Mengapa Bukan Menteri Pertanian yang Pimpin Proyek Lumbung Pangan?

Dengan mengacu pada peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bahwa adanya potensi ancaman krisis pangan dunia, Dahnil kemudian menilai wajar bahwa Menhan terlibat dalam upaya mengantisipasi ancaman tersebut.

Akan tetapi, pandangan berbeda justru disampaikan oleh pakar isu keamanan dan kajian strategis dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi. Menurut alumnus Universitas Airlangga (Unair) ini, agaknya kurang cermat apabila Pasal 6 UU Nomor 3 Tahun 2002 dijadikan legitimasi untuk membenarkan Prabowo dalam memimpin food estate.

Tegasnya, Pasal 6 yang diterangkan oleh Dahnil harus dilihat penjabarannya dalam Pasal 7, khususnya pada Ayat (2), dan (3). Pada Ayat (2), diterangkan bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama, dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.

Nah, pada Ayat 3, dijelaskan bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman non-militer menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi. Jika ancamannya adalah kesehatan, maka Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menjadi pemimpin. Jika ancaman pangan, tentunya itu menjadi bagian dari Kementan.

Di sini, kita mungkin melihat bahwa sekaliber Jubir Menhan pun tidak cermat dalam memberikan legitimasi terkait mengapa Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra yang dijadikan pemimpin food estate. Suka atau tidak, tentu hal ini memperkeruh keganjilan terkait mengapa Prabowo ditunjuk. Lantas, apa yang terjadi sekiranya?

Tidak Ada Makan Siang Gratis

“There ain’t no such thing as a free lunch” atau “there is no such thing as a free lunch” adalah adagium yang sepertinya dapat kita gunakan untuk melihat fenomena menarik ini. Adagium yang diterjemahkan menjadi “tidak ada makan siang gratis” ini adalah gagasan yang menerangkan bahwa tidak mungkin didapatkan sesuatu tanpa adanya biaya. Sederhananya, tidak ada hal yang gratis di dunia ini.

Kendati asal usul adagium atau istilah tersebut tidak diketahui, novel fiksi ilmiah Robert Heinle yang berjudul The Moon Is a Harsh Mistress (1966) banyak dinilai sebagai penyebab populernya istilah ini. Ekonom pasar bebas Milton Friedman juga turut mempopulerkan adagium tersebut karena menggunakannya sebagai judul buku yang diterbitkan pada tahun 1975.

Menariknya, adagium ini memiliki referensi aktual yang mengacu pada tradisi bar-bar (saloons) di Amerika Serikat (AS) yang menyediakan makan siang “gratis” kepada pelanggan yang membeli setidaknya satu minuman. Lebih menariknya lagi, menu makanan yang diberikan ternyata banyak mengandung garam, sehingga itu mendorong pelanggan membeli minuman.

Dengan kata lain, makan siang yang didapatkan pada dasarnya tidak benar-benar gratis, karena terdapat biaya yang dikeluarkan sebelumnya. Bahkan, makan siang tersebut adalah strategi untuk mendapatkan keuntungan.

Lebih lanjut, penjabaran terkait mengapa konsep “tidak ada makan siang gratis” bekerja dapat kita pahami melalui buku Rolf Dobelli yang berjudul The Art of Thinking Clearly. Dalam bagian bukunya yang berjudul Don’t Accept Free Drink, Dobelli menjelaskan sifat alamiah manusia yang disebut dengan reciprocity atau efek timbal balik.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Redaksi

Baca Juga