Opini

Mengkaji Kembali Penerapan Kebijakan Full Day School

Akuratnews.com - Sudah menuai berbagai pro dan kontra dari berbagai lapisan masyarakat sejak dikeluarkannya kebijakan Full Day School. Tidak hanya sedikit yang menerima namun, juga tidak sedikit yang menolak penerapan full day school.

Ketua umum PKB Muhamin Iskandar, mengatakan PKB menolak full day school dikarenakan aturan sekolah 8 jam ini akan mengurangi eksistensi madrasah dan pondok pesantren. (Detik News 7/08/2017).

Menurut Ahmad Saruri ketua Dewan Pendidikan dan juga pengurus Forum Komunikasi Madrasah Diniyyah Takmiliyah (FKMDT) Kabupaten Rembang, menjelaskan bahwa penolakan terhadap kebijakan full day school dikarenakan memungkinkan akan mengganggu kegiatan madrasah diniyah sore hari yang sudah lama berlangsung, juga karena keadaan sekolah yang tidak memiliki asrama karena full day school membuat  siswa harus pulang malam serta dari segi psikologi pembelajaran hingga sore hari jadi tidak efektif. (Suara Merdeka, 11/12/2017).

Sedangkan menurut Ani, penerapan full day school menjadikan berkurangnya waktu bermain anak dan kebersamaan dalam keluarga juga dikhawatirkan akan mempengaruhi keceriaan anak. (Oke News, 16/06/2017).

Full day school merupan istilah yang dugunakan atas kebijakan yang di kelurkan pemerintah tentang hari sekolah. Menurut Peraturan Mentri nomor 23 tahun 2017 menjelaskan bahwa hari sekolah dilaksanakan 8 (delapan)  jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam  selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

Full Day School Sudut Pandang Neurosains

Penerapan full day scholl di Indonesia menuai pro dan kontra salah satunya berkaitan dengan kelelahan yang terjadi pada peserta didik. Belajar 8 (delapa) jam 1 (satu) hari, tidak memungkiri akan menyebabkan kelelahan baik fisik maupun psikis pada diri peserta didik. Secara umum kelelahan menurut Ikhram (2012) adalah keadaan tenaga kerja yang ditandai oleh adanya perasaan kelelahan dan penurunan kesigapan kerja, bersifat kronis serta merupakan suatu fenomenan psikososial. Kelelahan fisik menurut Ikhram ( 2012)  ditandai dengan adanya keletihan, kejenuhan, ketegangan otot dan munculnya perilaku yang baru.  Sedangkan kelelahan psikis adalah kelelahan yang timbul karena ketidak puasan terhadap diri sendiri,terhadap pekerjaan dan hidup secara keseluruhan, serta merasa tidak kompoten atau rendah diri ( Ruth D Juskin, 2009: 20)

Apabila kelehan tersebut terjadi pada peserta didik maka akan mengakibatkan terjadinya habatan terhadap fungsi-fungsi kesadaran otak seperti peneurunan perhatian, perhambatan dan perlambatan persepsi, lambat dan sukar berfikir, penurunan kemampuan atau dorongan untuk bekerja dan kurangnya efesiensi kegiatan fisik dan mental (Ikhram, 2012).

Neuroscience adalah ilmu multidisiplin yang berkaitan dengan studi tentang struktur dan fungsi sistem saraf. Ini mencakup evolusi, pengembangan, biologi seluler dan molekuler, fisiologi, anatomi dan farmakologi sistem saraf, serta ilmu saraf komputasi, perilaku dan kognitif. Neuroscience kognitif adalah bidang studi yang berfokus pada substrat saraf proses mental. (Nature.com).

Baca Juga