Mensos: Bangsa Indonesia Menjadi Besar Seperti Sekarang Karena Kebhinekaan

Mojokerto, Akuratnews.com - Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa mengatakan berbagai persoalan bangsa dan perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini mengemuka baik di media sosial maupun dalam kehidupan sosial politik kebangsaan memerlukan keikhlasan semua pihak agar dapat saling menghargai, menghormati, dan memperkuat persaudaraan agar tidak terjadi perpecahan.

"Bangsa Indonesia menjadi besar seperti sekarang karena keragaman atau kebhinekaan yang kita jaga dan kita tempatkan sebagai potensi efektif bangsa. Dari dulu sampai sekarang perbedaan itu ada dan menjadi bagian dari kekayaan kearifan bangsa. Suku, agama, warna kulit, tradisi, bahasa dan perbedaan pendapat satu kelompok dengan yang lain dapat berjalan secara harmoni. Perjalanan sejarah bangsa mencatat bahwa bangsa ini berdiri di atas keberagaman, dan kita dapat hidup berdampingan secara  damai," papar Khofifah saat memberikan arahan dalam Harlah Muslimat NU ke-71 di Mojokerto, Minggu (14/5/17).

Misalnya saja, kata Mensos, menjelang Ramadan ada perbedaan pandangan soal salat tarawih. Di satu masjid salat tarawih delapan rakaat, di masjid lainnya 20 rakaat. Perbedaan semacam ini hendaknya disikapi dengan bijak dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Contoh lainnya adalah salam di setiap daerah yang berbeda-beda, misalnya orang di Jawa Barat menyapa dengan "Sampurasun" dijawab "Rampes", di Nias mereka bersalam dengan "ya ahowu" di Batak mereka menyapa dengan berucap "horas" di Pegunungan tengah Papua sebagian besar mereka bersalam dengan berucap "wah wah wah wah wah" dan sebagainya. Intinya adalah salam untuk kebaikan.

Oleh karena itu, lanjutnya, apabila dalam kehidupan sehari-hari terdapat perbedaan terhadap sebuah faham atau pendapat, maka hendaknya semua pihak dapat menahan diri, tidak mudah terprovokasi yang nantinya akan merugikan bangsa.

Dikatakan Mensos, sebagai bangsa yang besar dan beragam, ada banyak tantangan dan ancaman yang menginginkan Indonesia terpecah-belah. Tantangan ini tidak hanya dihadapi Indonesia, namun juga negara-negara lain. Ia menyontohkan di Afrika bebetapa negara mengalami konflik akhirnya  terpecah-belah, di Timur Tengah juga terjadi perpecahan demikian pula di Afganistan dan Pakistan.

"Tentu kita harus menjaga jangan sampai terjadi konflik yang berdampak pada perpecahan. Maka mari perkuat persaudaraan dalam Islam dan perkuat persaudaraan kebangsaan. Serta persaudaraan sesama warga bangsa. Jangan mudah terprovokasi lantas mudah marah dan tersinggung. Jangan sampai  khusnudzon (prasangka baik)  tergeser menjadi suudzon (prasangka buruk)," katanya.

Khofifah juga mengajak menyerukan semua pihak menyatukan langkah membangun negeri dan menjaga NKRI. Bagi umat Islam, perbanyak shalawat kepada nabi agar hati tentram dan mampu berpikir jernih menghadapi setiap perbedaan dan persoalan. Kalau bangsa ini aman dan damai, masyarakat dapat tenang beribadah, nyaman beraktivitas, dan bisa bekerja dengan baik.

"Bangsa ini tidak bisa disebut Indonesia jika tidak ada NTT, Bali, Papua, Jawa Timur dan sebagainya. Itulah persaudaraan yang kita bangun. Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini, yang telah memberikan banyak hal kepada kita," tutup Khofifah. (Rmn)

Penulis:

Baca Juga