Opini

Menyoal adanya Pungutan di ranah Pendidikan

Akuratnews.com - Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, sejumlah Wali Murid di SMPN l Banyuasin ll, Provinsi Sumatera Selatan mengeluhkan adanya penambahan uang pendidikan.

Pungutan yang dirasa memberatkan orang tua Wali Murid ini dianggap tidak tepat, karena menggunakan dalih sebagai uang komite. Nominalnya mencapai Rp.50.000 setiap bulan. Kejadian ini terasa sangat memberatkan dan dianggap tidak memiliki dasar hukum yang tepat.

Setiap kenaikan kelas para Wali murid juga dibebankan biaya daftar ulang dari angka Rp.160.000 hingga Rp.200.000. Biaya ini dibebankan pada murid kelas Vll, Vlll dan IX. Biaya tersebut digunakan dengan dalih untuk membeli atribut siswa.

Tentu hal ini membuat orang tua murid merasa keberatan. Pungutan liar (pungli) ini sangat membebani para orang tua. Ditambah situasi akibat pandemi covid-19 ini sudah menyebabkan sulitnya ekonomi dan membuat pemasukan keuangan keluarga menjadi sulit (bukamata.co, 16/7/2020).

Sementara itu, secara terpisah bukamata.co, mencoba melakukan konfirmasi kepada Jamal, Kepala Sekolah SMPN 1 Banyuasin. Tapi dia masih bungkam dan tidak menjawab pesan tertulis yang dikirimkan kepada nya.

Kasus pungli yang dianggap meresahkan wali murid ini juga mendapat respon dari kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin, Yusuf. Timnya akan segera menindaklanjuti jika benar praktek pungli itu terjadi. Karena pemberantasan korupsi menjadi salah satu agenda presiden Jokowi, untuk membersihkan koruptor hingga ketinggkat daerah.

Terjadinya kasus pungli diawal pembukaan tahun ajaran baru yang terjadi instansi pendidikan merupakan kasus lama yang tidak terselesaikan. Banyak cara yang dilakukan pihak sekolah untuk mendapatkan dana tambahan dari para wali murid, misalnya para wali murid harus membayar uang bangunan secara sukarela, tetapi ditetapkan jumlah nya atau wali murid diharuskan membeli seragam dari sekolah dan lain lain. Tentu saja hal semacam ini sangat memberatkan para wali murid, apalagi dimasa pandemi covid-19 ini.

Hal ini bisa terjadi karena mekanisme dan sistem pendidikan di negeri ini menganut sistem kapitalis sekuler. Dimana negara hanya berfungsi sebagai fasilisator saja, bukan sebagai pengurus sepenuhnya.

Berdasarkan riset Lembaga Non Provit Internasional, yaitu Save The Children mengatakan bahwa 14,2 persen anak Indonedia tidak bersekolah, di karenakan tidak ada biaya dan mahalnya biaya pendidikan.

Di dalam islam pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat dan merupakan tanggung jawab pemerintah yang harus ditunaikan secara langsung tanpa dipungut biaya (gratis).

Adapun sumber biaya pendidikan dalam sistem Islam (khilafah), bersumber dari pendapatan Baitul Mal yaitu:
Pertama, fa'i, tanah kharaj, ghanimah, khumus (seper lima dari harta rampasan perang), jizyah dan dhariba.

Kedua, kepemilikan umum. Tambang minyak, gas, emas, hutan dan kekayaan laut.

Jika dari kedua sumber pendapatan itu tidak mencukupi, maka negara khilafah boleh berhutang (qard). Tentu hutang tanpa akad riba' karena riba' sudah jelas keharamannya.

Firman Allah Swt,
"Allah menghalakan jual beli dan mengharamkan riba" (TQS.Al-Baqarah : 275).

Hutang ini akan dilunasi oleh negara (khilafah) dengan cara memungut pajak dari kaum muslim yang kaya (aghniya).

Dana yang berasal dari pendapatan baitul mal digunakan untuk: Pertama, membayar gaji semua pihak yang terkait langsung dengan pelayanan pendidikan, seperti guru, karyawan dan lain-lain. Di masa Khalifah Umar bin Khattab gaji seorang guru yang mengajar iqra sebesar 15 dinar (1 dinar senilai 4,25 gram emas), jika dijumlahkan dengan nilai emas sekarang (1 gram senilai Rp.1.043.000) mencapai Rp.66.491.250.

Kedua, biaya fasilitas sekolah seperti pembangunan gedung sekolah, laboratorium, asrama, perpustakaan, pengadaan buku panduan dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar. Sehingga pihak sekolah tidak perlu melakukan pungutan liar untuk mencukupi fasilitas sekolah.

Alhasil, hanya dengan sistem Islam negara mampu menjadikan dunia pendidikan berhasil menjadi peradaban yang sangat gemilang. Wallahu a'lam bish shawab.

Baca Juga