Menilik Lahirnya Radikalisme Terorisme dan Penanganannya

Benih-benih radikalisme bisa tergambar dari aksi-aksi anarkis, dalam sebuah aksi (Foto by Rangga)

Jakarta, Akuratnews.com - Pagi menjelang, fajar belumlah usang. Semangat masyarakat terlihat terhalang. Negeri ini sedang ditimpa kemalangan seperti negeri-negeri di seberang. Kekacauan akan COVID-19 menjadi tanda tanya besar akan pihak-pihak tak bertanggung jawab dalam melakukan kegiatan negative, radikal, makar hingga teror dengan alasan perjuangan.

Saat ini gerakan radikalisme nyata berada di depan mata. Bergerak secara terbuka dan cenderung dibiarkan tidak ada penanganan yang cukup signifikan. Bagaimana meredam gerakan-gerakan radikalisme yang sesungguhnya, adalah bibit dari terorisme. Walaupun gerakkan terorisme itu bergerak lebih tertutup sulit untuk mengungkap.

"Bahkan dengan aksi-aksi dan kegiatan yang cukup rahasia. Sehingga pengungkapannya betul betul juga harus dilakukan dengan cara-cara yang cukup panjang. Dan kemampuan untuk mengungkap ini, sebetulnya dimiliki oleh aparat keamanan kita. Kita punya Densus 88 dan kita punya BNPT yang tentu paham sekali mengungkap jaringan jaringan ini melalui peta-peta pergerakan orang-orangnga, " ungkap Ferdinand Hutahaen, Politikus dan Pengamat Radikalisme dan Terorisme, dalam suatu kesempatan.

Mungkin masih terpatri dalam ingatan bagaimana kasus bom Bali terjadi. Bom Bali yang terjadi di tahun 2002 adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera.

Selanjutnya 1 2 3 4 5
Penulis:

Baca Juga