Opini

Menjemput Tahun 2021 Dengan Ziarah Cinta

Jimmy Carvallo
Jimmy Carvallo

Opini Akuratnews.com - Tidak terasa, perjalanan waktu satu tahun telah berakhir dan kini akan memasuki tahun baru 2021. Dalam rentang waktu yang panjang itu, berbagai peristiwa baik suka maupun duka telah menghiasi peziarahan hidup. Tentu saja, semua yang pernah terjadi masih tersimpan baik dalam memori atau kenangan dan sebagian kejadian lain bisa saja terlewati, luput dari ingatan bahkan ada pilihan kesengajaan untuk memang harus dilupakan karena satu dan lain alasan. Biasanya kenyataan pahit, perasaan terluka atau duka cenderung dilupakan agar tidak mematahkan semangat masa depan.

Tahun 2020 yang ditinggalkan, tentu tak berbeda jauh dengan lazimnya kehidupan yang dijalani pada periode-periode tahun lain sebelumnya, diantaranya kepastian bahwa usia kita pastilah semakin bertambah, tak ada manusia luput dari pergumulan berbagai persoalan/tantangan hidup yang selalu ada bagai dua sisi mata uang : senyuman dan air mata, ada saja orang yang datang dan pergi meninggalkan cerita juga kisah-kisah perjumpaan kehidupan dengan seribu satu peristiwa, baik yang terjadi dekat atau pun jauh dari lingkungan keberadaan kita.

Bila kita mencoba menjalin kembali semua “benang” peristiwa yang mewarnai hidup kita sepanjang satu tahun terlewati, entah itu berhubungan langsung dengan kita pun yang dialami oleh orang-orang dekat atau bahkan terjadi di belahan bumi lain yang diberitakan melalui media massa, semua menyiratkan pesan-pesan penting tentang makna di balik kehidupan yang sedang kita jalani. Pesan tersembunyi itulah yang sebenarnya bagaikan mutiara, ketika dengan budi dan refleksi tiada akhir di gumuli, perlahan akan memancarkan kilau kebijaksanaan dalam menghayati hidup dan karya kita.

Namun, tidaklah demikian yang sering terjadi; saat malam pergantian tahun baru dari masa ke masa sering sekedar dilalui dengan histeria kegembiraan, pesta bunga kembang api, bunyi-bunyian terompet, mabuk-mabukkan, pesta pora dan seribu satu bentuk luapan kegembiraan lain. Tentu hal semacam itu baik, sebagai bentuk syukur, kegembiraan memang selalu dipilih sebagai sikap lahiriah untuk sekaligus mengirim pesan pada orang lain bahwa kita sedang merayakan rahmat dan nikmat karunia bisa memasuki kalender tahun baru lagi.

Tetapi, terkadang kita lupa dan abai, dalam luapan kegembiraan dan pesta pora lahiriah, selalu ada ruang batiniah yang dibiarkan hampa, kosong dan lupa diisi. Padahal, ruang batin adalah kekuatan utama kehidupan, daya yang memberi dorongan keseimbangan sebagai makhluk sosial, makhluk berakal budi, ciptaan tertinggi dan paling istimewa. Dalam ruang batin, semua realitas kehidupan, seperti gembira-sedih, cinta-benci, kecewa-kepuasan, bahkan nafsu dan kebebasan diolah, ditimbang, “dijinakkan” sehingga apa yang keluar atau terpancar dari tutur kata, perilaku, relasi dan komunikasi sosial, moralitas, karya hidup semuanya menjadi citra atau gambaran situasi kedalaman batin seseorang.

