Pentingnya Dampingi Anak

Mengembangkan Minat dan Bakatnya agar Terlindungi dari Potensi Eksploitasi

Diskusi virtual bertajuk “Mengembangkan Minat dan Bakat Anak tanpa Eksploitasi” kolaborasi Yayasan Lentera Anak dan komunitas #funwithmomy.

AKURATNEWS – Para pegiat perlindungan anak sepakat upaya pengembangan minat dan bakat anak adalah bagian dari tumbuh kembang anak, namun anak tetap harus dipenuhi haknya, dilindungi, didampingi, dan diberi batas agar mereka tidak terpeleset, sebab regulasi terkait hal ini masih sangat abu-abu dimana anak sangat rentan terperosok dalam eksploitasi seksual dan eksploitasi ekonomi.*

Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak, menegaskan bahwa upaya mengembangkan minat dan bakat anak adalah sebuah keniscayaan dan bagian dari tumbuh kembang anak, namun ia mengajak para orang tua tetap waspada dan mendampingi anak agar tidak terpeleset, sebab masih belum kuatnya rambu-rambu yang mengatur pengembangan minat dan bakat anak. Hal tersebut disampaikan Lisda dalam diskusi virtual bertajuk “Mengembangkan Minat dan Bakat Anak tanpa Eksploitasi” yang berlangsung akhir pekan ini, atas kolaborasi bersama Yayasan Lentera Anak dan komunitas #funwithmomy.

“Kalau dari sisi peraturan terkait pelarangan eksploitasi anak yang nyata seperti eksploitasi seksual, pekerja anak dalam situasi bahaya, memang sudah ada aturannya yang mengacu pada UU Perlindungan Anak, UU Ketenagakerjaan, UU Pornografi, Permen Kemenaker, Permen PPPPA dan lain-lain. Tapi terkait eksploitasi yang sifatnya masih di wilayah abu-abu inilah yang peraturannya belum cukup,” kata Lisda.

Ia menjelaskan terkait pengembangan minat dan bakat bisa mengacu kepada Peraturan Menteri Kemenaker No. Kep.115/Men/VII/2004, yang memberikan anak kesempatan mengembangkan bakat dan minatnya dengan sejumlah pengaturan, seperti mempertimbangkan kepentingan terbaik untuk anak, dimana anak didengar dan dihormati pendapatnya, tidak menghambat tumbuh kembang fisik, mental, intelektual dan sosial secara optimal, tetap memperoleh Pendidikan, adanya pengawasan dari orang tua, ada persyaratan bagi pengusaha yang mempekerjakan anak dibawah 15 tahun, dan adanya pelaporan kepada instansi di bidang ketenagakerjaan.

Menurut Lisda, jika mengacu kepada UU Perlindungan Anak ada tiga unsur yang menjadi panduan apakah suatu kegiatan yang melibatkan anak berpotensi eksploitatif. Pertama, apakah tindakan itu dengan atau tanpa persetujuan anak, kedua, adakah tindakan yang melanggar hukum, dan ketiga adakah unsur memanfaatkan tenaga atau kemampuan anak untuk mendapatkan keuntungan.

“Tapi ini bukan berarti kalau anaknya sudah setuju lalu tidak ada eksploitasi ekonomi, bisa saja tetap berpotensi eksploitatif, mengingat anak-anak sejatinya belum memiliki kemampuan untuk mengantisipasi risiko-risiko yang besar,” kata Lisda.

Eksploitasi ekonomi, jelas Lisda, tidak hanya dalam bentuk pekerja anak, dimana secara definisi menyiratkan gagasan memperoleh keuntungan tertentu melalui produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Tetapi dari berbagai diskusi dan literatur, persoalan terkait minat dan bakat pun berpotensi untuk terjadinya eksploitasi. Dalam hal ini, anak-anak yang terlibat dalam industri kreatif menjadi artis cilik, youtuber, influencer atau selegram anak berpeluang mendapat keuntungan secara ekonomi tapi mereka berperan layaknya seorang pekerja di media kreatif yang harus tampil di media sosial secara intensif dan bekerja dengan ritme cepat layaknya orang dewasa.

“Dari awalnya anaknya menjadi subjek, dimana sekedar untuk mengekspresikan diri atau mengembangkan minat dan bakatnya tapi kemudian dalam prosesnya, karena ada tawaran endorse, tuntutan deadline atau waktu tayang dan tuntutan menyampaikan pesan-pesan tertentu, maka anak berpotensi mengalami perubahan menjadi objek dan sangat rentan berpotensi terjadinya eksploitasi ekonomi. Ketika akhirnya ada keharusan anak melakukan ini dan itu sesuai kemauan produk maka ini merupakan wilayah yang sangat abu-abu dan bisa saja masuk dalam wilayah eksploitasi. Dan sayangnya peraturan di Indonesia terkait minat dan bakat belum kuat. Untuk itu kita sebagai orang tua yang perlu melindungi,” tegas Lisda.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga