemandangan ini. Mereka seperti sebuah ceruk dari dunia lain, yang sama sekali tak bersinggungan dengan ketegangan ini.

Apakah mereka tak paham bahwa sedang ada wabah? Sulit untuk percaya bahwa mereka benar-benar terisolasi secara informasi di era ini. Mereka bukan manusia gua, tetangga kita juga yang sama kedudukannya di hadapan WA. Penjual sayur di rumah saya namanya Rudi, berasal dari Demak. Butuh bermotor sampai ke Semarang setiap pagi. Jika berhalangan hadir, ia ber WA pada istri. Jadi tak ada yang benar-benar terasing dari kabar global di hari ini.

Lalu bagaimana menjelaskan fenomena pekerja bangununan sebelah rumah ini? Itulah Indoneisa, dengan segenap kompleksitasnya. Para pekerja ini, bukan tak mengerti Corona dan bukan tak takut padanya. Tetapi bisa apa!

Di bawah sadar mereka ada soal yang lebih menakutkan: kalau semingga saja tak bekerja, mati keluarganya. Seminggu itu pun sudah waktu yang terlalu lama. Tukang-tukang serabutan yang sering singgah di rumah, bisa hari ini bekerja, besok sudah tidak, dan besoknya lagi entah harus apalagi. Mukanya lurus-lurus saja. Jauh dari ketegangan. Mereka telah terbiasa dengan aneka ketidak pastian yang bagi mereka telah menjadi kepastian. Maka ketika ada sedikit saja kepastian, bahwa hari ini mereka bekerja dan memperoleh upah untuk hari ini: girang hati mereka. Mereka tak perlu sekolah tinggi untuk mensyukuri ini.

Apakah pola kegembiraan mereka itu ideal? Tentu tidak. Tetapi kita bisa apa, mereka bisa apa. Itulah satu-satunya pilihan yang mereka bisa. Maka sejak awal, tuntutan saya kepada Indonesia ini sederhana saja: terhadap proses politik misalnya, sulit saya bayangkan, akan lahir seorang pemimpin yang memuaskan idealisasi saya.

Tetapi jika saya ngotot mencari pemimpin ideal, bukan pemimpin itu yang salah, tetapi ekspetasi saya. Baru saja di pagi ini, di depan rumah saya yang memang saya jadikan laboratorium hidup: ada anak muda bermotor, kencang, berhenti, hanya untuk berputar entah untuk tujuan apa. Satu di antaranya berambut gondrong model lama. Saya pernah gondrong seperti itu dan saya malu mengenangnya. Tetapi anak muda ini menyangka rambut gondrongnya sedang ada di puncak gaya. Jelas, anak ini bisa kita curigai datang dari planet asing. Semua sedang sibuk tegang Corona, ia malah sibuk membanggakan model rambut yang telah tak ada. Inilah Indonesia. Gondrong itu menjengjelkan di satu sisi, tetapi obat di sisi lain karena membuat pagi saya tersenyum.

Jadi jelas, cara mencintai negeri ini ialah dengan cara menerima juga kelemahan-kelemahan dasarnya. Lupakan perbandingan-perbandingan yang tak cukup adil dan relevan. Untuk membandingkan seorang Jawa dengan seorang Jepang pun, hanya seorang saja, kenapa dia begitu dan kenapa aku begini, tak cukup bisa ketemu tolok ukurnya.

Dua orang itu adalah realitias yang kompleks karena bentukan budaya, ekonomi, sosial, politik dan pendidikan yang berebda. Apalagi membandingkan Jakarta dengan Jepang, Semarang dengan Singapura, Indonesia dengan China. Aneka perbandingan itu tak boleh mengecoh pandangan kita pada Indonesia. Begitu juga dengan cara masing-masing menangani Corona. Membandingkannya begitu saja bukan tidak boleh, tetapi berisiko membuat kita frustrasi. Jika ini terjadi, kita tidak bisa membantu berpikir jernih untuk sama-sama mengatasi masa darurat ini. Itu esensinya.

Memang ada banyak soal yang mengesalkan di negeri kita ini. Tetapi bisa apa kita. Jangankan mengurus kegentingan sebesar Corona, urusan KTP saja membutuhkan kesabaran. Ada banyak permakluman yang harus dipersiapkan. Tetapi biasa apa kita? Ternyata banyak yang masih kita bisa: sepanjang mau melihat jangan hanya kejengkelannya. Orang-orang yang menjengkelkan itu, tiba-tiba menjadi orang yang sama sekali berbeda ketika tetangganya sedang mendapat musibah atau punya hajat. Mereka datang, menyumbang, berbelasungkawa, dan menghibur kita. Di kantornya bisa saja ia korupsi, tetapi sebagai tetangga, ia bisa bahu-membahu mendirikan tenda untuk tirakatan kampung.

Maka kepada para pemimpin, harapan saya tak aneh-aneh. Bahwa pemerintahan masih berjalan, pemimpin itu ada, kehidupan masih lumrah, itu sudah prestasi luar biasa. Sayalah yang harus menyesuaikan diri karena tidak mungkin menasihati mereka, apalagi seluruhnya. Saya akan membantu mereka, menutup kekurangan itu dengan cara mengurangi masalah saya sebagai warga negara. Saya mengurus IMB, membayar pajak, regristasi ulang nomor, mencuci tangan, dan menahan diri dari keramaian jika keadaan memang sedang meminta.

Maka jika ada keputusan yang terkesan terlambat, ragu-ragu, hati-hati, bukan saya setuju, tetapi saya mengerti mengapa itu terjadi. Jika sebuah kota di lock down begitu saja, bagaimana dengan tukang-tukang di samping rumah saya yang bernyanyi itu? (pagi ini, saya menunggu kedatangan mereka dan bersiap mendengar nyanyian itu lagi sambil mengetik tulisan ini). Artinya, jangan terlalu marah kepada aneka kekurangan negeri ini, tetapi apa yang bisa kita perbuat lewat ceruk rumah kita agar lubang-lubang itu tak makin menganga.

Mari bangun malam dan berdoa. Saya di rumah saya dan Anda di rumah Anda. Apapun agama kita, inilah saatnya bahwa agama menjadi rahmat bersama, karena memang itulah inti ajarannya. Singkirankan kata-kata yang keras, marah, murung dan uringan-uringan mulai dari rumah, terutama di hari-hari ini. Tontonlah berita secukupnya dan gantilah dengan ibadah tambahan sekuat yang kita bisa.

Berdoalah berjamaah bersama keluarga, soal yang kemarin bisa jadi banyak kita lupa. Energi politik biarkan bekerja, karena politik di balik keruwetannya, juga punya keberkahannya. Energi kepemimpinan, biarkan bekerja. Tugas kita, para awam ini, adalah menangis di hadapan Tuhan syukur di sepertiga malam, agar tangisan kita membuat-Nya tak tega. Soal yang mendesak diminta ialah agar Tuhan tak mencabut ketenangan di hati kita.

Penulis:

Baca Juga