Dalam “percakapan” batin, semua arus lalu-lintas pengalaman dan kenyataan hidup direfleksikan lebih mendalam sehingga memunculkan karakter kepribadian dengan perilaku individu yang selalu lebih peka dalam membaca dinamika dan “tanda-tanda zaman”. Beberapa abad sebelum masehi, filsuf Sokrates telah mengingatkan suatu pesan penting yakni bahwa hidup yang tidak direfleksikan tidaklah layak dijalani. Kalimat bijak ini sebenarnya mau menegaskan, ketika kita selalu memaknai hidup dengan refleksi panjang (rutin) maka olah-permenungan tentang arti hakikat hidup demikian akan menjadi pijakan kita berhadapan dengan ujian lembut-kerasnya keseharian hidup.

Sehingga, baik kesuksesan atau kegagalan, derita maupun sukacita tidak lagi sampai “membunuh” harapan, mengganggu fokus hidup atau mendikte perjuangan masa depan seseorang, tetapi ada lompatan yang lebih jauh di balik setiap fenomena jatuh-bangun kisah petualangan perjuangan yang sedang kita lakoni yakni dalam semangat kerendahan hati semua dimaklumi sebagai berkat yang layak disyukuri.

Memang, tidaklah mudah menghayati dan menjalani hidup dalam kaca mata “spiritualitas syukur” seperti ini. Bagaimana mungkin sesuatu yang sangat menyakitkan atau mendukakan hati malah disyukuri? Jangankan disyukuri, dilupakan saja rasa-rasanya begitu sulit, bukankah hukum dunia lebih memilih gigi-ganti-gigi atau balas dendam untuk memastikan bila keadilan menjadi panglima tertinggi dimana-mana? Bagaimana kita mendefinisikan kebenaran kalau harus mengabaikan ketidakadilan? Sampai di sini, saya teringat apa yang pernah digaungkan oleh Santu Yohanes Paulus II bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang baru.

Sepanjang tahun 2020 telah terjadi banyak peristiwa kekerasan di negeri ini. Semua jalinan fakta kekerasan sebenarnya mengisyaratkan bahwa ada yang sedang tidak beres dalam struktur masyarakat kita. Tidak ada kekerasan yang terjadi secara spontan atau terencana tanpa alasan, namun perlu disadari pula, dengan alasan apapun tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran atas tindakan atau perlakuan kekerasan. Prinsip inilah yang sering terlihat ketika misalnya, negara ingin menghukum mati seseorang, selalu ada upaya penolakan terhadap bentuk hukuman mati.

Spiral berbagai bentuk kekerasan bukan cerita baru, termasuk di negeri ini. Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) misalnya, pada sebuah rilis beberapa hari lalu mencatat di kurun waktu tahun 2020 terjadi 84 kasus kekerasan menimpa para jurnalis, meningkat dari tahun sebelumnya dan menjadi kasus kekerasan tertinggi pada jurnalis. Itu baru kekerasan yang menimpa salah satu kelompok profesi, belum lagi kalau dihitung dengan berbagai peristiwa kekerasan pada kelompok (minoritas) atau pribadi, seperti pelanggaran HAM berupa pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran, aksi terorisme, premanisme dan kejahatan kemanusiaan lain.

Ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi, sering terdengar banyak pihak yang mengutuknya sebagai perbuatan keji, tetapi apakah seruan kutukan lantas mengakhiri atau memutus rantai aksi tak berperikemanusiaan itu? Tentu tidak, bila tidak dibarengi dengan usaha preventif bersama, dimulai dari hal sederhana seperti membangun budaya hidup persaudaraan, kerukunan, rekonsiliasi, sikap saling menghormati dimulai dari dalam keluarga sebagai masyarakat inti paling kecil. Keluar dari lingkup sel keluarga, komunitas agama, lintas-perkumpulan profesi, lembaga pendidikan dan masyarakat harus mematenkan tugas (kerja) bersama tersebut dengan serius.

Salah seorang tokoh berpengaruh di dunia, Mohandas Karamchand Gandhi atau dikenal sebagai Mahatma Gandhi (1869-1948) bisa menjadi tempat kita belajar tentang bagaimana menjadi pembawa damai dan harapan di tengah perselisihan dan perpecahan. Gandhi menjadi inspirasi bagi kita dalam meniti hidup dengan prinsip perjuangan nir-kekerasan (ahimsa). Jalan “perlawanan” tanpa kekerasan inilah yang sampai kini telah menjadi semacam filsafat yang dipraktekkan jutaan orang di dunia.

Ketika tanah kelahirannya, India di bawah penindasan penjajahan Inggris, Gandhi berjuang di front politik yang mengedepankan perjuangan tanpa kekerasan dengan keyakinan bahwa sepanjang lintasan sejarah, jalan kebenaran dan kasih selalu menang. Gandhi menggambarkan tentang Ahimsa sebagai kodrat manusia yang membedakannya dari binatang. Kesatuan jiwa dan raga dalam diri manusia wajib menjadikan ahimsa sebagai sikap hidup, keyakinan yang harus dikembangkan sehingga kita berpegang pada satyagraha atau kebenaran yang sesungguhnya. (Gandhi, Manusia Bijak dari Timur, Wied Prana, Garasi, 2010 hal. 13)

Kembali pada ziarah langkah kita memasuki tahun baru 2021, tidak dipungkiri, umat manusia di dunia masih dihinggapi depresi atau tepatnya, fobia akan pandemi Covid-19 atau virus Corona yang sampai saat ini terus meningkat seperti dilansir Worldometers (per 28/12/2020) telah menginfeksi lebih dari 81 juta kasus dan menyebabkan 1,771 ,342 orang meninggal dunia. Bencana global, itulah situasi pahit planet Bumi sejak awal tahun 2020 dan setelah setahun lewat masih belum pulih, bahkan bertambah banyak saja manusia yang terinfeksi. Mereka pun harus menjalani karantina, dipisahkan sementara dari orang-orang terdekat dan rutinitasnya.

Sulit rasanya membayangkan bagaimana seorang anak manusia dijauhi, diasingkan, dipaksa menerima kenyataan bahwa gegara mengidap positif virus Corona harus terpisah, terasing dari sanak famili, bahkan ketika virus mengakhiri hidupnya, proses pemakaman pun dilakukan dengan tidak biasa, tanpa penghormatan khusus atau istimewa dengan ritus-ritus agama atau tradisi sebagaimana biasanya. Marah, frustrasi dan rasa kecewa pasti menjadi bagian dari pegalaman psikologis mereka.

Rasanya tak ada derita paling menyayat hati di milenium ke 3, ketika seseorang harus pergi menyeberang ke dunia abadi akibat diserang virus Corona, terlepas dari cinta dan kehangatan keluarga dan orang-orang kesayangan mereka dengan cara dramatis. Begitu murah jiwa manusia dihadapan kedigdayaan epidemi Covid-19 sebuah kekejaman alam tanpa belas kasihan, siapa pun tidak dipedulikannya, dari anak kecil sampai para lansia.

Di balik (rasa) pahit getirnya penderitaan zaman ini, kita harus tetap bisa melanggah dengan kepala tegak menjemput datangnya tahun baru 2021. Entah apa yang bakal terjadi di depan, tak ada seorang pun yang dapat meramalkan nasib manusia. Kita tetap bertanggung jawab atas diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan keberlangsungan dunia. Berlari dari tanggung jawab, sikap apatis dan pesimistik, termasuk cemas berlebihan akan sesuatu yang tidak pasti (di masa datang) sama dengan mengangkangi panggilan hidup, tanda awal sedang terjadi “kemarau” batin sebagai oase penumbuh kuncup-kuncup spititualitas-syukur yang seharusnya kita miliki.

Tahun 2021 adalah suatu kurun waktu kalender (365 hari) sebagai karunia pemberian Tuhan bagi generasi kita di zaman yang walaupun penuh tantangan akibat pandemi Covid-19 tetapi juga memiliki banyak peluang untuk bisa dikerjakan, diisi dengan kebaikan dan inovasi, kreativitas, usaha, optimisme, perjuangan, impian-impian dan kerja-kerja kemanusiaan. Krisis dan tantangan selalu menyimpan peluang untuk melahirkan lebih banyak karya, ide-ide besar bahkan semangat baru dalam memajukan peradaban yang melampaui dimensi-dimensi keterbatasan, ketidakberdayaan.

Sebagaimana hakikat (nafas) hidup, waktu adalah karunia tidak ternilai dan tidak terulang kembali. Setiap detik yang berlalu merupakan mujizat, entah disadari atau tidak, Sang Pencipta sedang dan terus “berbicara” dibalik setiap peristiwa yang dialami oleh makhluk ciptaanNya, bahkan dalam liku-liku kejadian yang paling sederhana. Sehingga sejarah ziarah hidup manusia sebenarnya tak lebih dari tapak-tapak atau jejak kebesaran Sang Pencipta yang kelihatan, gambaran keagungan, keajaiban dan ajakan membangkitkan kesadaran akan betapa berharganya setiap pribadi di hadapanNya.

Pada titik kesadaran penuh atau pencerahan spiritual inilah, banyak orang yang putar-haluan, memilih jalan pengabdian khusus dengan mempersembahkan sisa hidup mereka dalam pelayanan dan cinta tanpa pamrih, seperti menjadi biarawan, biarawati, pendeta, ustadz, kiai, ulama, bhiksu, pertapa yang selalu berada dalam kontemplasi namun aktif, tekun memperhatikan atau menjalani hidup rohani (beribadah) dan menginspirasi, memotivasi kebangkitan spiritual di setiap zaman yang mendorong banyak sekali orang melakukan kegiatan-kegiatan sosial-religius, amal dan pengorbanan kemanusiaan bagi yang lain.

Dari mereka kita belajar tentang arti panggilan hidup sesungguhnya, tentang sebuah dunia yang selalu membutuhkan uluran tangan, kemurahan hati, tempat bersandar, cinta – senyuman - dan pengampunan, kata-kata yang membangkitkan harapan, ketulusan mengasihi, kegembiraan, pula tujuan hidup sebenarnya; berhadapan dengan aktualitas dunia yang semakin suram karena semakin menjamurnya perilaku egoisme, hedonisme, materialisme, pragmatisme, individualisme yang merubah perangai manusia menjadi homo homini lupus est (manusia menjadi serigala bagi sesama manusia lainnya).

Dengan mengayunkan langkah kaki memasuki tahun baru 2021, kita membawa serta cahaya yang tak pernah padam, menyalakan api harapan. Paus Yohanes Paulus II dalam bukunya Crossing the Treshold of Hope (Melintasi Ambang Pintu Harapan) menekankan kata-kata kunci yang selalu digemakannya : “Jangan Takut!” (Lukas 1:30). Kecintaan sosok pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang dijuluki sebagai Paus Perdamaian dan Paus Peziarah itu meninggalkan inspirasi bagi siapa saja. Tidak heran, saat pemakamannya dihadiri oleh sekitar 4 juta peziarah, 6000 jurnalis,137 stasiun televisi dan 81 kepala negara. Ia tetap menjadi teladan manusia abad 21 yang membuktikan, di dunia yang penuh kebohongan dan ketidaktulusan, cinta harus tetap ada di hati.

Dalam pesan Ramadhan di tahun 1991, Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan isi hatinya yang sangat menyentuh kenyataan dunia dewasa ini dan masih relevan untuk terus diperjuangkan oleh semua orang, tidak hanya umat Katolik. “Ketidakadilan, penindasan, agresi, iri hati, keengganan untuk mengampuni, nafsu untuk balas dendam dan ketidakmauan untuk menjalin dialog merupakan faktor-faktor yang menjauhkan manusia untuk menapaki jalan yang dikehendaki Allah untuk membangun dunia yang damai dan satu, bebas dari perang dan kekerasan.” Selamat Tahun Baru 2021 dengan ziarah Cinta tak kunjung padam.

Baca Juga